"Weh, Cha, lu laper apa kagak?" Ika bertanya.
Aku yang sedang terbaring cantik eh lemah di atas kasur, hanya mendengus. Tidak menjawab.
Tadi Ika disuruh kemari karena abang-abangku enggak terlalu tahu cara untuk merawatku yang sedang sakit ini, apalagi demamku lumayan parah. Eh, okeh, okeh, aku berbohong, mereka tahu cara untuk merawatku, tapi aku saja yang tidak mau bertemu dengan mereka, dan tidak mau mereka merawatku. Jadilah 'kusewa' babu, yaitu Ika.
Sebenarnya aku bisa saja sih merawat diri sendiri, tapi badanku sakit banget kalau digerakkan.
"WOI, CHA!! Jawab."
Sialnya, babu yang 'kusewa' ini enggak ada akhlaknya. Udah jelas aku lagi sakit, agak susah kalau ngomong, lesu, masih aja digituin. Kalau udah sembuh nanti, aku slending dia.
"CHA!! Mau makan apa kagak?!!"
"Enggak," jawabku pelan.
"Lu kalau galau jangan dilampiaskan ke cacing di perutmu dong! Kasihan tuh, cacingnya."
"Biarin, biar mereka tahu rasa, biar berhenti nge-dugem terus," ucapku datar. "Ambilin gua minum, Bu."
"Gua bukan ibumu, Bego."
"Bukan, maksudnya, BABU."
"ANJIRLAH!! GUA PULANG AJA!!"
"Gua tarek lagi duitnya ya."
Ika langsung nurut. "Janganlah, Non. Lumayan itu bayarannya, 100 rebu." Dia bergegas pergi untuk mengambilkan minum.
Aku mencibir, giliran duit aja, langsung nurut. Mata duitan. Aku memandang langit-langit kamarku dengan tatapan kosong.
Si babu, maksudku, Ika, datang, dan meletakkan botol minumku. "Nih, Nona."
Sambil meringis, aku meraih botol minumku, membuka tutup botol, meneguk isinya. Rasanya sedikit aneh, tapi aku tetap harus rajin minum agar cepat sembuh.
"Cha, weh, Cha, lu tuh ada masalah apa sih sama abang-abang lu?" tanya Icha, bersamaan dengan pintu yang terbuka.
Amaar melongokkan kepalanya, "Icha?"
Dengan segera, aku membalikkan posisi baringku, membelakangi pintu. Berdecak jengkel. Sudah kubilang, aku malas bertemu dengan abang-abangku. Masih lebih baik aku menghadapi Lyn yang suaranya gede minta ampun, daripada abang-abangku.
"Ika, nih, makanan."
"WAH, GILEEE, gimana bisa lu enggak suka ama abang lu, Cha?! Baik banget!! REPOT-REPOT BAWAIN GUA MAKANAN!!"
"Buat Icha itu, weh," ucap Amaar.
KRAK!! Aku bisa mendengar hati Ika patah, patah hati karena makanan. Ika terlihat lesu, 'anjirlah, aku enggak dianggap apa-apa di sini, cuma dianggap babu. Sedihnya nasibku' begitulah maksud tatapan Ika.
"Aku enggak mau makan, kembalikan lagi."
"Icha, ini Bang Alfarezi udah repot-repot buatinnya lho. Bubur ayam, makanan kesukaan kamu kan?"
"Aku bilang enggak, ya enggak. Pergi sono. Jangan masuk-masuk lagi."
Aku tidak tahu, mengapa aku jadi lebih kesal dengan abang-abangku setelah menghajar Shuu. Yang jelas, aku jadi ingin semakin jauh dengan abang-abangku. Merekalah penyebab hancurnya keluarga Aldebaran. Merekalah yang membuatku dibanding-bandingkan.
Dengan hela napas pelan, aku kembali berbaring.
Hening.
"Cha, weh, weh, ini lu waktu kecil? Gile, imut banget."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Annoying Brothers
Fiksi RemajaEmpat kakak laki-laki tampan, menyebalkan bin gregetan ini selalu membuat adik perempuannya kerepotan karena ke-posesif-an mereka. Sifatnya yang berbeda-beda, sulit ditebak. Pertengkaran selalu menjadi rutinitas wajib mereka. Pokoknya cerita ini bi...
