✧Bab 34

58 31 4
                                        

"Kamu beneran enggak mau pesan mie ayam lagi?" Amuro bertanya.

"Enggak. Gak ada duit." Aku menjawab, sambil menepuk-nepuk celanaku. 

"Aku bayarin, Cha!!" Noah berkata, dan mengambil dompat di sakunya.

Aku mengibaskan tangan, "Enggak perlu. Nanti elu bokek."

"Beneran nih? Kamu enggak laper? Mau dibelikan yang lain?" Amuro bertanya lagi.

"Tidak usah, Daddy."

Tapi Amuro tidak melotot, dia memandang sekitar. "Atau kamu mau---"

"Heh, sudah kubilangkan , aku enggak mau. Lagian, kita juga udah mau lanjut main lagi kan. Tuh, pergi ke kasir sana! Bayar!"

Amuro dan Noah saling tatap, lalu mereka berdua meninggalkan meja, pergi menuju kasir. Aku memasukkan handphone ke tas selempangku. 

"Waduh, jutes amat sih, Mbake." Lyn tertawa keras-keras, "Tadi, mukamu lucu banget pas kepedasan."

"Diam kau, kalau kau tidak mau mati."

"Icha, jaga bicaramu, jangan kasar." Alfarezi berkata datar. Lalu dia dan saudara-saudara kembarnya, beranjak berdiri. "Kami mau pergi ke toilet dulu."

Wadaw! Kompak banget, semuanya barengan yak. Ke toilet pun barengan.

Aku merogoh-rogoh isi tas selempangku. Entah kenapa, tiba-tiba perasaanku tidak enak. Dan ketika sadar ada sesuatu yang hilang dari tas-ku, aku langsung panik. Kukeluarkan semua isi tas-ku dan tidak menemukan apa yang kucari.

Shuu yang merasa terganggu denganku karena aku grasak-grusuk dari tadi, melirikku, "Kenapa? Ada yang hilang, heh?"

"Uh....urgh..." aku mendekatkan tas ke mataku, melihat bagian dalamnya. Tidak ada. Aku berdiri, merogoh saku celana. "Dompetku... dompetku hilang." Aduh, padahal ada banyak duit kusimpan di sana, uang jajan yang kutabung berbulan-bulan, dan kubobol untuk beli sesuatu di dufan, tidak semuanya, hanya setengahnya. 

"Berapa banyak yang hilang?"

"Sekitar... 500 ribu..." Aku semakin panik. 

Ika menoleh, "Mungkin jatuh di jalan."

"O..oh, oke, aku cari dulu." Aku beranjak berdiri, "Nanti kalau kalian pergi ke wahana rumah hantu, aku nyusul ya."

"Mau kutemani?" Lyn menawari. Meski dia barbar, suara macam mau panggil setan di neraka (atau malaikat penjaga pintu neraka) dia itu tetap punya sisi baiknya. 

Aku menoleh, "Enggak usah. Kau mengganggu saja." Aku berkata, menolak. Biasa, gengsi. Dan aku sudah terburu-buru meninggalkan tempat mie ayam itu.

****

Sudah pukul 2 PM. Aku sudah mencari sampai dua jam, hampir seluruh tempat di dufan aku cek. Bertanya ke orang-orang, satpam kek, atau ibu-ibu yang ada di sana. Tidak ada yang tahu. Saking 'stres'-nya, aku sampai bertanya pada patung badut, "Dut, dut, badut gendut, lihat dompet gua gak?" (Badut bilek: ''Naon, gob**k.")

Aku ngos-ngosan. Aaaaaaaaargh, kenapa dompetku bisa hilang sih? Apa ada yang mencurinya? Atau aku meninggalkannya di suatu tempat?

"Hei!!" Suara Shuu membuatku segera menoleh.

"Hah? Apa?" ucapku ketus. Mataku sedikit membulat melihat wajah Shuu yang sedikit merah. "Kenapa? Hoi?! Kau sakit? Kerasukan jin lalat hijau telinga monyet?" 

Shuu menyodorkan jaket. Memandang ke arah lain. "Itu..."

"Hah?" Ada apa dengan orang ini?

"Itu-nya, bocor."

My Annoying BrothersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang