Bab 53

31 9 0
                                        

"Makannya sedikit sekali, Cha?" Asheer bertanya, "ada orang yang kamu taksir?" ucapnya hati-hati.

Aku mendelik, "Enggak. Itu tidak akan terjadi di dunia ini."

"Bagus," komentar Abyaaz dan Amaar, mereka mengangguk-angguk. "Kau tetap sama kami saja."

Aku meletakkan piring kotor ke wastafel cuci piring, lalu mencucinya dengan cepat, kemudian aku hendak pergi meninggalkan meja makan tanpa banyak bicara. 

"Icha, ada apa? Jangan melamun, nanti kemasukan setan," ucap Shuu.

Entah kenapa, ada perasaan aneh di dalam diriku yang membuatku tidak menjawab pertanyaannya, dan langsung berlari menaiki tangga, pergi memasuki kamarku. BRAK! Jangan lupakan bantingan pintu, itu tidak boleh dilewati. Aku duduk di pinggir kasur.

Aku mengepalkan tanganku dengan sangat kuat, tanpa kusadari. Sedari tadi ada perasaan aneh padaku, aku tidak tahu sama sekali, dan aku sangat ingin mengetahuinya. Perasaan marahkah? Takut? Sedih? Atau campuran dari semua itu? Tak kusangka, aku juga akan mengalami hal yang pernah dialami Aleena.

Stalker. 

Isi gallery Shuu membuat jantungku serasa copot. Semuanya penuh foto-fotoku. Aku belum melihat keseluruhannya, tapi aku yakin, isi gallerynya itu fotoku semua. Padahal seingatku, aku tidak pernah posting fotoku ke sosmed. 

Di gallery itu, ada foto aku sedang makan di kantin, aku pulang jalan kaki sendiri, foto aku sedang belajar MTK, foto aku sedang memanjat dinding untuk bolos, foto aku sedang bermain sepak bola, dan banyak lagi. 

Tak kusangka, Shuu, temanku sejak aku SMP, satu-satunya orang yang bisa membuatku bangkit lagi dari kedepresianku dulu setelah kematian Aleena, rupanya orang yang melakukan  hal jahat dan mengerikan seperti itu. 

Aku marah, geram. Tentu saja. Aku selalu benci stalker, karena Aleena pernah distalker seseorang yang terobsesi parah dengannya, dan mereka bersahabat erat sekali, sejak Aleena tahu bahwa sahabatnya itu nge-stalker dirinya, persahabatan mereka merenggang, Aleena juga sempat demam. Abang-abangku langsung menghajar si stalker itu, sampai dia minta ampun.

Pokoknya, aku benci orang yang membuat Aleena sedih. 

Tak kusangka, aku mengalaminya sekarang.

Ini tidak bisa dibiarkan. Shuu harus diberi pelajaran, dengan tanganku sendiri.

****

"Icha!! Bangun, Cha. Shalat subuh," pintu kamarku diketok.

Aku meringis. Sejak tadi malam, tiba-tiba saja seluruh tubuhku panas dingin, juga sakit-sakit. Apakah aku demam? Aku ini termasuk cewek yang jaraaang banget demam, tapi sekalinya demam, bisa sampai berhari-hari dan langsung parah banget. Aku beranjak duduk dengan perlahan.

"Icha? Udah bangun belum? Ayo, shalat subuh," Asheer berseru. "Yang lain udah pada shalat, tinggal kamu aja yang belum." 

Pintu kamarku dibuka sedikit, Asheer melongokkan kepalanya. Memandangku yang duduk di pinggir kasur.

"Ayo, bangun. Nanti telat berangkat sekolah loh."

"Iya," ucapku singkat. 

Asheer mengangkat sebelah alisnya. "Lho? Tumben enggak ada tambahan omelannya? Biasanya udah mengamuk kayak gorilla," tanyanya, dia mendekat, "sakit ya?"

"Enggak," jawabku datar, beranjak berdiri. "Permisi, -Nyet, gua mau lewat."

Langkahku terhuyung-huyung. Tepat saat sudah di dekat pintu kamar, tiba-tiba pandanganku seperti gelap sejenak, aku nyaris jatuh. Aisssh, sudahlah, pagi-pagi gini, nasibku mencium lantai. Tapi, sebelum aku jatuh, Asheer berhasil menyambarku, sebelum aku terjerembab. 

My Annoying BrothersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang