Bab 86

25 4 0
                                        

Test. Ichi. Ni. San. Don't forget to vote my story \^0^/ :).

****

Jam 2.30 PM, sepulang sekolah.

Shuu mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Sebetulnya agak berbahaya, apalagi jalan agak ramai... um, ralat, sangat ramai. Tapi karena 'kegeniusan'-nya yang tidak wajar, dia tetap melaju, menyalip sana-sini, bahkan sempat menjumpscare anak SMA yang juga baru pulang sekolah.

Dia harus segera siap-siap. Ya tentu saja karena mau menjenguk crush. Eak, crush gak tuh.

Begitu sampai di rumah, Shuu berlari tergesa-gesa, menaiki tangga. Menuju kamar. Dia menyambar ransel, membuka lemari pakaiannya. Dia berencana menginap di apartemen di dekat rumah sakit di mana Aisha dirawat. Mungkin sampai tiga harian. Besok hari Jum'at, dia 'TERPAKSA' bolos, dan tentu saja, dua hari selanjutnya, libur.

BUK! BUK! Shuu tanpa belas kasih lagi, memasukkan pakaiannya ke dalam tas, karena kurang cukup, dia meninju pakaiannya agar melesak ke dalam. Padahal sebenarnya bisa saja masuk, tapi karena dia itu asal-asalan, jadilah tidak cukup. Shuu mengganti seragamnya dengan kaos bewarna hitam polos, dan celana jeans kargo.

Shuu memakai jaket hitam kesayangannya, lalu menyandang ranselnya yang sudah penuh. Tangannya merogoh saku.

"Dompet aman," ucap Shuu, sambil melihat isi dompetnya, "uang aman. Kartu kereta, aman. Tinggal perg--"

BRUAKH! Pintu terbuka dengan mendadak tepat saat Shuu hendak keluar, alhasil wajahnya kena hantam pintu.

"Zaaaayyyn~" yap, pelakunya Daddy. "Eh?" Dia merunduk, melihat 'anak'nya terkapar di lantai, dengan hidung berdarah. "ASTAGA! KAMU TAURAN LAGI?!!"

Anjenk. Shuu beranjak duduk sambil mengusap-usap hidungnya. Dia meringis.

"Udah Daddy bilang, kalau kamu tauran lag--"

"INI DADDY LAH PELAKUNYA!!" Shuu menyergah sebal, "Liat! IDUNG ZAYN JADI PEOT!!"

Daddy melongo sejenak, lalu detik berikutnya, alih-alih panik, pria itu justru tertawa terbahak-bahak.

Shuu yang sudah kehilangan kesabarannya, meninju lutut Daddy tanpa ampun. BRUK! Daddy jatuh berlutut. Tapi Daddy hanya menyengir, dia mengacak-acak rambut Shuu.

Sambil tersenyum lebar tanpa merasa berdosa, "Maaf ya? Daddy gak sengaja," lalu menyeka darah yang keluar dari hidung Shuu. "Lagian, rapi banget sik, rambutnya juga disisir rapi, biasanya berantakan. Pasti mau ketemu si Chachamericha kan."

Shuu beranjak berdiri, memutar bola mata, menyisir rambutnya lagi dengan jari jemarinya. Dia teringat sesuatu, "Dad, Zayn boleh pergi sampai 3 hari gak?"

"Ha? Untuk?"

Dengan singkat, Shuu menjelaskan. Daddy mengangguk-angguk, dia tersenyum prihatin.

"Semoga Mericha cepat sembuh ya--"

Shuu menginjak kaki Daddy, melotot galak. "Namanya Aisha atau Icha! Bukan MERICHA!"

"Iya, anakku sayang," Daddy terkekeh, lantas merogoh sakunya, mengeluarkan dompetnya yang isinya setebal dosa umat manusia. "Nih," ucapnya sembari meletakkan kartu hitam ke tangan 'anak'-nya.

"Apa nih?" Shuu mendelik.

Cengiran lebar merekah di wajah Daddy, "kartu."

"Dad, ingat umur, Dad. Masa udah tua gini, jahil banget," tukas Shuu kesal, melempar kartu hitam di tangannya, "Ini kartu uno!"

****

Pukul 16.30, di rumah sakit.

Tok. Tok.

Alfarezi yang sedari tadi hanya duduk diam di sebelah kasur di-mana si bungsu terbaring lemah, menoleh. Dia sendirian di ruang itu, saudara-saudara kembarnya lagi pada menjenguk sang ibu, Alyssa.

Dengan langkah panjang, Alfarezi menuju pintu, dan membukanya. Air wajahnya mendingin begitu melihat siapa yang datang.

Shuu memutar bola mata, "lu natap kek pengen makan gua aja, Bang," ucapnya, lalu dia melanjutkan, "gua cuma mau jenguk Icha."

"Kondisinya tetap sama," kata Alfarezi, tidak ada niatan untuk menyingkir dari pintu, atau menyilakan teman sekelas adekknya untuk masuk. "Pulang sana."

"Tcih, tidak mau," Shuu membalas tatapan Alfarezi, menantang.

Alfarezi mengusap wajah, dia memegang kepalanya sambil menghembuskan napas kasar. Saat dia mengangkat wajahnya, tatapannya berubah menajam, lebih dingin daripada sebelumnya.

Shuu mulai merasa sedikit ngeri, tapi dia tetap berdiri tegak. Emang geniusnya kelewatan, bukan cuma bisa mancing ikan, mancing amarah orang paling dingin pun dia bisa.

Mungkin karena lelah, Alfarezi membuka pintu lebih lebar, membiarkan Shuu masuk. Lalu duduk kembali di sebelah adiknya. Jemarinya bergerak menyentuh pipi adiknya, wajahnya tampak sendu.

"Ngab, gak tipis apa tuh pantat duduk mulu?" tanya Shuu, memecah keheningan.

Yang hanya dibalas lirikan tajam.

Shuu geleng-geleng kepala, hendak melangkah mendekati kasur, tapi segera dihalangi Alfarezi. Alfarezi memandangnya dingin, "menjauh 5 langkah dari kasur Icha."

"Elah, Bang, cuma mau liat doang kok," Shuu protes. Hendak maju lagi.

"Maju-lah selangkah, akan kubuat kau menyesal dilahirkan."

Dengan kesal juga sedikit takut, Shuu melangkah mundur. Tapi dia terhenti sebentar, dia menuju sofa di mana dia meletakkan tasnya, lalu mencari-cari sesuatu di dalamnya. Tak lama dia kembali mendekati Alfarezi dengan cengiran lebar, air mukanya macam minta ditendang ke kerak neraka. Shuu menyodorkan kopi kaleng kepada abang pertama crush-nya itu (ciee).

"Mencoba menyogok?" Alfarezi menyipitkan matanya.

"Astoge, Bang, suudzon mulu kerjanya. Cuma mau ngasih dengan tulus kok, enggak nyogok. Latihan jadi adek ipar yang bai--"

Alfarezi yang tadinya sudah meneguk isi kopi, sontak tersedak. Dia melotot, "a-apa?!"

"Santai elah, Bang, reaksinya. Nanti crush-ku yang paling imoet ini jadi makin buruk keadaannya."

"Kau, kau naksir Icha?!"

"Kalau iya, kenapa?" Shuu cengengesan.  Wajahnya berubah masam melihat Alfarezi yang sudah geleng-geleng kepala tidak setuju, lalu menutupi Aisha dari pandangan Shuu dengan sikap protektif. "Elah, Bang, masa suka aja gak boleh?! Jadi semua cowok di dunia ini harus benci ama dia?"

"Ya Allah, tolong jangan jodohkan adekku dengan lelaki di hadapanku ini, Ya Allah," tiba-tiba terdengar suara Amaar.

Rupanya Amaar, Abyaaz dan Asheer sudah kembali, entah apa yang membuat Shuu dan Alfarezi tidak sadar atas kedatangan 3 makhluk berkelakuan penghuni kebun binatang itu. Bahkan ketiga saudara kembar Alfarezi itu sudah berlutut, dan menengadahkan tangan. Berdoa dengan mata terpejam.

"HEH!! APA-APAA--" 

Kalimat Shuu terputus, disebabkan gerakan di ranjang yang mereka kelilingi. Aisha, gadis itu akhirnya membuka matanya, dengan perlahan. Jari jemarinya bergerak pelan. Deru napasnya mengeras.

"ADEK?!!" Asheer, Abyaaz, dan Amaar melompat mendekat, terlihat jelas dari mata mereka, mereka bahagia adeknya sudah siuman, setelah beberapa hari tidak sadar. "Adek! Ya Allah, DEK! ABANG KANGEN TAUK!"

"A-abang..."

Detik berikutnya, Alfarezi membeku di tempat karena adek bungsunya tiba-tiba memeluknya dengan sangat erat. 

"Ma-maaf, maafin Adek..." dan pecahlah tangis Aisha.

(*Abyaaz, Amaar, dan Asheer hanya bisa menangis disudut karena yang dipeluk cuma Alfarezi. Ehem, author paham, jadi nyamuk itu gak enak)

****

YEEP!! SORRY, KARENA JARANG UP!! Biasa, sibuk. Sibuk tidur. E-eeeh, gak lah. Bukan sibuk sih, lebih ke malez aja, rasanya mau raih laptop tuhh, malez banget. Tapi pas malez, malah banyak ide numpuk, eh pas mau nulis, ilank. Udah kek kentut, datang di waktu yang tidak tepat.

Btw, vote dong. Kalau gak....

Author nanged.

(gak peduli :p)

OK, cya!!! TATAAH, BYE-BYE, JAA NEE, ADIOS!!


My Annoying BrothersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang