Di malam harinya, aku asyik rebah-rebahan di atas kasur yang maha-empuk. Sesekali berguling-guling, mencari posisi paling sedap. Mulutku menyenandungkan lagu nge-rap. Sesekali coba-coba beatbox, kecebur, kecekek, kecebur, kecekek! Eak, aku terkekeh-kekeh puas. Merapatkan headsetku.
TUT! Tak sengaja menekan lagu yang suaranya, maha-gede. Telingaku mendadak terasa pekak. Aku bergegas mengecilkan suara, sebelum telingaku budeg beneran. Aku mengganti lagu.
"YUUU BRIIIIK MY HAFT BRIIK MY HAAAAFFT!" Aku tak sadar sudah berteriak-teriak.
Kalian pernah merasakan gak sih, saat kalian bernyanyi, dengan headset terpasang di telinga kalian. Kalian merasa suara kalian itu superduper keren, indah, merdu, padahal aslinya tidak ada merdu-merdunya. Aku sih, sering.
Aku berguling-guling lagi, dan BRUKK! "YA ALLAH! AMPUNI HAMBA! HAMBA BELUM SIAP MATI, YA ALLAAAAAH!" Aku refleks berteriak ketika jidatku membentur lantai. Aku mengaduh, mataku tertutup rapat, dan tidak ada lagi lagu yang terdengar dari headsetku. Astaga? Apakah aku sudah mati?
Aku membuka mataku, dan melihat Asheer yang tengah menatapku setengah jahil dan setengah jengkel. Dia berjongkok, "Hei, masih hidup kau? Sudah mati ya? Innalillahi. Bang Reji! Yasinan, Bang!!"
"Apaan sih, mengganggu orang saja. Lagi dengar lagu keren tahu, malah dicopot headset-nya!" Aku mengomel, sambil beranjak duduk, dan mengusap-usap dahiku, yang kuyakin pasti benjol. Sakitnya sih tidak seberapa, tapi malunya itu lho, dilihat abangku. "Terus, aku belum mati, tahu!"
Asheer bangkit, mengedikkan dagu ke belakang. "Sudah adzan Maghrib, masih saja dengar-dengar lagu. Lagian, tuh telinga, tidak pekak apa dengar lagu dengan volume sebesar itu?"
"Biarin, telinga-telinga gua--"
Tiba-tiba kepala Alfarezi melongok ke dalam kamarku. Dia berdeham. Sial, kenapa setiap aku mengucapkan 'gua' atau 'elu ', dia SELALU muncul?! Dia punya indra pendengaran berapa sih?
"Sudahlah! Berisik, pergi sana! Orang lagi rebah-rebahan, istirahat. Malah diganggu!" Aku mendelik, menggosok-gosok dahiku dengan rambutku.
"Sudah adzan, Icha-chacha-merica," sekarang muncul dua kepala, siapa lagi kalau bukan Abyaaz dan Amaar. "Wadaw, kamu belum mandi? Kami saja sudah, baru saja selesai. Nih, lihat, no daki, no melek, no upil!"
Aku berdiri, lalu mendorong-dorong mereka keluar. Mereka ini, harus cepat segera diusir, sebelum mereka ngelunjak, dan malah tidur di kamarku! Aku mendorong mereka dengan tenaga kukerahkan. "Aku sudah mandi, tahu!"
"Lah? Itu rambut enggak basah tuh." Asheer menjawab.
Aku meninju punggungnya, hingga cowok itu mengaduh. "Aku lagi enggak keramas."
"Terus, kenapa kamu enggak sholat?"
"Lagi datang bulan-lah, Bodoh!" Aku menutup pintu, lalu bergegas menguncinya. "Kalian pergi sono ke masjid!"
"Yo'i! Jaga rumah, Ichaaaaa!"
Aku tidak menjawab. Sudah kembali melompat ke atas kasur, berguling-guling lagi, dan tak sengaja jidatku membentur dinding lagi. Arrrggghhh! Aku langsung duduk dengan raut wajah kesakitan. Aku memukul dinding. Minta maaf gak lu, Ding! Gara-gara kamu, dahiku jadi benjol tahu!
(Dinding: lah, bukannya gara-gara lantai, dahimu jadi benjol?)
Aku bersungut-sungut, sudahlah. Aku memang sedikit kesulitan menghilangkan kebiasaanku yang satu itu, setiap di kasur, selalu saja guling-guling. Sudut mataku terarah pada jam dinding, oh iya, aku belum mandi. Jangan bingung, lho, soalnya pas aku bilang aku sudah mandi pada abang-abangku, sebenarnya aku belum mandi.
Omong-omong soal mandi... aku terdiam cukup lama. "Astaga, aku lupa beli pembalut lagi!" Aku sontak berdiri begitu menyadari hal itu. Dan tanpa babibu, aku menyambar jaket kesayanganku, dan langsung mengenakannya. Aku harus beli itu sekarang! Aku kan mau mandi.
Aku memakai celana double, karena boleh jadi di tengah perjalanan, itu-nya bocor. Aku pergi ke kamar Alfarezi, tanpa memakai acara mengendap-endap, toh orangnya sedang pergi beribadah. Aku membuka lacinya, mengambil dompet. "Bang, minta uangnya ya, Bang." Aku berkata pelan, entah bicara pada siapa, lalu aku meniru suara abangku, "Iya, Dek, boleh."
*****
Asyiik, aku melangkah sendirian di trotoar. Maksudnya, tidak ditemani abang-abangku, trotoar-nya tetap banyak orang kok, meski sudah gelap begini. Banyak mobil di melaju, lampu-lampu mobil yang menyilaukan mata. Motor-motor juga banyak, dan tentu saja, beberapa angkot yang ngetem di dekat trotoar.
Minimarket yang kutuju, letaknya tidak terlalu jauh dari komplek rumahku. Tapi, kalau dengan cara jalan kaki, mungkin menempuh waktu...eum...tidak terlalu lama-lah, paling sepuluh menit. Yang jelas, aku harus pulang sebelum abang-abangku pulang dari masjid. Kira-kira aku punya waktu dua puluh menit.
Sesampainya di minimarket, aku langsung bergerak cepat. Beberapa detik, sudah di depan kasir. Bagusnya, tidak ada orang yang mengantri. Sialnya, si penjaga kasirnya itu banyak omong, banyak basa-basi. Setajam apapun aku sorotkan kepadanya, dia tetap mengoceh, menceritakan ini itu. Akhirnya, demi sopan santun, aku hanya tersenyum, mengangguk, menggeleng, dan hal semacam itu.
"Bu, saya cuma pesan satu, tapi kenapa lama pakai banget ya, Bu?" Aku akhirnya mengingatkan, sudah tidak sabaran lagi.
Ibu kasir itu gelagapan, bergegas memasukkan belanjaanku ke dalam goody-bag yang sudah kubawa. Lalu, menyerahkannya padaku, dan aku menyodorkan uang. Wuuush! Secepat kilat, aku meninggalkan tempat itu. Aku berlari kecil, aku harus cepat pulang. Tidak ada waktu untuk beria-ria, pasti sedikit lagi, abang-abangku sudah pulang ke rumah! Aku kan tidak diizinkan untuk keluar malam-malam sendirian.
Aku mempercepat lariku, tepat saat handphoneku berdering.
Gawat, itu pasti dari abangku.
Sesuai dugaanku, salah satu dari kunyuk-kunyukku itu, meneleponku. Aku menjawab telepon, mendekatkannya ke telinga. Dan itu membuatku menyesal di detik berikutnya, karena teriakan kencang Abyaaz.
"HEH! KAMU DI MANA?! DICULIK? MANA ORANGNYA? SINI, GUA BACOK--" lalu suara itu memelan ketika terdengar suara jitakan, pasti jitakan dari Alfarezi. "Awww... ih, ayank! Kamu jahat banget sih!"
"Jijiek, tahu gak?" terdengar suara ketus Alfarezi.
"Biarin dong, Bang. No homo tho. Hanya ungkapan rasa sayang adek kepada abangnya kok."
Aku hendak menutup telepon, tepat saat suara dingin Alfarezi terdengar. Gerakanku terhenti. Astaga, demi apa? Hanya mendengar suaranya saja, tanganku sontak terhenti. Si Reji ini seperti memakai teknik hipnotis, atau, memang memakai ilmu hipnotis? Entahlah, itu tidak penting. Yang lebih penting di saat ini adalah, bagaimana caranya menghadapi pertanyaan Alfarezi. Aku sudah menyusun kalimat-kalimatku kok, jadi, semoga saja aku bisa menjawabnya dengan lancar. Tidak dengan kata 'gua' dan 'elu'.
"Kamu pergi ke mana?"
Omaygaaat! Suaranya itu, membuatku merasa ngeri sendiri. Suaranya memang terdengar tenang dan datar, tapi, kalau kalian peka sedikit, kalian akan tahu kalau ada nada dingin dan menusuk di suaranya. Aku terkekeh santai (Meski aslinya tidak sih, aku sudah kebelet pipis soalnya), dan aku menjawab pertanyaan abang kunyukku itu dengan cepat dan jujur, "Saya membeli pembalut Paduka Raja Alfarezi Aldebaran yang Terhormat. Saya pergi ke minimarket sebentar."
"Oh."
Eh, brengsek! Masa cuma 'oh' sih? Tapi, bagus juga sih. Memangnya aku mengharap apa? Lebih bagus begini. Aku bergegas menutup telepon tanpa mengucapkan salam lagi, sebelum kalimat yang awalnya satu kata dua huruf itu memanjang hingga beribu-ribu kata. Aku memasukkan handphone ke saku, mempercepat langkahku.
Dan mendadak, karena aku tidak lihat-lihat, mungkin. Aku menabrak seseorang, atau mungkin orang itu yang menabrakkku.
BRUK!
~BERSAMBUNG~
Ceritanya seru atau enggak sih? Kok, aku merasa ceritanya aneh ya?
~
KAMU SEDANG MEMBACA
My Annoying Brothers
Roman pour AdolescentsEmpat kakak laki-laki tampan, menyebalkan bin gregetan ini selalu membuat adik perempuannya kerepotan karena ke-posesif-an mereka. Sifatnya yang berbeda-beda, sulit ditebak. Pertengkaran selalu menjadi rutinitas wajib mereka. Pokoknya cerita ini bi...
