Bab 84

23 6 0
                                        

Test. Satu. Dua. Tiga. Vote downgk.

***

Sejam yang lalu...

Aku memasukkan kedua tanganku ke saku jaket. Malam ini dingin banget. Angin juga lumayan kuat. Terdengar juga gemuruh. Mungkin sedikit lagi akan hujan, yang kemungkinan besar akan sangat deras. Tapi, peduli amat, aku lagi mau jalan-jalan sendirian setelah mendengar fakta yang mengejutkan.

Jalan raya sangat ramai. Jam-jam segini memang jalan ramai, sebagian besar baru pulang dari kantor. 

Aku melangkah dengan cepat di trotoar. Sudah 20 menit aku berjalan tak tentu arah, tidak peduli aku sudah seperti anak hilang, dan dilirik orang karena wajahku yang jelas jelas kelihatan habis nangis. Aku tahu, meski aku habis nangis, mukaku tetap cantik sampai dilirik begitu.


Mataku tertuju pada Indomaret yang berada di depan sana. Aku melangkah cepat menuju Indomaret, mau beli susu. Aku haus. Begitu masuk ke dalam, hujan mulai turun. Tak perlu waktu lama, hujan sudah semakin deras, membasuh kota. Berkali-kali terdengar suara petir, dari dalam Indomaret, aku bisa melihat, angin berhembus dengan sangat kencang.

Aku mengangkat bahu, meraih susu di kulkas. Hujan hujan gini enaknya minum yang dingin-dingin.

(Agak laen ._.)

"Ini aja, Dek?" tanya yang menjaga kasir.

"Bentar, Bang," ucapku, berbalik menuju salah satu rak. Lalu kembali membawa cup Popmie. "Mie-nya bisa diseduh di sini kan?"

"Iya, Dek. Air panasnya ada di sana."

"Makasih, Bang," ucapku pelan. Mengabaikan si penjaga kasir yang menatap wajahku heran, lagi-lagi pasti karena wajah habis nangisku. Mungkin dia mengira aku habis putus sama doi. Tapi peduli setan.

Tak lama aku sudah duduk di bangku yang tersedia di Indomaret. Menikmati mie, meski tidak terlalu menikmati, karena dibebankan pikiran yang kacau. Aku mengeluarkan handphone dari saku celana, membuka Whatsapp, mencari-cari nama kontak.

[Bang Reji]

Aku menelan ludah. Jari-jariku mengetik dengan cepat.

Bang Rezi, Adek mau pulang.

Jempolku sudah hendak mengirim text itu, tapi urung. Aku menghapusnya dengan cepat. Aku memutuskan untuk mengirim text ke Amira, Tanteku.

Halo, Tante. Assalamualaikum  6:21 PM  read.

Waalaikumsalam, Adek 6:22 PM

Ad ap? Mau blackcard lagi? Boleh kok  6:22 PM

Td, Mama ada tanyain sesuatu g? 6:23 PM read.

Mana ad Adek minta blackcard 🗿  6:23 PM read.


Ad sih  6:23 PM

Mama tny siapa kamu  6:23 PM

Adek masih kepikiran? Adek udh minta maaf belum sama abang  6:24 PM

Blm 6:24 [tidak terkirim]

Aku menghela napas. Tidak ada sinyal.  Melirik cup berisi mie popmie yang sudah dingin, lalu kupandang keluar. Masih hujan deras. Aku tidak bisa pulang, kecuali kalau mau basah kuyup dan besoknya kemungkinan besar demam.

Aku masih tidak percaya, kukira pertemuanku dengan Mama akan menyenangkan, aku bisa kembali mendengar suara Mama, memeluknya, ketawa bersama, tapi aku justru disambut dengan fakta mengejutkan dan tidak kusangka. Kalau saja aku punya riwayat sakit jantung, pasti aku sudah mati terkejut. Papa rupanya adalah villain sesungguhnya di rumahku, sedangkan orang yang selama ini kubenci, abang-abangku, adalah sosok yang amat baik, meski bagiku tetap ngeselin, lalu Mama yang hilang ingatan.

My Annoying BrothersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang