Empat kakak laki-laki tampan, menyebalkan bin gregetan ini selalu membuat adik perempuannya kerepotan karena ke-posesif-an mereka. Sifatnya yang berbeda-beda, sulit ditebak. Pertengkaran selalu menjadi rutinitas wajib mereka.
Pokoknya cerita ini bi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Vote kakak, abang, adek, ibu, bapak :) Dapat pahala loh karena buat author senang.
****
Hari Rabu.
"Jadi, kamu diusir sama abangmu dari rumah?" Lyn memastikan.
"Hm..." ucapku singkat.
Jadi, setelah 'diusir' dari rumah, aku jalan-jalan sebentar. Tidak memiliki tujuan. Aku tidak tahu mau tidur di mana. Tapi, setengah dengar suara klakson mobil yang super gede, aku jadi teringat Lyn. Lalu aku langsung pergi ke rumah Lyn. Jalan kaki. Kukira saat aku mengetok pintu rumahnya, tidak akan ada yang menjawab karena mungkin Lyn dan keluarganya sudah tidur, tapi rupanya mereka masih bangun, lagi nobar. Papa Lyn dan Mama Lyn sedikit kaget setelah tahu aku diusir dari rumah karena berbuat nakal.
"Ckckck, kasihan," Lyn menggeleng-gelengkan kepala. "Abangmu udah marah banget keknya. Lu nakal banget sih."
"Serah lu dah, Toa."
"Lu mau gua usir juga?"
"Isshhh, lu ganggu tidur gua aja."
"Apaan sih, sadar dong, lu tuh numpang kamar orang, hormat dong."
"Dahlah, diem aja lu, Cebol. Ngantuk nih," gumamku sambil merapatkan selimut. Sebenarnya tadi aku mau tidur di kasur, tapi Lyn langsung menendangkan turun dari kasur, menyuruhku tidur di bawah dengan sleeping bag. Mau kesal, tapi sadar diri, aku cuma orang yang numpang di rumahnya.
"Bangke," umpat Lyn. "Yodah, tidur lu sana. Gua mau nonton. Family time. Eaaak."
Aku membuka mataku setengah. Merasakan tubuhku digebuki dengan bantal.
"CHAAAAAACCHAAAA!!" Suara Lyn sukses membuat mataku terbuka lebar. "BANGUN, ANJEN*!"
"Mamaaaaa, Kak Toa bahasa kotor!" Kiran berseru. Entah sejak kapan dia berada di kamar ini.
"Anjir, cepu bat lu, Ran. Sono lu."
"Kalau aku gak mau?"
"Heh, ini kamar enggak boleh dimasukin bocil cupu, jelek, cepu kek elu. Pergi sana. Kotor nanti kamar gua."
"PAAPAAA!! Kak Lyn bilang pakai 'elu' 'gua', PA!!" sekarang Ivan yang cepu.
Lyn menarik kerah baju kaos Ivan, sampai kaki Ivan tidak menyentuh lantai. Lyn membawa Ivan keluar dari kamar. Begitu juga Kiran. Lalu membanting pintu. Mengalihkan atensinya padaku.