Bab 83

19 6 1
                                        

Tes. Satu. Dua. Tiga. Jan lupa vote dulu ya, guys. Awowowkwk *tawa villain.

. . ./ _ _ _ / . . .

**** 

"Jadi, setelah kejadian itu, mama-mu sakit-sakitan, dan yah, kamu tahu lah, mama-mu itu kalau sakit bukannya mau istirahat, malah jalan jalan. Nah, jadi mama-mu pergi dengan kondisi yang amat buruk, dan saat menyebrang, ada mobil yang menabraknya. Kepalanya terbentur. Dan seperti yang Adek liat, mama-mu hilang ingatan."

Aku terdiam. Menunduk dalam dalam. 

Mama? Hilang ingatan? 

"Tante dengar, Adek membenci abangmu karena mereka yang membuat Aleena meninggal secara tidak langsung. Jangan pernah membenci mereka, Dek, mereka abang yang baik. Mereka berkelahi dengan geng yang menabrak Aleena, karena ada alasan. Jangan benci orang baik dan malah menyayangi orang yang jahat, yaitu ayahmu. Si baek-ji-ngan sialan."

Aku menelan ludah.  Mengepalkan tinju. Menggigit bibir. "Abang..."

Jadi, selama ini, lelaki yang selalu kurindukan, ayahku, sebenarnya adalah sosok yang secara tak langsung menyebabkan kematian Kakak? Jadi yang membuat Kakak terluka, karena dia? Mama, Mama hilang ingatan. Abang-abangku... pikiranku kacau. 

"U-uhh..." Aku mengusap kasar mataku. Mengerjap-erjapkan mata, agar tidak menangis. 

Tangan kiri Amira mengusap punggung keponakannya, dan tangan kanannya menepuk pundak. "Maaf karena Tante baru bilang sekarang."

Aku sudah menangis. Aku sungguh menyesal, mengingat selama ini membenci orang yang salah. Mengingat perlakuanku kepada abang-abangku. Perasaanku bercampur aduk. Marah, sedih, menyesal, semua menjadi satu. Mengapa ayahku melakukan semua itu? Sosok yang selama ini aku kucari ke-mana-mana, sosok yang selama ini kuanggap lelaki paling keren dan paling kusayangi, ternyata adalah sosok yang amat jahat.

"Menangislah, luapkan semuanya, Dek," Amira memeluk tubuh ponakannya. 

(author: *minum kopi sambil nyanyi, "kumenangiiiis~"

***

"Yang sabar ya, Cha. Kamu sendirian, eh maksudnya..." Ika mengusap tengkuk.

"Better you diam deh, Ka. Gak guna juga words-mu."

"Kamu juga ya, bisa gak, jan campur campur inggris gitu?"

"Serah, namanya belajar."

"Diam kalian berdua," ucap Theo.

Ika mendongak, melotot. "Apa-apaa--"

"Shut up, Ika. Ketua sedang tidak ingin diganggu oleh perdebatan kalian," ucap Henry, memandang tajam. "You two gotta get the hell outta here."

Aku memandang pemandangan malam dengan tatapan kosong, hembusan angin terasa amat dingin, tapi aku tidak peduli. Balkon apartemen yang kami tempati untuk sementara, terasa sempit karena mereka. Kalian pasti tahu siapa yang kumaksud mereka. Meski aku sudah memesan, tepatnya Theo yang bantu pesankan sewa apartemen, yang termasuk besar dan luas sekali, balkonnya tetap saja terasa sempit.

"DIh, bahasa alien," ucap Lyn, melirik Henry.

"What did you say?? Alien's language?!"

"Bro, sabar, Bro. Jangan buat Ketua makin kesal, terus kita semua dijadikan pelampiasan," ucap Kenzi.

Aku diam saja saat disindir begitu. MUngkin Kenzi tidak bermaksud menyindir, tapi ya, kurasa itu sindiran.

"OKAY OKAY, ALRIGHT!! I'll go from there!" ucap Ika.

"Bukan 'there',  bego! 'Here'!"

"Buanyak buacot kau, dasar toa masjid!"

"NYEH, DASAR KODOK TERMOS!"

"BYANGKEY LUWH!"

Akmal mengusap wajahnya, langsung menarik kedua anak perempuan itu keluar dari balkon. Lalu memberi isyarat kepada teman-temannya untuk menyusulnya.

Jadilah aku sendirian di balkon.

Tapi tak lama, aku sudah keluar dari balkon. Masih dengan mata basah juga pipi, aku menyambar jaket, hendak meninggalkan apartemen, mau pergi kemanalah. Tak tahu.

"Mau kemana?" tanya Theo.

"Jalan."

"Bukan mau ngapain, mau ke mana?"

"Jalan-jalan," ucapku datar. Lalu tanpa banyak bacot, membuka pintu apartemen, dan membanting hingga tertutup.

****

(AUTHOR'S POV)

"Rindu Adek..." Abyaaz menopang dagunya ke atas meja, "pengen cubit, pengen gigit pipinya. Pengen peluk..."

"Sama. Gegara Reji nih, malah ngusir Adek," ucap Amaar, memandang langit-langit kamar Icha. Ya, mereka lagi berkumpul di kamar si bungsu. Sejak Aisha 'diusir' dari rumah oleh Alfarezi, mereka lebih sering kumpul di kamar itu.

Alfarezi diam saja disalahkan begitu oleh Amaar. Dia memang salah, tapi saat itu, dia sedang dalam kondisi buruk, emosinya sulit dikendalikan, entah karena apa.

"Kalau ada yang apa-apain si Icha, kujadikan dendeng balado," ucap Asheer. "Rez, gimana nih, masa kita pisahan terus sama Icha? Emang tahan?"

Alfarezi diam saja.

"Aish kuso, diem mulu, emang pantes dikasih julukan Kulkas," gerutu Asheer. "Rez, lu gak khawatir gitu sama Icha?"

"Gak. Dia aman di rumah Lyn, lagipula dia senang di sana," balas Alfarezi. Dia mengganti halaman buku yang dia baca.

"Rez, lu gak tahu? Icha enggak ada di rumah Lyn, dia pergi," sergah Amaar, "gua denger pas gak sengaja lewat meja mereka pas di kantin."

Alfarezi mematung. Dia menyentakkan kepalanya dengan cepat, memandang Amaar dengan tatapan tajam. "Kenapa tidak kau beritahu dari awal?"

Tepat dengan berderingnya handphone Alfarezi. Dia meraih handphonennya di meja, memandang nama kontak yang meneleponnya.

[Adek Aisha]

Alfarezi mengangkat teleponnya. "Icha?"

Tapi yang menjawab telepon bukan adiknya, melainkan suara Shuu.

"Aisha kecelakaan."

****

Gimana, seru gakk? Kaget gak? Enggak? Yaudah, memang author tidak berbakat menulis. Hanya berbakat memancing amarah ._. .

Maap jarang uplod, mwehahaha.

Terus mangap, gak ada sticker ikan muach favoritku, karena gak sengaja kebuang T-T. Tapi gak apa, nanti dicari lagi \(^0^)/.

Ok, sampe sini aja. Yang mau bertanya, silakan komen. Karena author hobi baca komen, malah berharap ada yang komen, yang komenannya ngelantur, gapapa kok ^>^. Yaudah, author mau rebahan, bye.

Muach.

****


My Annoying BrothersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang