BRUUK! DUAGH!
"HEH! Jalan pakai mata woy!" Aku berseru mengkal. Otomatis mengecilkan suaraku begitu sadar sudah ada beberapa orang yang memandangku.
"Jalan tuh pakai kaki, tahu. Terus, kamu yang tabrak aku, tahu." Suara datar dan familiar itu membuatku mendongak. Memandang lelaki yang menilik dari wajahnya, seusia Amuro.
"NOAH?!"
****
Alfarezi berbaring di sofa, di ruang keluarga. Sedangkan saudara-saudara kembarnya pada asyik dengan kesibukan masing-masing di lantai. Ada yang sibuk main catur, yang ini jelas adalah Abyaaz dan Amaar, ditemani kucing-kucingnya. Lalu Asheer yang asyik scroll-scroll layar handphone.
Perasaannya aneh. Dia merasa ada sesuatu yang terjadi pada adiknya, si Icha-chacha-merica.
"Hawa-hawa Icha ketempelan jin lalat hitam."
Abyaaz menoleh, "Pantesan, daritadi aku juga merasa aneh."
"Harus diawasi itu anak." Amaar mengomentar. "Kalau pergi, langsung asal nyelonong saja. Tidak pakai izin-izin lagi."
"Yep, biasalah, Icha namanya."
"Aku heran sama kelakukan spesies yang satu itu. Masa, pulang bareng sama kita saja enggak mau." Asheer berujar, sambil terus mengetuk layar handphone. "Terus, seenaknya saja mengatai kita 'kunyuk'."
"Terus, terus... si Icha itu, kenapa dia kayak enggak mau orang lain tahu bahwa kita abangnya ya?"
"Malu kali, punya abang kayak elu," cetus Abyaaz asal.
Tiba-tiba saja, telinganya sudah dijewer oleh Alfarezi. "Kau juga abangnya tahu."
"Iya, iya, jangan jewer-jewer dong, Bang. Nanti telingaku bisa besar sebelah," dengus Abyaaz kesal.
"Kalau begitu, kujewer lagi sebelahnya. Biar sama besarnya." Alfarezi berkata datar, lalu kembali fokus pada buku di depannya.
"Heh, kalau dijewer terus, telingaku bisa sebesar telinga monyet."
"Lha, bagus dong. Jadi bisa bergabung dengan spesies monyet lainnya,'' celetuk Amaar. "Kamu kan enggak bisa bergabung dengan monyet lainnya, karena telingamu doang tuh, kurang normal untuk ukuran telinga monyet."
BUK! Tinju Abyaaz telak mengenai bahu Amaar.
Alfarezi membalik halaman buku. Entah kenapa, sedari tadi dia terus memikirkan adiknya. Tidak fokus membaca buku. Mata doang terarah pada halaman buku, tapi pikirannya melayang ke anak perempuan itu, Aisha Athalia Aldebaran. Dia khawatir adiknya akan pergi juga. Mendadak, dia tak sengaja mengingat insiden dua tahun lalu.
Dua tubuh anak perempuan yang sangat dia sayangi, dia lindungi setengah mati, tergeletak di jalanan. Bersimbah darah. Raungan ketakutan Icha yang juga salah satu korban tertabrak mobil, menangisi kematian anak perempuan itu.
Alfarezi menutup wajahnya dengan buku. Mengusir bayangan yang sempat melintas itu. Berusaha menenangkan diri. Tenang, Zi, adikmu tuh, bukan anak perempuan biasa. Meski enggak punya kemampuan bela diri, tapi dia punya tenaga yang kuat dan tangguh. Galak lagi.
Lima menit...
"Dahlah! Hei, Abyaaz, Amaar, Asheer! Pakai jaket kalian. Kita cari Icha-chacha-merica."
Tanpa banyak cincong, ketiga adik kembarnya menyambar jaket di kamar masing-masing. Mengenakannya sambil melangkah keluar dari rumah. Sedangkan Alfarezi menyempatkan diri untuk mengunci pintu, soalnya saudara-saudara kembarnya pada tidak ada yang berinisiatif untuk mengunci pintu. Memang, sodara yang sangat tega. Memang pantas harga diri mereka dijual 25 ribu, pikir Alfarezi kesal.
"Naik mobil atau naik motor, Bang?"
"Naik motor saja. Malas aku mengeluarkan mobil dari garasi." Alfarezi berkata singkat dan datar, seperti biasa. Kalau dia berbicara dengan nada riang, bakal bingung semua orang.
Kalian ada yang mau nanya? Motor mereka itu dari mana? Dari wali mereka. Bukan ayah atau ibu kandung mereka, tapi orang lain. Meski tidak ada yang mengurus mereka di rumah, tapi mereka masih punya wali yang supertajir kok. Yaitu, Paman dan Bibi mereka sendiri, rumah mereka tidak terlalu jauh dari rumah kelima saudara itu. Dan, jangan tanya soal, mengapa Paman dan Bibi tidak tinggal bareng saja dengan kelima saudara itu? Yah, karena mereka punya rumah sendiri, gess. Ngapain rumah sendiri disia-siain begitu saja. Meski tajir banget, rumah tetap berharga tahu. Apalagi rumah itu juga ada kenangannya.
Ada tiga motor, Abyaaz membonceng Amaar. Asheer dan Alfarezi naik motor sendirian. Beberapa detik...
NGEEEEENGG! WUUUSH! Si Alfarezi sudah melaju duluan.
Sedangkan tiga saudara kembarnya masih melongo di tempat. "Heh?"
"WOI, REZI! TUNGGU DONG!" Asheer langsung mengegas motornya. Menyusul Alfarezi.
"Aduh! Waduh! Bentar, Yaaz! Aku kebelet pipis pula!" Amaar melompat turun dari motor.
NGEEEEENG! Motor Abyaaz sudah melaju. Sesaat Amaar hanya memandang kepergiannya, lalu akhirnya bereaksi.
"WOOOOIIII!! ABYAAAAAAAAZ!!! Brengsek!"
(Perhatian: Tidak ada yang tertinggal malam itu. Soalnya Abyaaz pas di tengah jalan, baru sadar Amaar enggak ada. Jadi pulang lagi untuk menjemput Amaar)
****
"Heh! Kamu, kamu, benaran Noah?!" Aku berseru pelan, sambil menarik-narik cowok itu ke cafe. Agar tidak banyak yang menonton.
Aku memaksanya duduk di salah satu bangku, dan aku duduk di depannya. Sambil menatapnya tajam dan awas.
"Kalau aku bilang iya, terus, kamu itu siapa? Stalker heh? Kok kau bisa tahu namaku?" Cowok itu berkata judes.
Aku mengusap dagu, memandangnya dingin. "Kau lupa aku rupanya."
Cowok yang kuduga bernama Noah itu, hanya menyeringai tenang. "Maaf ya, tapi Anda siapa ya?"
Aku mendengus. Aku menatapnya dengan sorotan menusuk. Lalu merogoh-rogoh saku jaketku, dan mengeluarkan pisau lipat. Aku membukanya, dan pisau itu berkilat-kilat.
"Wait! Wait! Kau mau bunuh aku hanya karena aku lupa siapa kamu?" Dia mengangkat tangannya, "Kupanggil polisi nih."
Aku mengangkat tanganku. Dengan wajah datar dan tidak bersalah, aku menampar pipinya lumayan kuat. Semoga enggak ada yang melihat kelakuanku ini. Lalu aku tersenyum lebar, "Masih ingat tamparanku?"
Dia terpaku sejenak, mungkin dia takut dengan senyumanku yang tidak terkesan ramah dan bersahabat. Biar, aku memang sengaja membuatnya takut, sengaja membuat senyumku jadi seperti senyum kanibal atau psikopat. Tapi tentu saja aku bukan psikopat atau kanibal, cuma senyumku kadang-kadang memang ala-ala psikopat begitu.
"OOOOOOOOH!!"
~Bersambung!
Ayo dong, divoted, Kawan-kawan :). Kalau di cerita ini ada kesalahan, boleh kok dikritik. Ceritanya memang rada-rada aneh sih, menurutku. Nulisnya asal saja, semua yang kupikirkan, mengalir saja. Kuketik. Jadi, kalau ada salah, jangan sungkan ya!
Satu pertanyaan: Karakter siapa yang paling kalian suka di cerita ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
My Annoying Brothers
Teen FictionEmpat kakak laki-laki tampan, menyebalkan bin gregetan ini selalu membuat adik perempuannya kerepotan karena ke-posesif-an mereka. Sifatnya yang berbeda-beda, sulit ditebak. Pertengkaran selalu menjadi rutinitas wajib mereka. Pokoknya cerita ini bi...
