Bab 79

30 7 0
                                        

Test. Satu. Dua. Tiga. Tok tok. VOTE WOI!! Eh, sabar. Mon maap, author lagi sering emosian hari ini. Jadi, hati-hati, author akan menggigit dan mencakar. Rawr!

***

"Perusahaan Papa bangkrut."

Tiga kata itu sukses membuat keenam bersaudara itu tersentak kaget. Mereka saling tatap, lalu memandang orangtua mereka yang terlihat lesu.

"K-kenapa?" cicit Aisha, memecahkan keheningan. "Kalau Adek boleh tahu?"

Papa melirik tajam Alfarezi, Amaar, Abyaaz, dan Asheer. "Abang-abangmu membuat masalah dengan teman perusahaan Papa. Tepatnya anak buah dia."

Aisha memandang abang-abangnya. "H-hah?"

Aleena menyentuh bahu Aisha dengan lembut. "Ayo, Dek. Ke kamar Kakak aja ya? Adek masih terlalu kecil untuk memahami ini."

"Tapi-"

"Ikut Kakak ya? Kita melukis bareng."

"O-ok," Aisha mengikuti langkah Aleena. Sambil sesekali menoleh ke belakang. "Sebenarnya, enggak apa apa sih kalau sekarang Aisha enggak bisa makan enak kayak biasa. Yang penting Aisha masih punya keluarga yang baik!" ucap Aisha pelan.

Aleena yang mendengar kalimat itu, tersenyum getir. Apakah Aisha masih akan mengucapkan itu setelah tahu kebenarannya?

****

Malam harinya.

"Bye bye, Kakak! Abang~! Si princess keren ini mo tidur!" seru Aisha, melompat turun dari sofa. "Ngantuk nich!" Lalu dia berlari kecil meninggalkan ruang keluarga itu.

"Hati-hati, Dek," Papa berucap. "Jangan lari-lari."

Mendengar suara Papa-nya, membuat Alfarezi berdecih sembari mengganti halaman buku.

Aisha menaiki tangga dengan langkah bergedebak-gedebuk. Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu yang ditutup dengan cara dibanting sekuat tenaga. Memang Aisha itu enggak bisa tenang kalau tutup pintu.

Aleena geleng-geleng kepala, tersenyum tipis. 

"Anak itu, udah dibilangin berkali kali, kalau naik tangga jangan lari-lari," gumam Mama. 

Alfarezi beranjak berdiri. 

"Mau kemana, Rez?" tanya Abyaaz.

"Tidur," jawab Alfarezi singkat.

"Tidak. Kalian berlima pergi ke gudang sekarang."

Deg!! Aleena meremas celananya dengan tangan gemetar. Dia melirik Mama-nya yang terlihat ketakutan juga.

"Pa, udah, Pa. Kasian. Jangan dipukul-pukul gitu lagi, Pa," ucap Mama, berusaha menghentikan tindakan suaminya.

"Diam kamu, Lysa. Kamu terlalu lembut. Anak-anak bangsat kayak mereka ini, harus dihukum."

"Pa--" Mama menyentuh lengan Papa. 

PTAK! Papa mengibas tangan Mama dari lengannya. "MASUK KALIAN KE GUDANG HAH!!"

Aleena beranjak berdiri, kakinya serasa lemas. Dia memegang erat tangan Abyaaz.  Menunduk dalam-dalam.

Abyaaz memandang Aleena, lalu menatap Papa. "Pa, setidaknya biarkan Aleena tidur. Biar kami saja yang dihukum."

"Tidak ada terkecuali. Semua masuk!!" bentak Papa.

Mama bergerak cepat, menghalangi gerakan Papa. Menggeleng, menatap dengan tatapan tegas. "Tidak boleh!!"

BRUGH! Papa tanpa ampun mendorong Mama.  Mama jatuh terduduk. Papa hanya melirik dengan sorot mata dingin, lalu menarik paksa kelima anak kembarnya ke gudang. 

My Annoying BrothersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang