"Kalau mau ketawa, ketawa aja, Mur, nanti sakit perut," ucapku judes, menatap Amuro yang menutup wajahnya. Jelas-jelas dia sedang menahan tawa.
"Heh, kalian semua mau tahu rasanya muka kena sepatu bau sikil? Mana kena bagian bawahnya. Jangan-jangan bekas taiq," aku menggerutu. Aku sudah selesai cuci muka dari tadi, dan sekarang kami semua ada di dalam mobil Noah. Aku minta diantarkan Noah ke rumah, karena aku tidak mau pulang bareng abang-abangku.
Shuu menyengir, "Siapa suruh gantung sepatuku di atas. Kena karmanya, Bosque!"
"Diem lu, kalau enggak gua gelitik ginjalmu pakai obeng."
"Baah, sadis, Banh."
"Woiyadong," aku mendengus. "Kapan-kapan, lihat aja, kudoain, mukamu yang kena sepatu!"
"Katamu, doa itu bisa balik ke diri sendiri, nanti mukamu sendiri lho yang kena sepatu," balas Shuu.
BUK! Aku menyikut perutnya tanpa ampun, sampai Shuu tersedak. Shuu melotot.
Noah tertawa terbahak-bahak, "Gila banget tadi, Cha. Nanti sampai rumah langsung mandi aja. Nanti mukanya jerawatan lho."
Aku hendak membalas, tapi terhenti tepat saat melihat seseorang yang kukenal yang sedang mengendarai motor di sebelah mobil yang kunaiki. Aku membuka kaca mobil, menepuk bahu Shuu, sambil menyebut-nyebutkan namanya.
"Apa sih?"
"Itu Eric kan?" Aku berbisik, "Bener kan?"
Shuu memicingkan matanya, beberapa detik, dia mengangguk. "Sedang apa si brengsek itu?"
"Entah. Sapa yuk," aku membuka kaca jendela.
Amuro yang duduk di sebelah Noah, menoleh ke belakang. "Icha? Ngapai--"
"Minggir kepala lu, Shuu kampret!" Aku berteriak, mendorongnya sedikit, dan menjulurkan kepala. "Woi, ERIICC!!"
Orang yang kupanggil itu menoleh, sedikit menurunkan laju motornya, dia menatapku. Dia memang Eric. Tatapan matanya seperti hendak berkata ngapain-lu-di-mobil-orang?
"Hai, Pak Tua Bangka," aku tersenyum lebar. "Mau kemana?"
Eric nyengir, "Yah, kepoan lu, Deck."
"Hati-hati, di depan ada truk!" Noah berseru, meski dia tidak mengenal Eric. Tapi, mungkin jailnya lagi kambuh.
Eric memandang ke depan, tidak ada truk sama sekali di depan. Dia mengacungkan jari tengah ke arah Noah, "Okey, bocah-bocah kecil. Om ganteng ini lagi ada urusan, jadi byee!!"
"Hilih, ginting ipiin cibi (halah, ganteng apaan coba)," cibirku. Aku menutup kembali jendela mobil.
Sore ini, langit terlihat mendung, beberapa kali terdengar suara gemuruh. Jalanan macet. Berkali-kali terdengar suara klakson dari orang yang tidak sabaran, asyik TIIIN saja. Di dalam mobil Noah, hening. Menyisakan suara derum mobil. Noah sibuk menyetir. Amuro gabut, cuma duduk diam. Shuu terus mengetuk layar handphonenya, bermain game. Aku? Hanya memandangi pemandangan di luar, melamun.
"Icha," akhirnya Amuro berbicara.
"Yo?"
"Kamu enggak sedih sama kejadian di sekolah tadi?"
"Kejadian apa?" Aku akhirnya menoleh.
"Itu, orang-orang yang terus membanding-bandingkanmu."
Aku terdiam, beberapa detik. "Sedih sih tidak, marah aja. Tapi, itu sudah biasa sih. Dulu sudah sering," jawabku, "tidak perlu khawatir, Amuro. Yang dulu justru lebih parah, kamu sendiri kan tahu."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Annoying Brothers
Teen FictionEmpat kakak laki-laki tampan, menyebalkan bin gregetan ini selalu membuat adik perempuannya kerepotan karena ke-posesif-an mereka. Sifatnya yang berbeda-beda, sulit ditebak. Pertengkaran selalu menjadi rutinitas wajib mereka. Pokoknya cerita ini bi...
