Test. Test. Ehem, satu dua tiga, vote, ibu, bapak, mas, mbak, kakak, abang, adek.
"Sekarang gua ngerti perasaan lu, Ngab," ucap Ika dengan raut wajah serius. "Nasibmu memang menyedihkan bisa punya adek tiri macam ta*k, Noah."
Seperti biasa, kami kumpul-kumpul lagi di waktu istirahat. Kali ini kami memilih tempat duduk di pjokan kantin.
Aku mengangguk setuju, "caper bat! Mana dia gampang banget lagi ngehasutin murid-murid."
"BETUL! Setuju," krauk! Lyn menggigit ayam goreng yang dia beli. "Tadi, dia pura-pura imut, sok baik, ceramahin orang bilang, 'enggak boleh gitu', terus tiba-tiba di kamar mandi, aku liat dia lagi ngeledek cewek gendut di kelas sebelah di kamar mandi."
"Padahal tuh muka kagak imut-imut bener ya? Masih imutan gua," ucapku percaya diri.
"Icha kan emang imut dari lahir," Shuu menyengir.
Aku melotot, "diem. Ini percakapan cewek. Ngobrol aja lu sama Enzo, atau sama Amuro, Noah." Lalu aku lanjut fokus sama Lyn dan Ika.
"Btw, kata Lyn, lu mau pergi, Cha?"
"Pergi ke mana?" Amuro langsung menoleh, jiwa daddynya keluar. "Sendirian?"
Aku meneguk es tehku, lalu tersenyum tipis, aku menyebutkan nama rumah sakit yang kutuju nanti sore.
"Jauh bener lu main, Cha. Mau ngapain ke rumah sakit?" Lorenzo bertanya.
"Ngecek kewarasan, Zo," cetus Ika.
Abaikan, Cha.
"Jadi gini..." aku hendak menceritakan.
"O gitu," Noah mengangguk. "Ngerti."
"Belum, Ngab," ucapku datar. "Jadi gini..."
Lima menit aku menceritakan hal yang mereka tanyakan tadi, mereka tidak mengomentar, hanya terus menyimak. Sampai aku selesai bercerita. Aku kembali menyantap baksoku.
"Mau aku sewakan bodyguard?" Amuro menawari, dengan raut wajah cemasnya. "Naik kereta? Mau ditemani?"
"Aish, Ro, aku bukan anak kecil ya. Lagian Lyn ikut."
"Heh, kok gua gak ikut?" Ika protes. "Enak kali kalian bisa jalan-jalan naik kereta. Gua belum pernah naik kereta."
Lorenzo menyengir, "Kasian. Belum pernah naik kereta. Gua usia lima tahun, udah naik kereta."
"Gua jahit juga tuh mulut," dengus Ika.
Aku menepuk bahu Ika, "Tenang, Sis. Lu bakal ikut. Tapi, awas aja kalau ngerepotin, gua langsung lempar keluar dari kereta."
"Kejam amat."
"Begitulah otak psikopat bekerja, Nak," jawabku santai. Tapi, mulutku seketika terkatup rapat ketika seseorang berjalan melewatiku.
Siapa lagi kalau bukan Alfarezi? Aku hanya takut padanya sih, karena dialah yang 'MENGUSIR'ku dari rumah. Kalau saudara-saudara kembarnya sih, paling cuma karena canggung, tapi setengah marah juga sih. Soalnya muka mereka kek setuju dengan pendapat Alfarezi.
"Anjir, anjir, abang gua, abang gua!" Aku langsung mengumpat setelah Alfarezi sudah jauh. Tapi, mataku langsung membulat ketika aku menoleh ke belakang, melihat cewek yang berlari mengikuti abang-abangku. "Weh! WEH! Xian Jieng mulai caper lagi tuh!"
BRUK!!
Aku terperanjat, melototi Xian yang terduduk di sebelahku.
"Kenapa kau sengaja membuat Xian tersandung?" Xian menoleh.
"Mana ada gua buat lu jatuh," jawabku santai, meski seluruh murid di kantin itu menujukan atensinya padaku, dengan mata menatap tajam. Entah dengan cara apa Xian menghasut murid sebanyak itu. Apa dengan wajah atau sifat sok imutnya? Atau dia pakai cara pelet?
KAMU SEDANG MEMBACA
My Annoying Brothers
Teen FictionEmpat kakak laki-laki tampan, menyebalkan bin gregetan ini selalu membuat adik perempuannya kerepotan karena ke-posesif-an mereka. Sifatnya yang berbeda-beda, sulit ditebak. Pertengkaran selalu menjadi rutinitas wajib mereka. Pokoknya cerita ini bi...
