"Jadi, Anda ingin saya pergi dari sekolah ini?" Aku bersedekap dengan gaya santai. Masih mengunyah permen karet di mulut.
Regiuz memandangku dengan tatapan menusuk. "Kau masih bertanya setelah kau menyakiti anakku hah?"
Aku melirik Xian dingin, "Berhenti menangis, Xian. Kau bukan anak kecil yang apa-apa tinggal menangis. Bagaimana besarnya nanti?"
Xian melenguh bagaikan sapi mendengar ledekanku. Aku hanya memutar bola mata.
"Dih, gitu doang nangis. Aku aja yang kena sabet pisau, B aja tuh, gak ada nangis," ucapku jengkel. "Udah cengeng, caper, muka dua lagi. Sok imut, tcih."
Regiuz mengangkat tangannya. Memandangku sinis. "Kau seolah bisa melawanku saja. Kau tidak tahu siapa aku? Aku Regiuz Maharaja. Kau seberani itu, memang siapa orangtuamu hah?"
"Dia yatim piatu, Papa," Xian berkata, memandangku dengan tatapan mengejek.
Sedangkan aku hanya berdiri diam, memandang mereka. Tanganku mengepal, menahan amarahku habis-habisan. Aku harus sabar, atau tidak aku akan membuat masalah ini jadi lebih pelik. "Aku tidak yatim piatu," ucapku dingin. "Kau jangan sok tahu, tadi kau bilang Papaku tukang roti, sekarang bilang Papaku udah almarhum. Dasar mulut kuda. Omonganmu harusnya konsisten dong."
PLAK!! Xian menamparku sekuat tenaga.
Kepalaku tertoleh ke samping. Raut wajahku menggelap.
"Apa yang kau perbuat pada anakku?" suara dingin itu mampu membuat ruangan itu serasa beku.
Aku menoleh, kembali memasang wajah that's not my problem, "Halo, Om!"
"Papa."
"Oh iya, halo, Papa!" Aku mengangkat wajahku, "Lama gak liat."
"Iya, makin pendek aja, Dek," Om Afreen, atau kita panggil saja Afreen.
"Papa mau digigit?" Aku tersenyum RAMAH, "Nah, Papa urus Regiuz ya."
"Bentar, katanya kamu terluka?"
Aku menggulung lengan seragamku, memperlihatkan luka di bahuku. "Nih. Keren ya? Jadi kayak jagoan-jagoan di film-film." Aku tersenyum dengan raut wajah songkak.
Raut wajah Afreen menggelap. Aku menengadah, lalu melirik Xian dan Regiuz dengan tatapan penuh kemenangan. Aku duduk di meja kepsek, tidak peduli si empu sedang menatapku kesal dan ngedumel gak jelas.
Aku tersenyum lebar melihat Regiuz yang sudah ketar-ketir. Ya, tidak ada yang tahu kalau waliku adalah orang yang kaya, tapi kayanya kaya raya, punya banyak perusahaan yang terkenal. Satu perusahaan bangkrut tidak akan membuatnya harus mengorek-ngorek sampah. Dialah oomku, Afreen Vergafano yang sudah kuanggap ayah keduaku. Posisi Regiuz Maharaja bukan apa-apa bagi Afreen . Anggaplah Regiuz orang kaya yang paling bawah.
"Ha!" Aku mengulum senyum lebar, memandang Nina dengan dingin. "Sudah dibilangin, jangan cari masalah denganku," aku scroll layar handphone. "Yang kau lawan iki suhu, salah orang, kamu salah orang," aku mendadak menggoyang-goyangkan kepala dengan seringai lebar.
"Heh, berhenti, Icha. Nanti Om salah gerak nih."
"Biarin, lagi asyik joget nih, jangan ganggu."
"Apa yang anakmu lakukan pada anakku hah?" geram Afreen, sorot matanya terlihat mengerikan.
Aku geleng-geleng kepala, serem amat sih jadi orang. Kenapa keluargaku pada serem ya? Cuma Mama sama Ayah doang yang normal, enggak serem. Tapi abang-abangku seremnya minta ampun kalau marah. Aku menghembuskan napas, untung aku orangnya baik, gak psikopat, pinter lagi, nurut. Enggak ngikut sifat mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Annoying Brothers
Fiksi RemajaEmpat kakak laki-laki tampan, menyebalkan bin gregetan ini selalu membuat adik perempuannya kerepotan karena ke-posesif-an mereka. Sifatnya yang berbeda-beda, sulit ditebak. Pertengkaran selalu menjadi rutinitas wajib mereka. Pokoknya cerita ini bi...
