Empat kakak laki-laki tampan, menyebalkan bin gregetan ini selalu membuat adik perempuannya kerepotan karena ke-posesif-an mereka. Sifatnya yang berbeda-beda, sulit ditebak. Pertengkaran selalu menjadi rutinitas wajib mereka.
Pokoknya cerita ini bi...
Test. Satu dua tiga. Vote Kawandku tercintyah. Gamau? Yaudah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Di suatu malam...
CTAS!! CTASS!!!
"Apa lagi yang kau perbuat tadi hah di sekolah?! BERANTEM LAGI?!!" Papa mencambuki kelima anak kembar-nya tanpa ampun. Tidak peduli bahwa yang dia pukuli bukan hanya cowok, tapi juga anak ceweknya.
Mereka disuruh berdiri diam di gudang, lalu dicambuki oleh ayah mereka.
"MEREKA YANG MULAI PAP--" Aleena menjerit kesakitan ketika tali pinggang itu mendarat ke punggungnya. Dia tak tahan lagi, dia jatuh terduduk. Menahan tangisnya mati-matian.
"Aleena..." desis Alfarezi. Dia memandang Papa dengan tatapan benci.
Mari kita lihat kenapa mereka dihukum seperti ini.
Aleena berjalan seorang diri di gang. Dia tadinya mau pulang bareng sodara kembarnya, tapi mereka ada eskul beladiri.
"Heh, cewek." Tiba-tiba terdengar suara cempreng yang membuat Aleena menghentikan langkahnya.
Tch. Aleena menoleh, memandang preman yang memanggilnya tadi, dengan tatapan dingin. "Apa?"
"Serahkan dompet."
Aleena merogoh sakunya, mengeluarkan dompet, tapi sebelum diberikan ke preman itu, dia mengeluarkan terlebih dahulu benda-benda penting di dalamnya, juga mengambil uang di dalamnya, lalu memberikan dompet yang sekarang sudah kosong ke preman itu.
"Hei, bocah sialan, gua minta duit bangs*t!"
"Lah, elu tadi mintanya dompet. Ya itu udah gua kasih." Aleena mengangkat bahu santai.
Tiba-tiba ada seseorang yang mencengkram kedua tangannya, lalu menahan kedua kaki Aleena. Aleena menjerit kaget.
"Hai, Manis... main yuk sama Om?"
ANJRIT!!! Gua mau digrepe-grepe nih ceritanya?!
Tangan om om itu sudah bergerak liar. Aleena memberontak. Sial, gua lupa bawa pisau lagi.
Tapi, tentu saja Aleena tidak akan pasrah. Dia siap-siap menyikut perut om om itu dengan sikunya. Namun, sebelum dia melakukannya...
TUUNGG!!
Suara tongkat baseball yang beradu dengan kepala om om 2P alias pedo peot, terdengar amat renyah. Aleena menyeringai, dia tahu siapa itu.
Alfarezi memandang pria yang sekarang sudah tergeletak di atas tanah. Tentu saja pingsan. Amaar tiba-tiba muncul, lalu tanpa ampun DUGGH!! Menendang kelamin pria itu. Disusul tawa ngakak Abyaaz dan Asheer.