✧Bab 44

43 12 11
                                        


"Rumahmu... rumahmu dibobol!" Eric berkata pelan.

Aku terpaku. 

"Rumahmu dirampok! Dicuri, apalah itu sebutannya!"

"Kau kan ada di rumah, Pak Tua, kenapa kau membiarkan perampok membobol rumahku?!" Aku berbisik sambil mengusap dahi, "kau takut?"

"Itu karena, yang dibobol cuma kamarmu. Aku tidak tahu kapan tepatnya kamarmu dibobol, pokoknya. Aku tidak sadar. Saat aku mau merapikan kamarmu, kamarmu itu sudah berantakan. Macam kapal pecah. Laci meja belajarmu dibongkar, laptop-mu terbuka, dengan keadaan menyala, lemari pakaianmu juga. Perampoknya mesum kali ya? Dia mau lihat pakaian dalam cewe--"

"Cukup," ucapku dingin. "Apa ada barangku yang hilang?"

"Bodoh kau ya, Bocah. Bagaimana aku bisa tahu barangmu yang hilang?"

"Oke-oke. Kau jaga saja rumahku itu, sampai aku pulang."

"Siap, Nona. Aku akan mengetatkan penjagaan rumah."

"Oh ya, nanti kau jemput aku ya, Pak Tua."

Eric menyengir. "Tapi, kau harus berhenti memanggilku 'Pak Tua'. Panggil aku Abang--"

"Om, pergilah dari sekolah ini, atau Om mau aku seret?"

"Oke, panggil aku Om ya, bye!!!" Eric melaju secepat kilat meninggalkan kantin. Diiringi tatapan-tatapan orang-orang yang ada di dalam kantin. 

Beberapa detik, kantin itu lengang. Hingga akhirnya 'dengung lebah' itu mulai terdengar. Aku yakin, mereka pasti sedang pada membicarakan Eric. Aku kembali ke tempat aku duduk tadi, memandang mangkokku yang sudah kosong. Aku mengangkat wajah dengan dahi mengernyit.

"Hoi, siapa yang makan bakso gua hah?! SAMPE TANDAS BEGINI?!!" ucapku murka. 

Lorenzo santai mengangkat tangannya. "Gua."

"AAAAAAKKH!! Kenapa sih kalian doyan banget ngerjain gua!!! Bangs(piiip) lu, Enzo!! Bakso terakhirkuuuu!!!" Aku berteriak dramatis, mengamuk, "KEMBALIIN!!"

Lyn mengangguk-angguk, "Lanjutkan, saya suka keributan."

Lorenzo membuka mulutnya, "Beneran mau dikembaliin? Bentar, gua muntahin dulu."

"BUKAN GITU, NYET!! Maksudnya, kasih duit lagi, beliin semangkok bakso lagi!"

"Yaelah, aku cuma makan dua bakso, lu minta semangkok bakso? Mana bisa!"

"Berisik, beliin aja semangkok. Lagian, siapa suruh makan bakso gua!"

"Lu GILA YA? Isi dompet gua habis, karena lu palak, Beg*!"

"Gak mau tahu! Beliin gua semangkok bakso!"

Amuro terlihat pasrah dengan pertengkaran itu. Hendak melerai, tapi takut kena gaplok. Jadilah dia hanya mengawasi, jika ada yang kelewat batas, marahnya, dia akan langsung melerai. Tentu saja dengan risiko kena gigit olehku atau kena tabok sama Lorenzo.

"KAMPRET! Gak! GAK MAU! Lama-lama, bokek juga gua!"

"BELIIN GAK?! Aku gigit nanti?! MAU?!" 

"GAK!"

Ika mengangguk-angguk, "Pasangan yang serasi," ucapnya sambil menyikut-nyikut Lyn yang duduk di sebelahnya. 

Shuu memandang Ika dengan tatapan tajam, "Lu bilang apa?"

Ika langsung merinding. "Aih,  cuma bilang, 'pasangan yang serasi' kok! Lu kira apa?"

"Siapa yang 'pasangan serasi'?"

My Annoying BrothersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang