"Kenapa tuh muka? Jelek amat," komentar Noah, memandang ke arahku. Dia baru saja pergi beli jajan di kantin, sekarang dia mampir ke kelasku.
Aku sedang gabut di kelas, aku mager jalan ke kantin untuk beli jajan, jadi aku minta Lyn dan Ika untuk membelikanku jajan, titip. Jadi, karena tidak tahu mau ngapain, dan juga karena malas gerak, jadilah aku duduk saja di bangkuku, dengan kepala dibaringkan ke meja. Sedang berkhayal atau berimajinasi.
"Hah? Oh, kebangun tadi tengah malam. Enggak bisa tidur lagi."
"Terus, itu kepala, sama lengan, kenapa bisa begitu?"
Aku berdecak, "Bacot lu, ganggu imajinasi gua aja."
"Permisi," suara kalem, tenang, dan beribawa itu terdengar.
Pasti Amuro. Cuma dia satu-satunya anak yang paling sopan dan dewasa di sekolah ini. Yang lainnya, enggak waras. Ada aja kelakuannya. Tidak terkecuali aku.
Noah yang tadinya duduk di mejaku, melompat turun, dan ber-highfive dengan Amuro. "Yo, Amuro! Apa kabar? Lama enggak lihat."
"Kemana aja lu selama ini, Noah? Barusan kemarin bertemu sama Amuro. Dibilang lama enggak lihat?" tukasku judes.
Amuro berdiri di sebelahku, "Mau biskuit?" tawarnya, "aku juga bawain susu."
Seketika aku langsung duduk tegap, "Mau."
Amuro menarik salah satu bangku di dekatku, dan meletakkanya di sebelahku. Dia duduk di sana, dan menyodorkan kotak berisi biskuit, dan juga susu vanilla. Aku tanpa banyak cincong, langsung menyambarnya.
"Hati-hati, kesedak--" Amuro mengingatkan.
UOHOK! OHOK! Aku terbatuk-batuk, ada biskuit utuh yang tertelan, aku tersedak. Aku meneguk susu vanilla-ku.
Noah tertawa terbahak-bahak, "WAKAKAKAK! RASAIIN!!"
"Lu ketawa sekali lagi, kutendang bokongmu keluar dari kelas ini."
"Aih, galak banget," ucap Noah, masih dengan sisa tawanya. Dia mengambil beberapa biskuit dari kotak, "bagi-bagi, napa?"
Aku mengangkat bahu, ambil saja. Aku melirik Shu yang sedang tidur di pojok kelas, dia sering tidur waktu kantin atau bahkan saat sedang waktu pelajaran. Tapi saat mengerjakan soal, dia tetap bisa menjawabnya dengan benar. Dia bahkan pernah bulan lalu, bolos sampai tujuh hari berturut-turut. Tapi, I do not care, Kawand! Bukan urusanku.
Tiba-tiba terdengar seruan kencang Lyn, yang bahkan jika bicara saja sudah bikin sakit kuping. Disusul suara Ika yang juga tidak kalah kencangnya. Mereka berseru-seru memanggil namaku, dan kudengar langkah bergemuruh. Dua detik, sudah memasuki kelas, dia berlari ke arahku. BRAK! Ika menggebrak mejaku tanpa pikir panjang lagi, Lyn meletakkan titipanku dengan kasar ke mejaku.
"ICHA!"
Aku mendelik, "Ngapain lu pada? Kerasukan setan mana lagi?"
"Ichaaa!!" Ika mengguncang-guncang bahuku.
Amuro hendak menegur, tapi tidak didengar Ika. Jadilah dia hanya mengawasi dengan hati pasrah melihat kelakuan 'anak-anak'-nya yang super tengil.
"Icha, Cha, C-haaa!"
"APA?!!" Aku melotot, "kenapa lu? Tiba-tiba gagap begitu?"
"Cha."
"IYA, APA, BEGO?!"
"Itu, itu..." Lyn mengatur napasnya, lalu dia mengucapkan kalimat yang bagiku bagai petir di siang bolong. "Anak-anak lain, sudah tahu, kalau kamu itu adik empat kembar handsome itu."
BRAK! Aku tak sadar juga ikut menggebrak meja. Noah sampai bergidik membayangkan dirinya menjadi meja itu. "Apa?! Siapa... siapa yang beritahu?!" Aku memandang Lyn, Ika, Amuro, dan Noah dengan tatapan menyelidik.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Annoying Brothers
Teen FictionEmpat kakak laki-laki tampan, menyebalkan bin gregetan ini selalu membuat adik perempuannya kerepotan karena ke-posesif-an mereka. Sifatnya yang berbeda-beda, sulit ditebak. Pertengkaran selalu menjadi rutinitas wajib mereka. Pokoknya cerita ini bi...
