Bab 66

25 7 0
                                        

Tubuhku bergerak lincah, menghindari serangan-serangan kesepuluh preman sialan itu. Pisauku berkilat-kilat ditimpa cahaya bulan.

"Hati-hati! Dia kuat," seru si bos.

Aku tertawa kencang kesenangan. Aku sudah lama sekali tidak bertarung serius seperti ini. Sudah dua tahun lamanya. Saat ini, jantungku berdetak dengan amat cepat. Mataku tajam menatap lawan-lawan di hadapanku, gerakanku cepat menandingi kecepatan mereka. Dua tahun lamanya aku tidak bertarung seperti ini lagi, sampai aku merindukan sensasi ini.

"Ayo dong, yang semangat," aku berseru. "Yang lebih cepat!"

BUK! Aku membuat satu preman tersungkur. Aku tersenyum lebar, "Gak seru banget sih. Gitu doang langsung pingsan."

Tentu saja aku tidak membunuh mereka. Aku hanya membuat mereka pingsan. Bisa gawat aku kalau bunuh mereka.

"Ayo! AYO! SEMANGAT, BANGS*T!" Aku berseru. Aku melirik kiri kanan.

Aku diserang dari sisi kanan, kiri, depan, dan belakang. Pengecut sekali mereka, beraninya nyerang rame-rame. Aku jadi senang deh, rupanya dalam pertarungan serius begini, kemampuan bela diriku jadi makin berkembang. 

"Bagus! Tangkap dia!" si bos sibuk berteriak.

Nah, saatnya melompat tinggi. Tak sia-sia tiap aku mengompol tengah malam, karena asyik melompat sebelum tidur di kasur. 

DUK! Aku menahan tawaku sekuat tenaga melihat dua kepala preman dari sisi kanan dan kiri saling beradu. Gila, pasti sakit banget. 

Saat aku mendarat, aku bergerak dengan cepat, menggunakan kakiku untuk menendang orang yang menyerang dari sisi depan dan belakang. BUK! BUK! Telak mengenai kaki. Lalu tanpa ampun aku menggebukinya sampai pingsan.

Hingga bermenit-menit. Sampai lewat 10 menit. Aku baru teringat, kalau aku harus segera pulang. Atau tidak aku bakal diomeli. 

Aku menendang dua orang yang sudah tergeletak pingsan. Dan sekarang menyisakan satu orang. Si Bos. 

"Woe, pergi atau gua tendang anu lu?"

"J-jangan, ini aset berharga," si Bos tersudut di dinding gang. 

Aku mendekatinya, tersenyum sinis. Kuangkat pisau lipatku, "Mana ada aset berharga. Aset lu gak guna, soalnya enggak ada yang mau sama lu."

"E-enak saja!"

"Mau kusunat dua kali gak? Gratis loh," aku semakit mendekat. 

"JANGAN!! Hilang anuku nanti."

JLEB!

(Apa tuh yang ditusuk? Mwehehe)

Pisauku menancap di dinding tepat di bawah aset orang itu. Aku tersenyum lebar, "Pergi, atau gua tusuk beneran nih?"

"B-baik!" 

Tapi, sebelum dia menjauh. Aku menahan tangannya.

"Eits, tunggu dulu, jangan terburu-buru," aku menyengir. "Aku mau menawari satu hal."

"A-aapa?!"

"Mau bekerja sama denganku?" Aku tersenyum, "akan kuturuti satu permintaanmu, tapi yang waras."

*****

Aku memanjati dinding, menuju kamarku. Aku mengintip ke dalam kamar, tidak ada abang-abangku. Bagus. Aku melompat masuk.

"Nah, si nakal sudah datang."

DEG! 

"ANJRIT!" Aku berteriak kaget, memandang abang-abangku yang ternyata ada di depan pintu kamar. Kecuali Abyaaz, dia berdiri di sebelah jendela. Aku mulai ketar-ketir, mau kabur lagi, tapi ternyata jendela sudah dikunci lagi oleh Abyaaz.

My Annoying BrothersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang