BUK! BUK!!
Shuu sudah babak belur, dia tersungkur di atas lantai yang dingin. Dia meludahkan darah di mulutnya. Memandang pria di hadapannya dengan tatapan penuh kebencian, tapi dia tidak bisa melawan karena ada kejadian di masa lalu yang membuatnya tunduk dengan pria itu. Sebut saja, namanya Ray.
"Segitu saja tenagamu, Shuu?"
Yaiyalah, orang masih kumpulin nyawa, udah dihajar aja, gerutu Shuu dalam hati.
"Dan, bagaimana kalau aku laporkan kalau kau bolos sekolah hari ini ke ayahmu? Kau pasti tahu kan seperti apa reaksi ayahmu kalau tahu soal itu?"
"Dia bukan ayahku," ucap Shuu dingin. "Dia cuma adik ayahku."
"Tapi, tetap saja, dia akan marah kan kalau tahu kau bolos?"
"Itu bukan urusanmu. Dan pergi saja sana," ucap Shuu. Dia beringsut ke pojokan kamar.
Ray mengangkat tangannya, menarik kerah baju Shuu, memaksanya berdiri. Raut wajah Ray terlihat geram, tetapi dia tersenyum. Senyuman psikopat, tentu saja. "Makan nih."
BUGH!!
Shuu sampai berteriak kesakitan ketika tinjuan itu dihantamkan ke perutnya. Tenaga Ray itu tidak main-main. Ray berbalik, meninggalkan kamar Shuu yang sudah berceceran oleh darah.
BLAM!! Pintu ditutup dengan rapat. Shuu berusaha duduk, tangannya menyentuh perutnya yang terasa sakit sekali. Shuu memandang ke arah handphonenya yang menyala karena ada telepon yang masuk.
Dari Amuro.
Shuu tidak mengangkatnya, tapi matanya membulat melihat telepon dari walinya, yaitu adik ayahnya. Panggil saja dia, Daddy Ryszard. Kenapa dipanggil Daddy? Karena dulu waktu kecil, Shuu dibiasakan untuk memanggil si Ryszard ini dengan panggilan 'Daddy' sedangkan ayah kandungnya dipanggil, 'Ayah'. Alasannya dia tidak dirawat oleh orangtuanya, karena ada suatu kejadian, ayah kandung Shuu itu keras orangnya, ada yang buat kesalahan sedikit saja, langsung dipukul, tidak terkecuali istrinya, yang tak lain tak bukan adalah ibu kandung Shuu. Hingga suatu hari, ayah Shuu sudah tidak bisa dikendalikan lagi, karena bisnisnya yang mendadak bangkrut, dia jadi sering marah, dan melampiaskannya kepada anak dan istrinya. Hingga akhirnya, ayah Shuu menghilang, dan tidak pernah kembali lagi ke rumah. Tetapi ibu Shuu sudah depresi berat, jadi gila, sakit-sakitan. Dan setahun setelah hilangnya ayah Shuu, dia meninggal.
Shuu mengangkat telepon.
"Shuu," tanpa salam tanpa sapaan lagi, langsung menyebutkan nama Shuu dengan nada dingin.
"Hm..."
"Kau buat masalah lagi, hm? Anak mana lagi yang kau buat babak belur?"
"Dia duluan yang mulai. Yaudah, langsung hantam aja."
"Lalu, kata Ray, kau bolos bukan?" suara berat itu terdengar tajam, mengintrogasi. Dan, sekedar informasi, Om Ryszard tidak tahu apa kelakukan Ray pada ponakannya ketika dia sedang pergi mengurus bisnisnya di luar negeri. "Kau tahu apa konsenkuensinya kalau bolos bukan?"
"Ya."
"Awas kalau kamu masalah lagi, Daddy enggak akan segan-segan ceramah sampai seharian."
"Yaudah, yang capek juga Daddy, bukan Shuu."
"Jangan ngelawan kamu. Yaudah, Daddy tutup dulu teleponnya--"
TUT! Shuu sudah lebih dulu menutup telepon. Dia berdiri dengan perlahan, lalu melangkah terhuyung-huyung menuju kamar mandi. Dia harus tetap masuk sekolah meskipun sudah terlambat. Tapi tak apalah, yang penting masuk sekolah. Kalau pagar sudah ketutup, tinggal main catur aja sama satpam sekolah.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Annoying Brothers
Teen FictionEmpat kakak laki-laki tampan, menyebalkan bin gregetan ini selalu membuat adik perempuannya kerepotan karena ke-posesif-an mereka. Sifatnya yang berbeda-beda, sulit ditebak. Pertengkaran selalu menjadi rutinitas wajib mereka. Pokoknya cerita ini bi...
