Bab 58

40 8 0
                                        

Sampai beberapa hari berlalu.

Sekarang sudah hari Senin lagi, aku belum juga sembuh. Tapi, suhu tubuhku sudah menurun sedikit. Setiap hari, aku rebahan di kasur, atau setidaknya mengelilingi kamar. Abang-abangku mengurungku di kamar, agar aku tidak kabur. Soalnya, dua hari lalu, aku pernah coba kabur, mau pergi menginap ke rumah Lyn, tapi berhasil ditangkap lagi oleh Abyaaz. 

"Icha, makan dulu," pintu kamarku terbuka sedikit. Kepala Amaar muncul.

"Gak. Gak mau. Sono pergi, ganggu orang nonton aja."

"Makan dulu, hei."

"Pergi!!" Aku melemparkan bantal ke pintu, "PERGI!!"

"Dih, makin hari makin galak aja," Amaar menggerutu. Dia menutup pintu, "Yaudah, kami mau pergi sekolah dulu, kalau mau sarapan atau makan siang, sudah ada di dapur."

"Pintu kamarku enggak dikunci lagi?"

"Enggak."

Yes! Aku bisa kabur kalau begit--

"Tapi, pintu rumah dikunci. Jadi, jangan harap kau bisa kabur."

"DASAR!! ABANG-ABANG BRENGSEK!!" Aku tantrum lagi.

****

Aku melototi layar, jariku gesit menggerakkan control PS. Aku sedang main FIFA, melawan robot. Mulutku menggigit sandwich. 

"ANJRET!! Enak banget lu ngerampas bola orang! Lama-lama, tak potong bola-mu."

Tapi, tetap saja, aku kalah. Aku membanting stik PS, bangke! Kenapa kalah melulu sih?! Aku berdiri, dahlah! Bosen. Bosen kalah maksudnya. Aku berbalik, melangkah menuju dapur, mengambil sandwich lagi. Tapi ternyata sudah habis. Aku membuka kulkas, melihat botol kaca berisi jus naga. 

Aku menuangkan isi botol ke gelasku, lalu membawanya ke ruang keluarga.

Langkahku terhenti begitu mendengar suara bel yang berbunyi.

Ada tamu kah? 

Aku melangkah menuju pintu. "Orang yang di luar, enggak bisa masuk, pintu dikunci sama abang saya, dan saya tidak bisa keluar ataupun membukanya, jadi, silakan pergi. Terima kasih," ucapku cepat.

"Cepat amat kamu ngomong, Cha," suara itu menyahut. Suaranya berat.

"Who?"

"Hawaii."

"Hawaii who?"

"I'm good, how are you..."

Entah kenapa, aku malah ikut tertawa, begitu juga orang asing itu. Aku melongokkan kepala ke jendela yang berada di dekat pintu, mataku membulat begitu tahu siapa orang itu. 

"OM ERIC?"

"Hellow!!"

"Mau ngapain lu?"

Eric mengusap wajah, pura-pura melankolis, "sedihnya hati mungilku ini, baru aja dateng, bukannya disambut, malah dibentak macam tuh."

"Apa sih, jijieq."

"Minimal, bukain pintu napa."

"Ogah."

"Jahat banget sih."

"Bukan jahat, Ngab. Tapi, pintunya dikunci abang-abangku, soalnya mereka khawatir aku kabur."

"Nakal sih. Kabur-kaburan melulu. Bisa gak sih, setahun aja, duduk manis di rumah, nurut ama abang, baik hati, suara lembut," ucap Eric.

"Itu enggak mungkin terjadi di dunia ini. Kalau terjadi, yang pasti aku lagi dirasuki malaikat."

"Di mana-mana tuh, orang dirasukin setan. Kamu sih, kayak setan, makanya setan enggak bisa ngerasukin lagi, jadi malaikat yang turun tangan."

"Lu bicara sekali lagi kayak gitu, kudoakan besok bolamu hilang."

"Aish, jangan gitu dong, nanti hilang masa depanku."

"Biarin. Peduli amat."

"Tuh kan, jahatnya kayak setan."

Aku mengacungkan jari tengah. "Sudah, sono. Kalau mau ngambek, jangan di sini, Om. Sama doi aja."

"Sayangnya, saya tak punya doi, Nona."

"Aduh kasihannya. Pasti tiap hari membayangkan bisa jalan-jalan sama doi," ucapku dengan nada psikopat. "Sana pergi. Kalau mau datang, pas abangku datang aja."

"Enggak mau lah."

"Takut? Mereka emang serem sih."

"Dih. Enggak," Eric mendengus, lalu dia tersenyum lebar lagi, "Kamu mau bubur ayam? Tadi aku buat bubur ayam sepanci, terus di rumah kan cuma ada aku, jadinya yah, aku bawa saja untukmu."

"Masakanmu enggak enak."

"Emang kamu pernah coba?"

"Enggak pernah sih, yaudah, mana sini. Aku makan."

Lima menit berlalu, aku sudah asyik menyantap bubur ayam yang dibuatkan Eric. Rasanya, enak banget sih. Tapi, biasalah, gengsi, Kawan. Aku enggak ngengomentar apa-apa saat Eric bertanya rasanya. 

"Kalau enak bilang aja sih, enggak usah gengsi," ucap Eric santai. "Enak kan?"

"Iya, iya, enak."

"Jadi orang, jangan gengsian banget napa."

"Bct. Pergi aja sana. Gabut amat berdiri di teras."

"Eh, eh, oom ganteng ini, boleh dobrak pintunya gak?"

"Boleh aja sih. Biar aku bisa kabur. Tapi, beresiko kalau ketangkep abangku, bisa-bisa aku enggak boleh keluar lagi, terus enggak diizinkan sekolah lagi."

"Bagus dong. Bukannya kamu senang kalau enggak ada lagi PR, enggak ada belajar lagi."

"Diem. Sono pergi," tukasku ketus. "Ini moodku lagi buruk, jangan ditambah buruk lagi."

Eric menggerutu, "Iya, iya."

****

Sementara itu, di kamar yang amat luas. Seseorang berbaring di kasur. Menggumam-gumam tidak jelas.

TOK! TOK!

Dia beranjak duduk. "Masuk!"

Seseorang melangkah masuk, pria berjas hitam, dengan raut wajah seperti ingin melahap orang yang duduk di kasur itu bulat-bulat.

"Kau tahu apa kesalahanmu hari ini kan, Shuu?"

****


My Annoying BrothersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang