Bab 22

78 26 0
                                        

Alfarezi berbaring di kasurnya, menutup matanya dengan lengan. Dia masih kepikiran kata-kata adiknya, Icha. Jadi selama ini, Icha membenci abang-abangnya karena itu? Memang sih, Alfarezi dan ketiga saudara kembarnya, memiliki masa lalu yang buruk. Tapi, kata-kata Icha tidak semuanya benar.

KHRRRROOOOOOOOOOOOOOOOOOOK!!!!

Sial, kenapa sih ketiga saudara kembarnya selalu mengorok sekencang itu kalau tidur? Barengan. Macam berlomba-lomba mereka, adu ngorok. Mereka tidur satu kamar, dan tentu saja satu kamar itu besar. Mereka tidur di kasur tingkat, Alfarezi tidur di bawah, Abyaaz di atas, lalu kasur tingkat satu lagi, tempat tidur si Amaar dan Asheer. 

Alfarezi mendesah, berguling-guling dan... BRUK! Punggungnya menghantam lantai. Alfarezi meringis kesakitan, langsung beranjak duduk, tangannya mengusap-usap punggung.

"Kenapa kau, Zi?" terdengar suara Asheer, suaranya sengau.

"Didorong jin, Sher."

"Oooooooh..." lalu Asheer mengorok lagi.

Alfarezi beranjak berdiri. Melangkah keluar kamar, dia mau minum, dan mungkin juga makan, kalau ada cemilan atau mie instan di kulkas. Saat melewati kamar Icha yang berada di sebelah kamar abang-abang kembarnya, Alfarezi berhenti sejenak. Membuka pintu kamar Icha, dan melongokkan kepalanya.

Hening. 

Alfarezi menutup pintu lagi. Lalu melanjutkan langkahnya ke dapur.

Begitu memasuki dapur, Alfarezi langsung membuka kulkas.  Dan melihat botol susu yang belum dibuka, dan juga ada mie instan. Tanpa banyak cincong, Alfarezi langsung menyambar keduanya. Sambil mengulum senyumnya yang langka (jarang ditunjukkan ke orang lain maksudnya, selain adik-adiknya), Alfarezi merebus air.

Kira-kira Icha sedang apa saat ini? Pingin menelepon, tapi takut adiknya makin marah, dan malah tidak mau pulang-pulang lagi. 

Seharusnya aku tidak melontarkan pertanyaan itu, Alfarezi menyesal. 

Beberapa menit, Alfarezi sudah asyik menyantap mie rebus-nya dengan nikmat. Meski ada sedikit penganggu, yaitu dengkuran tiga saudara kembarnya yang masih bisa kedengaran sampai dapur.

Alfarezi memandang mangkoknya yang sudah tandas. Dia baru tersadar, mungkin Icha tidak mau dekat-dekat abangnya di sekolah karena Icha tidak mau ada yang tahu dia punya abang, dan alasan Icha tidak mau ada yang tahu, karena Icha membenci abang-abangnya (?), mungkin.

"Yah, meski begitu, kami tetap tidak akan membencimu, Cha." Alfarezi menghembuskan napas.

****

OWWWAAAAAH!! Aku mandi dengan super cepat. Memakai seragam (Lyn memiliki seragam cadangan yang cukup untukku). Menyisir rambut juga asal-asalan, sempat mengutuki poniku yang menutup mataku. Kami terlambat ke sekolah, karena itulah aku buru-buru sekali macam orang dikejar setan. Aku menyambar ranse--

"WOI, ITU RANSELKU, CHA!!" Suara besar Lyn membuatku langsung menjatuhkan ransel.

Hah?

Aku baru tersadar.

"TYDAAAAAAAK!! AKU LUPA BAWA RANSEL!!" Matilah aku, tadi malam aku langsung pergi ke rumah Lyn, tanpa membawa persiapan. Bagaimana nih? Aku menggigit-gigit jariku.

"Cepatlah, Cha! Itu Bang Noah sudah nungguin!!"

TIN! TIN! TIN! Seolah belum cukup dengan suara Lyn yang menggelegar, Noah yang berada di dalam mobil (menunggu kami) terus membunyikan klakson. Aduh, keluarga ini memang agak aneh, masa Mama Lyn tidak ada protes sih? Bagaimana kalau tetangga mereka marah?

"Diamlah, jangan berisik napa!" Aku mendengus, lalu merogoh saku rokku, mengeluarkan handphone dan menelepon abangku. Mau tidak mau, aku tetap harus meneleponnya, aku akan meminta mereka untuk membawakan ranselku.

TUT! Teleponku langsung dijawab. 

Bagus. "BANG!! BAWAIN RANSELKU YA!! JUGA JAKET! Nanti bawa ke kelasku! BYE!!" Aku berkata secepat kilat.

"Hei, CURUT--"

TUT! Aku mematikan telepon, menyeringai puas.

"Nak! Sarapan dulu!" Mama Lyn berseru. 

"Enggak sempat, Ma!! Makan dijalan aja ya!" Aku dan Lyn menyambar dua roti bakar isi cokelat, lalu memasukannya ke mulut. "WOI, ADEK-ADEKKU YANG JELEK! BYE-BYE!!"

"Iye, kakakcu yang berisik!!"

Kami berlarian, dan melompat masuk ke dalam mobil. Belum lagi aku menutup pintu mobil, mobil sudah melaju. 

Bukan Noah namanya kalau mengendarai mobil tidak laju-laju. Sayangnya, jalanan sedang macet, diisi oleh orang-orang yang pergi kerja, juga anak-anak yang mau pergi ke sekolah. Tahu begini, mending aku minjem sepeda Lyn saja, kan lumayan bisa nyalip-nyalip.

Aku memakan roti cokelatku.

Mobil hanya dipenuhi ocehan Lyn yang tak pernah diam, bahkan meski mulutnya dipenuhi oleh roti cokelat. Oh iya, soal kemarin malam, soal Lyn yang mau menceritakan sesuatu. Rupanya dia cuma mau cerita tentang cowok Korea yang ganteng, memang aneh temanku yang satu itu. 

"Wey, Noah." Aku akhirnya membuka mulutku.

"Naon?"

"Kau itu beneran pindah ke sekolahku ya?"

"Yep. Aku sekelas dengan Amuro."

"Memang kenapa kau bisa dikeluarkan dari sekolahmu yang dulu, Noah?" Aku bertanya, lantas menjilati jari-jariku yang terkena selai cokelat.

"Hemmm...karena aku kentut sembarangan?" Noah terkekeh.

Aku mendelik.

"Bang Noah dikeluarin karena difitnah sama anggota gengnya." Lyn menjelaskan dengan senanghati.

What the heaven!? Difitnah? Kok bisa? Bukankah dulu Noah sangat dihormati di gengnya? Karena dia adalah ketuanya. Aku mengusap dagu.

Noah tersenyum tipis, "kita sudah sampai."

Sudahlah. Itu bukan urusanku. Aku membuka pintu mobil, melompat turun. Disusul Lyn.

Dan kami berdua langsung berlarian memasuki sekolah, meninggalkan Noah yang rupanya mendadak jadi babu Lyn. Noah bersungut-sungut karena harus membawa tas Lyn yang superberat, entah apa isinya.

Terus, ranselku? Ranselku di mana? Aku panik, celingukan. Jam segini pasti semua murid sudah masuk ke kelas. Kalau begitu, abangku tidak bisa mengantarkan ranselku!! Ah, kussshooooo!! Matilah aku, digantung sama guru killer.

Apa lebih baik aku tidak usah masuk sekolah saja?

Tapi Lyn sudah menarik tanganku, dan aku terpaksa saja mengikutinya.

Sesampainya di kelas, aku melihat si guru killer baru saja hendak memulai pelajaran. Aku melangkah melewatinya, menghampiri bangkuku. Dan terperangah melihat ranselku yang sudah tergantung di bangkuku.

Yeah, nanti kalau aku bertemu abang-abangku, aku akan berterima kasih. Aku menghempaskan diri ke bangkuku.

 *****


My Annoying BrothersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang