Aku memandang ke atas, menyeringai lebar melihat raut wajah Ethan yang terlihat kaget. Dia bergelantungan di langit-langit ruangan, dengan tubuh terikat tali, dan terbungkus jaring. Kepala jadi kaki, kaki jadi kepala. Kacamatanya jatuh.
"Ha! Rasain!" Aku terkekeh.
Sebenarnya, Ethan sudah sedari tadi masuk ke perangkapku. Sejak dia masuk ke kamarku. Jadi, sebelum aku tidur, aku menyempatkan untuk memasang perangkap 'tikus'. Sebentar saja membuatnya, karena kamarku memang sudah menyediakan perangkap itu. Saat Ethan melesat sana sini, untuk menyerangku, dia sudah menarik tali-tali, tapi tali itu kulonggarkan sedikit agar dia tidak merasakannya. Aku juga memanfaatkan kegelapan di kamar, jadi tali itu sedikit tidak terlihat, apalagi Ethan tidak pernah melihat ke bawah, karena aku yang terus dia kejar. Setiap dia ingin melihat ke bawah, kutarik perhatiannya.
Satu tali berhasil menjerat tubuhnya, tapi sudah kuatur agar tidak langsung menjeratnya. Tali kedua dia injak, mungkin tali itu sudah terasa olehnya, tapi kubuat dia lebih fokus padaku. Aku sudah mengakak di dalam hati begitu melihat raut wajahnya yang bingung. Hingga tali ketiga, tali keempat... dan terakhir, tali kelima. Tali itu terinjak olehnya tepat saat dia berjongkok, saat aku 'tersudut'.
Saat itulah, benda berat, entah berapa beratnya, pokoknya berat, diluar rumah, dan tidak terlihat karena letaknya dia atas ambang jendela kamarku. Tali-tali itu terhubung dengan benda berat itu, dan benda berat itu jatuh ke bawa karena Ethan telah menginjak tali kelima. Membuat Ethan terangkat ke atas.
Ohohoho! Aku memang cerdas.
"Rasain tuh, Dodol!"
Aku mengambil tongkat baseballku, lalu tanpa ampun menghantamnya ke perutnya, sedikit melompat. BAAAKKK!!
Darah segar muncrat keluar dari mulut Ethan.
"Mampus tuh, dasar Sethan!" Aku tertawa psycho, "nah, cepat katakan, apa tujuanmu datang ke mari? Siapa yang nyuruh? Atau kamu datang tanpa disuruh siapa-siapa?"
"Kamu nanyeak--aaakh!"
Aku meninju wajahnya, dengan senyum dingin. "Lu buat gua kesal sekali lagi, ndasmu yang tak totok."
"Siapa takut?"
"Oke, waktunya eksekusi, ini orang emang minta dihajar," aku mengepalkan tinjuku. "YARU ZE! HIAAT!!" Tepat saat tanganku hendak meninju, tiba-tiba abang-abangku sudah berkumpul di depan kamarku.
"Icha?"
BANGKE! Kenapa mereka datang di timing yang salah sih? Aku kan mau hajar orang ini dulu. Kalau mereka datang, mereka yang bakal hajar orang ini. Aku mengangkat tanganku, "Jangan maju kalian! Atau kalian kugigit!"
Alfarezi sudah maju. "Mundur, Cha." Dia mengambil ancang-ancang untuk menghajar Ethan yang bergelantungan.
Aku tiba-tiba menunjuk ke jendela, "Bang! Bang! Ada meteor, Bang! LARI!"
"BANGKE?! Mana? Aduh, banyak dosa lagi..." Abyaaz, Amaar, dan Asheer langsung panik. Bahkan Alfarezi terlihat percaya dengan perkataanku.
BUK! Aku meninju wajah Ethan, sambil berseru kencang, "Mada kono sekai waaa!"
"Anjir, wibu! Lu berani ya bohongin kami?!"
BUK! Aku masih sibuk meninju Ethan, bagaikan sedang latihan meninju dengan samsak. Puasin dulu dong, iya gak? Aku juga baru ingat kata orang, yaitu, kalau tangan gatal, artinya ada orang yang bakal kau tinju.
Saat aku meninju Ethan tepat di perut untut kesekian kalinya, aku merasa tanganku perih, di pergelangan tangan, juga bahu. Aku baru teringat, tadi Ethan sempat mengayunkan pisaunya ke arahku, dua kali, dan sukses melukai tanganku begitu juga bahuku. Aku melirik abang-abangku, luka ini harus disembunyikan, atau mereka bakal hebo--
KAMU SEDANG MEMBACA
My Annoying Brothers
Teen FictionEmpat kakak laki-laki tampan, menyebalkan bin gregetan ini selalu membuat adik perempuannya kerepotan karena ke-posesif-an mereka. Sifatnya yang berbeda-beda, sulit ditebak. Pertengkaran selalu menjadi rutinitas wajib mereka. Pokoknya cerita ini bi...
