✧Part 30

69 28 0
                                        

Beberapa jam yang lalu, saat masih di cafe. [Flashback]

Alfarezi menelusuri isi buku menu, menggumam-gumam. Dan setelah menemukan apa yang dia mau, dia meletakkan buku menu itu dan melambaikan tangan ke pelayan yang berada di dekatnya.

Sesaat pelayan itu menatap Alfarezi lama, dan tersenyum sopan. "Ada apa?"

Alfarezi menyebutkan pesanannya juga adik dan saudara kembarnya, matanya mengamati pelayan itu dengan tajam. Dia merasa familier dengan aura pelayan itu, gerak-geriknya mirip dengan seseorang, atau memang benar 'seseorang' itu. 

"Kau, abangnya Icha ya, kan?" Pelayan itu mengangkat kepala setelah mencatat pesanan Alfarezi, "Pantas, wajah kalian agak mirip."

"Tahu apa kau tentang adikku?" sergah Alfarezi dingin.

"Yah," pelayan itu memasang wajah kaget dan bingung, "Icha sering ke sini. Dia juga sering menceritakan tentangmu."

Alfarezi memasukkan tangan di kantong. Memandang pelayan itu dengan tatapan yang menusuk. Icha? Sering menceritakan tentang abang-abangnya? Astaga, itu tidak akan pernah terjadi, berhubung Icha sering menghindari abangnya dan tidak mau orang lain tahu bahwa Alfarezi, Abyaaz, Amaar, dan Asheer adalah abangnya. Jelas pelayan ini membual.

Alfarezi berbalik, "Omong kosong. Kuperingatkan, kalau kau ketahuan menguntit adikku,'' tangan Alfarezi di arahkan ke leher, dan membuat gerakan memotong leher. "Eric..."

Deg!! Wajah pelayan laki-laki itu terlihat terkejut. 

Abyaaz, Amaar, dan Asheer jelas melihat kejadian itu. Dan mereka juga langsung mengenali siapa pelayan laki-laki yang pastinya sedang menyamar itu. 

Eric. Antek-antek-nya 'orang yang sangat mereka benci'.

****

Kembali ke sekarang.

Alfarezi menyeringai, tangannya mengusap ubun-ubun adiknya. "Tak salah lagi kan, Eric itu nekat. Dan cuma dia yang bisa memasukkan racun ke pesanan Icha."

"Waduh, Bang, suudzon dilarang, Bang." Amaar menyengir, "lu serem banget kelihatannya kalau lagi senyum kek gitu. Macam mau menelan kami bulat-bulat."

Alfarezi melirik Amaar yang membuat Amaar langsung membungkam mulutnya. Oops, dengan raut wajah 'oops, gak sengaja cari masalah dengan monster es'. Abyaaz dan Asheer meringis, kenapa sih saudara kembar tertua mereka bisa seseram itu. 

"Yang senggol Icha, kita bacok." Asheer terlihat semangat, "Sudah lama nih, tanganku enggak di pakai untuk ninju."

"Jangan psikopat lu pada." Suara itu membuat mereka semua tersentak. Dan menoleh ke pemilik suara.

"Ichaa!! Peyuk ciniiii!!" Amaar melompat dan mendekapku. "Aduh, adek Abang, perutnya masih sakit?"

"Diare tadi ya, Cha? Bilang dong ke abang-abangmu. Kami kan jadi khawatir."

"Sudah enakan, Cha?" Asheer berseru.

"Mau dibuatin teh pekat?" Abyaaz tidak mau kalah.

"Mau dipijit? Kepalanya pusing gak?"

Bangke. Kenapa sih mereka? Tanya satu-satu bisa gak sih? Pusing tahu. Aku mendelik, hendak mengomel tapi terhenti karena rasa sakit di perutku. Aduh, baru aja sadar dari pingsanku, kenapa harus masuk toilet lagi? Rasanya setiap keluar toilet tuh, nyawa macam berkurang. 

Alfarezi memandangku, tidak seheboh yang lain tapi aku yakin dia juga ingin melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu. 

"Diam aja deh kalian. Pertanyaan kalian tidak membantu sama sekali." Aku mendengus, menyingkapkan selimut, dan beranjak turun. Mendadak perutku terasa perih sekali. Aku meringis, kalau aku enggak ada abang-abangku di sini, aku pasti sudah teriak-teriak terus nangeess.

Jadilah, karena kegengsianku, aku berlagak tidak merasakan sakit sama sekali, bikin heran memang. 

"Kamu habis makan apa sih, Cha? Sampai sakit perut gitu." Abyaaz bertanya.

Kepingin jawab, 'kamu nanyeaaaaa', tapi takut mati ditempat karena tatapan mereka. Jadi aku hanya mengangkat bahu. Itu juga pertanyaanku, tahu. Aku melangkah tersaruk-saruk, memasuki toilet. Biasa, boker. Ini perutku sakit banget.

"Mau kemana, Cha?" Asheer bertanya.

"Kepo lu. Mau BAB, mau ikut? Cebokin." Aku menyengir datar.

"Boleh, gua cebokin pake golok. Mau?" tawar Asheer balik.

Amaar dan Abyaaz nyengir lebar.

Sialan. Aku menutup pintu toilet dengan cara dibanting. BLAM! Dan kuyakini, abang-abangku sedang geleng-geleng kepala.  Tapi aku tidak peduli, yang harus diurus tuh, perutku. Detik berikutnya, tanpa malu toilet pun dipenuhi suara berisik. Braaaat! BROOOT! Semoga aja toiletnya kagak meledak.

"Nasib punya adek kek gitu. Judes, urat malu udah putus, ditegur sewot. Cemberut melulu." Asheer menggerutu.

"Tapi sayang, kan?" Amaar tersenyum lebar.

"Woiyadong!" Asheer mengacungkan jempol. 

"Icha tuh kalau marah kayak tadi, jadi imut. Apalagi kalau pipinya digembungkan!" Ucap Abyaaz.

Bacot. Aku dengar semua percakapan kalian. Aku mendengus.

BRAT! BROOOOTT! 

(PERINGATAN! Author: yang lagi makan, jangan bayangkan apa yang dilakukan Icha di kamar mandi ya -_-)

*****

Sampai sini dulu ya. G bisa up dua kali karena ada yang error di computer. Jadi pakai ipad, jadi agak lambat deh nulisnya 😜. Aku juga lagi ada jadwal 5 kali gambar, jadi agak kurang sempat. Sorry. 

Ada yg penasaran sama yg dilakukan Shuu gak? Pas dia liat foto foto Icha? Coba tebaaak...!

Byeeee. 


My Annoying BrothersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang