Aku baru bisa pergi ke rumah sakit setelah pulang sekolah. Aku meminta Shuu untuk mengantarkanku ke rumah sakit yang kutuju.
Aku tahu... meski aku membenci abang-abangku, selama ini abang-abangku-lah yang membantuku, merawatku setelah orangtuaku bercerai dan menghilang dengan misterius. Meski aku benci mereka, kalau Alfarezi dan Asheer meninggal, aku akan kehilangan lagi. Sebenci apapun aku pada abang-abang kandungku sendiri, mereka tetap saudaraku.
DRAP! DRAP!! Aku berlari di lorong rumah sakit, mencari kamar dimana Asheer dan Alfarezi dirawat. Kata Abyaaz, Alfarezi yang terluka lumayan parah, kalau Asheer tidak terlalu, hanya perlu diobati sedikit. Sedang Alfarezi mengalami luka di kepalanya.
Apa Oom dan Tante juga akan datang menjenguk? Aku sudah lama tidak bertemu dengan mereka.
Aku menemukan nomor kamar yang kucari. Aku mengetok pintu.
Cklek! Pintu terbuka. "Ah, Icha..." raut wajah Abyaaz terlihat lega sekaligus cemas. "Kau datang ke sini dengan siapa?"
"Denganku." Tiba-tiba Shuu muncul.
Astagaaa!! Padahal aku sudah bilang, jangan ikuti aku. Cukup mengantarkanku saja!
Abyaaz mendengus. Membuka pintu lebih lebar. Aku melangkah masuk, juga Shuu.
"Rezi... eh, Bang Rezi, enggak apa-apa?" Aku bertanya pelan.
"Dia sudah sadar tadi, tapi tidur lagi."
Mataku terarah ke Alfarezi yang terbaring di atas kasur pasien, kepalanya dibalut perban. Tertidur dengan dengkuran halus. Aku melirik Amaar dan Asheer yang tertidur di sofa. Aku melirik ke kanan kiri, "Tadi Oom sama Tante datang ke sini?"
Abyaaz mengangkat bahu. "Iya dong, kan mereka harus ngurus apalah itu namanya." Lalu dia melirik ke arah Shuu, tajam, "terus, kau."
Shuu tersenyum santai, mengangkat tangannya. "Owh-owh, apa ini~"
"Tidak ada yang mengizinkanmu masuk."
"Biarkan saja, Bang." Aku duduk di sebelah Alfarezi.
"Dengarkan adikmu, -Satsek."
"Apa maksudmu dengan 'Satsek' hah?"
"Bangs*t dan breng*ek."
"Diam kalian berdua. Berisik tahu." Aku melotot. Aku menatap Abyaaz, "Bang Rezi enggak mengalami patah tulang kan?"
Abyaaz menggeleng. "Enggak. Untungnya enggak," dia duduk di sebelahku. "Kau tidak lapar? Belum ada makan kan?"
"Belum."
"Oke, aku belikan makan dulu ya, tunggu di sin--"
Tangan kananku menahan tangan Abyaaz. Dan tangan kiriku terulur ke depan, "Aku saja yang belikan. Bareng Shuu."
Raut wajah Abyaaz terlihat keberatan. Hendak menyergah, tapi aku sudah berjalan melewatinya. "Bang Abyaaz lagi capek, jadinya aku saja yang beli makan."
Abyaaz melongo.
WAAH! Beneran nih, si Icha khawatirin aku?
Plak!! Shuu menampar bahunya. Membuat Abyaaz tersadar, dia menoleh. Makin melongo ketika Shuu melewatinya. Ada apa dengan cunguk satu itu? Main tampar-tampar saja.
****
"Jadi, kau mau beli makan apa?" Shuu bertanya, melangkah cepat di depanku. Kami baru saja keluar dari bangunan rumah sakit itu, dan aku baru sadar, ini sudah mau malam. Langit mulai gelap.
"Entah. Lihat-lihat saja dulu, di ujung seberang sana. Aku mencium bau sate." Aku berlari kecil di belakangnya, Shuu jalannya cepat banget sih. Wajar sih, kakinya panjang macam leher jerapah (hanya mengadi-ngadi).
"Ayo, nyebrang." Shuu memasukkan tangan ke saku.
"Eh? Eeeeh, tungguin dong," tanganku mencengkram lengannya.
"Kenapa? Nyebrang sendiri dong."
Aku menginjak kakinya. Aku trauma menyebrangi jalan, setiap menyebrang, bayangan detik-detik truk menabrak kakak perempuanku selalu terbayang. Aku takut, tapi tentu saja aku tetap gengsi untuk bilang takut pada Shuu si cunguk ini.
"Aku enggak pandai nyebrang," aku mendengus. "Jalan cepat ah! Nanti kutendang pantat kau."
"Galaknya nih budak."
"Cepat, mumpung sepi nih!!"
Shuu menyengir. "Oke, Sir."
****
KAMU SEDANG MEMBACA
My Annoying Brothers
Teen FictionEmpat kakak laki-laki tampan, menyebalkan bin gregetan ini selalu membuat adik perempuannya kerepotan karena ke-posesif-an mereka. Sifatnya yang berbeda-beda, sulit ditebak. Pertengkaran selalu menjadi rutinitas wajib mereka. Pokoknya cerita ini bi...
