Bab 49

44 9 11
                                        

"ICHAA!!"

BRUK! Kepalaku dengan cukup keras, menghantam tanah. Terasa perih. Tapi, syukur, aku mendarat di rumput-rumput. Taman belakang rumah.

Meski begitu, kepalaku tetap sakit. Kupandang Ethan yang juga balas memandangku dengan tatapan penuh kemenangan. Dia mengeluarkan kain dari sakunya, yang aku yakin itu kain itu sudah dipengaruhi bius. Aku harus melawan sesegera mungkin, atau aku bakal dibawa Ethan ke bosnya. DUAK! Aku menyundul kepala Ethan dengan sangar keras. "Minggir lo!"

Ethan yang tidak menyangka kepalanya bakal disundul sekeras itu, sontak melepas pegangannya. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, langsung pergi menjauh. 

Petir menyambar, dengan suara yang cukup keras.

Sudut mataku melihat sesuatu yang berkilauan ditimpa cahaya bulan. Aku menyambarnya, itu adalah cutter yang tadi dilempar Ethan. Nah, kalau begini, aku bisa mengimbangi Ethan. Sudah dibilang kan, aku tidak pandai tendang, tinju, apalah itu, aku hanya pandai bermain pisau, atau benda tajam lain.

Aku menyeringai, mengabaikan rasa sakit di kepalaku. Seluruh tubuhku basah kuyup karena hujan yang semakin deras. 

Ethan terkekeh, tangannya perlahan membuka maskernya. Sayang sekali aku tidak terlalu melihat wajahnya, karena gelap. Sepertinya nyaris satu kota mati lampu. Aku mengacungkan pisau.

Tangan Ethan bergerak mengeluarkan senjatanya, pisau yang terlihat sangat mengerikan.

"Pisau-nya mantap, Ngab!!" Aku berseru, jadi salfok sejenak. "Beli di mana?"

Ethan mengangkat pisaunya, "Oh, aku beli online. Lupa nama tokonya apa."

"Berapaan tuh?"

"Mahal, Deck. Dompetmu sepi, mana bisa beli ini."

"Oh iya kah, Bang?" Aku melupakan apa yang sebenarnya harus kulakukan saat ini. "Bang, kasih-lah linknya, Bang. Keren."

Ethan mengangkat senjatanya, baru tersadar. "Woi! KITA KAN LAGI BERTARUNG!"

"Oh iya," aku mengangkat bahu. Mengangkat pisauku. "Nanti kalau aku menang, pisaunya untuk aku ya?"

"Kalau kau kalah, kau harus ikut aku."

"Ogah. Orang gila mana sih yang bersedia untuk dijual?" jawabku santai. "Ayo, kita bertarung. Yang serius, jangan cuma pemanasan, soalnya itu terlalu buruk."

"Oh ya? Aku tahu trik menjebakku di kamarmu tadi itu memang bagus. Tapi, kau juga kewalahan bukan?"

"Bacot lu!! MAJU LU! Banyak cincong pula! Takut lu?" Aku mulai tak sabaran. 

"Kau duluan."

"MAJU LU, KAMPRET!" Aku mengamuk, "LU TAKUT!?!"

Ethan naik darah karena aku maki-maki begitu. Dia mengangkat pisaunya, "Habis kau, Dek, hari ini!"

Bagus. Aku sengaja memancing amarahnya. Kata abangku, jika sedang dalam pertarungan, kita harus pandai mengontrol emosi, karena emosi bisa memengaruhi kemampuan kita dalam pertarungan. Misalnya, membuat gerakan yang tidak perlu, terlalu terburu-buru, hingga gerakan kita bisa dengan mudah ditebak lawan. Namun, jika kita bisa mengontrol emosi dengan baik, kita dapat mengubah energi marah menjadi energi positif, fokus dan kekuatan tambahan. Meski aku ingin orangnya memang gengsian, tapi aku mengakui, kemampuan abang-abangku dalam bela diri memang hebat sekali, beruntung aku diajari sedikit oleh mereka.

Dan, kulihat dari sifat-sifat Ethan nih, kayaknya dia tidak bisa mengontrol emosi. Aku enggak tahu kenapa aku berpikir demikian, hanya menuruti insting, Kawan. Terkadang, insting itu 'mengatakan' hal yang benar.

TRANG! Aku berhasil menahan serangan Ethan. Kaki Ethan bergerak hendak menendang kakiku. Aku menahan kakinya dengan kakiku, lalu buk! Sikuku telak mengenai perut Ethan, membuatnya mundur selangkah. Aku melesat maju, mengangkat cutterku. Aku tidak berniat untuk membunuh Ethan, karena nanti malah masuk penjara. Minimal, aku bisa buat Ethan pingsan.

TRANG! Sekali lagi aku berhasil menangkis serangan Ethan, tapi tadi nyaris saja kena. Beruntung aku punya refleks yang cukup cepat. Ethan berkali-kali mencoba untuk menendang kakiku, tapi aku selalu berhasil menghindar, dan justru perutnya yang berkali-kali kutendang.

BUK! Sialnya, dia berhasil meninju perutku. Dengan cukup kuat. Aku terpelanting dua langkah, cutterku nyaris terlempar, tapi untung aku sempat menyambarnya lagi. Bersamaan saat Ethan menyerangku lagi dengan pisaunya yang epic.

Ethan menekankan pisaunya dengan keras. Aku menghindari dengan refleks cepat, kemudian memanfaatkan kesempatan untuk menyerang. Aku menubruk kakinya, membuatnya terjatuh. Kepalanya menghantam tanah. Saat itu, aku melihat kesempatan untuk mengakhiri pertarungan. Aku naik ke atas tubuh Ethan yang masih berbaring telentang, dan kulayangkan tinjuku ke wajahnya. 

Sudah dibilang. Tenagaku tuh tidak bisa diremehkan. Meski tak berotot, tapi aku tetap kuat, Kawan!

Aku menduduki Ethan, dan langsung menghajar wajahnya. BAK! BUK! BAK BUK! Ethan ini agak goblok ya? Sudah tahu kemampuannya tidak sebanding denganku, kenapa pula berani mau menculik aku, si anak monster dingin dan kejam ini?

Ethan mengangkat pisaunya dengan susah payah.

Aku meninju wajahnya lagi, sampai dia kesakitan, dan pisaunya terlepas dari tangannya. 

"Woi, Ethan setan! Menyerahlah, atau kubuat wajahmu jadi pisang bonyok!"

"S--sialan..."

"Apa? Lu bilang apa? Gua? Sialan?" Aku mengangkat tinjuku lagi, BUK! "Makan nih!"

Darah segar mengalir dari hidung Ethan.

Air menetes dari ujung rambutku. Aku tersenyum psikopat, "Semoga nyawamu belum melayang setelah memakan ini."

"Makan ap---"

BUK!!! Aku meninjunya lagi, dengan sangat keras. Hingga kepala Ethan terkulai lemas. Dia pingsan. Aku berdiri, memungut pisau Ethan, sekarang pisau ini milikku. Aku berseru kencang, "WOI! EMPAT KUNYUK KEMBARR!! Ethannya udah di-lumpuhkan nih! Terserah mau kalian apakan. Aku sudah puas."

Sambil bersiul, aku memasuki rumah. "WOI!!"

"Eh? Kau memanggil kami, Cha?" Seseorang menepuk bahuku.

Aku tersentak sedikit, menoleh. "HEH, ASHEER JELEK! Kagetin aja. Sejak kapan kalian di sana?"

"Tadi sih kami mau bantu, tapi kayaknya Ethan sudah kewalahan melawanmu, jadi daripada Ethan tewas, kami biarkan saja kamu menghajar Ethan," sahut Abyaaz.

"Betul, betul, betul," Amaar mengiyakan, dengan nada Ipin. Dia mengangguk-angguk-kan kepala. 

"Bagus. Tadi, gua khawatir, lu pada bakal ganggu pertarungan gua," ucapku datar. Aku melangkah memasuki rumah, sembari melirik jam dinding, "sudah jam 4. Mending langsung shalat terus mandi," gumamku. 

Alfarezi menahan tanganku. "Kepalamu terluka, Cha."

"Aish, kagak sakit. Bisa ngobatin sendiri, kok," ucapku datar. "Jangan ikuti aku, nanti kucap kalian monyet."

"Kalau kami monyet, berarti kamu monyet juga dong," balas Asheer.

"Diem, Bangke. Iyain aja," aku berseru, menaiki tangga, menuju kamarku yang berantakan.

****

Yap! Akhirnya bisa up lagi kan? Mood-ku lagi bagus nih. Aku juga lagi agak gabut, enggak ada ngapa-ngapain, jadilah aku nulis aja. Mengingat aku ini juga jarang up lagi, lebih baik aku nulis aja ya, kan? Ada yang nungguin (pede aja dulu)? 

Jangan lupa vote dan komennya. 

Salam hangat dari Ellaria (Author)(๑ᵔ⤙ᵔ๑)!

Tidak ada bonus gambar, lagi mager.




My Annoying BrothersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang