Empat kakak laki-laki tampan, menyebalkan bin gregetan ini selalu membuat adik perempuannya kerepotan karena ke-posesif-an mereka. Sifatnya yang berbeda-beda, sulit ditebak. Pertengkaran selalu menjadi rutinitas wajib mereka.
Pokoknya cerita ini bi...
"Hayolo, tanggung jawab lu, Maar, ngambek tuh si bayi," bisik Abyaaz. "Udah tahu Icha paling anti sama sambel, cabe."
Amaar mendengus, dia mengusap-usap telinganya yang dijewer Alfarezi. Menggerutu.
Sementara itu, aku mengamuk di kasur, berteriak-teriak, menendang kaki ke udara. Masih ada sisa cabe rawit di mulutku, dan itu membuatku menangis makin kencang.
"Kasihan, yang telinganya jadi telinga monyet," ucap Asheer. "Omong-omong, Icha lucu juga kalau ngamuk gitu, kayak bayi direbut mainannya. Apalagi, Alfarezi juga kelihatan bingung ngatasin anak itu, jarang banget lihatnya. Tontonan gratis."
"Cup cup cup, udah udah, jangan nangis. Nih, minum," sedangkan, si anak sulung, saudara kembar mereka yang tertua, sibuk mengurusi adik bungsunya yang meraung-raung. Aku tidak peduli kalau Alfarezi sudah kelihatan frustrasi, aku enggak akan berhenti.
Padahal sebenarnya, rasa pedas di mulutku sudah menghilang, tapi aku tetap menangis ala bayi, sengaja.
(Author: emang pengen tak hih anak satu itu)
Aku melempar bantal dan mengenai wajah Asheer yang hanya menonton di dekat pintu. BUK!!
"Apa salahku, Gusti..." batin Asheer.
PLOP!! Tiba-tiba sesuatu yang kenyal menyumpal mulutku. Aku seketika terdiam, memandang benda yang menyumpal mulutku, begitu sadar, aku langsung hendak menangis lagi. Bibirku melengkung ke bawah.
ANJRIT!! Masa si cewek paling dingin, barbar, galak di sekolah ini diberikan dot?! Kemana harga diriku hah?!!
"ABWANG JAWHHATT!!!" Part 2 menangis ala bayi itu pun berlanjut.
Sebaliknya dengan abang-abangku, mereka malah menahan tawa. Aku bisa melihat jelas dari wajah mereka yang sedikit memerah karena mati-matian menahan tawa mereka. Akhirnya, Asheer tak tahan, dan dia menyemburkan tawanya.
"ANG ANG ANG ANG!!! Jadi bocil, yaaaaah, bocilll!!"
"Emak ngidam apan sih pas ngandung kamu, Cha?! Kok bisa gemes banget!"
Aku menyambar bantal gulingku, melemparkannya ke mereka. Tapi, mereka berhasil menghindar, membuat tangisanku menjadi-jadi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
(author: Icha enggak jelek kok, jadi, jangan anggap Icha kayak stiker di atas yak, hwehwe)
Aku melempar dot yang tadi sempat kuulum, karena sempat penasaran juga rasanya kek mana, tapi mengingat harga diri, kegengsianku, aku melemparnya jauh-jauh. Aku menyambar tangan Alfarezi, membuat Alfarezi tertarik ke arahku, lalu aku menarik kaosnya, mengusap ingusku ke kaosnya.