Empat kakak laki-laki tampan, menyebalkan bin gregetan ini selalu membuat adik perempuannya kerepotan karena ke-posesif-an mereka. Sifatnya yang berbeda-beda, sulit ditebak. Pertengkaran selalu menjadi rutinitas wajib mereka.
Pokoknya cerita ini bi...
Test. Satu dua tiga. Vote dulu boleh kali. Ya gak? Uhuy. Ini masih flashback ya gess.
****
"Adek kan cuma mau pergi ke taman, kok gak boleh?" Aisha protes, dia merengek-rengek dengan suara yang sengaja dia besarkan agar abang-abang dan kakaknya menyerah. "Cuma ke taman loh, mau smackdown bocah ingusan di sana."
"Hilih, mau smickdiwn konon~" ucap Aleena dengan nada Kak Ros. "Lagian, mau smackdown siapa sih, Dek?"
"Itu, ada bocah nakal, hobi banget nyuri cokelat Adek, atau dorong Adek waktu lagi main ayunan. Belum tahu aja kalau Adek niH bisa gigit sampe rabies," omel Aisha kesal. "Adek mau tawuran sama bocah bocah itu."
"Enggak usah. Abang aja yang pergi ke sana," kata Amaar, mengepalkan tinjunya. "Berapa usia bocahnya, Dek?"
"1 tahun, Bang," jawab Aisha polos.
"Tahan, Maar, jangan ngamuk, woi!!" Abyaaz menarik saudaranya menjauh.
"Bangke, kirain bocah seumuran lu, Dek! Mana bisa Abang banting bocil 1 tahun!" Amaar mendengus.
"Apa sih, Bang. Siapa juga yang nyuruh Abang banting?" ucap Aisha santai. Dia melambaikan tangan, "Ma! Adek pergi dulu, bye~!"
"Eh, Adek, tung-"Mama hendak melarang, tapi anak bungsunya sudah bergegas keluar.
Aleena mengusap wajah, melirik jam dinding. Jam 12 siang, tapi langit mendung sekali. Mungkin nanti akan turun hujan.
"Kita awasin aja tuh," ucap Asheer santai. "Ayo, siapa yang mau ikut ngawasin?"
"Biar aku saja," ucap Alfarezi datar. "Kalian di rumah."
"Lah, Rez, kan bisa bareng," ucap Amaar.
Alfarezi memandang dingin, "Si bangka tua itu bisa datang kapan saja dari kantornya yang sudah bangkrut itu. Dan boleh jadi Mama bisa dijadikan pelampiasannya. Jadi kalian di rumah." Lalu dia langsung pergi, menyusul si bungsu.
****
"Nah, gini kan enak, jalan jalan sendiri," gumam Aisha, lalu mengulum permennya dengan raut wajah nikmat. "Enggak ada yang ganggu, cerewet, gak boleh ini, gak boleh itu. Enak bener dah."
Dia mendongak, memandang awan kelabu di atas sana. "Mendung gini, enaknya makan es krim," ucapnya.
(Agak laen . _ .)
Aisha menyengir ketika teringat lagi kejadian di taman tadi. Dia berhasil membuat bocah ingusan yang sering mendorongnya itu, menangis dengan amat keras. Meski ibunya langsung datang, dan Aisha akhirnya dijewer dan diomelin.
"Uwow, gerimis," gumam Aisha, dia melempar stick lollipop ke tong sampah. "Dahlah, cepat pulang, nanti diamukin Abang sama Kakak."
"Lewat jalan pintas duluwh, mana tahu ketemu bocil toxic, terus bisa dibanting," Aisha menyengir kuda.
Tapi saat dia memasuki gang itu, tiba-tiba seseorang menarik tangannya, membekap mulutnya.
Aisha memberontak, menggigit tangan orang itu dengan amat keras. Orang yang menangkapnya refleks menarik tangannya segera sambil meringis. Darah segar mengalir dari tangan orang itu. Sedangkan Aisha langsung berlari kabur pontang panting.
"Tak kusangka. Kukira hanya menangkap bocah biasa. Rupanya bocah rabies," ucap orang itu dingin. Dia mengejar Aisha, dan dengan mudah menangkap kembali anak perempuan itu.
"Nah, kau tak bisa menggigitku lagi, Bocah," ucapnya santai.
Aisha mendengus, "Om mau apain saya? Jangan grepe-grepe saya, Om. Nanti pacar anime saya datang."
Orang itu menekan kedua pipi Aisha. "Pantas saja dia menginginkanmu, Bocah," dia tersenyum miring. Mendekatkan wajahnya.
TUNG! Suara tongkat baseball beradu dengan kepala orang itu terdengar amat renyah. Dan detik berikutnya, orang itu jatuh pingsan dengan tidak elitnya. Pantatnya nungging.
"Uwooh, Bang Rejii~!" Aisha melompat, langsung memeluk abangnya. "Tadi dia mau grepe grepe Adek, Bang!"
Alfarezi memandangnya datar, memeriksa adeknya, apakah ada yang luka. Dia melihat bekas merah di lengan Aisha, juga pipi yang sedikit merah akibat ditekan terlalu kuat. Dia melirik pelaku dengan tatapan dingin.
"Sudah dibilang, jangan pergi sendirian," ucap Alfarezi datar. Lalu menggendong Aisha.
"Santai, Bang. Adek ada gigi yang tajem."
"Buktinya tadi, Adek hampir aja diculik kan? Gigi Adek tetap enggak berguna."
Cklek. Alfarezi keluar dari kamarnya, memandang sekitar. Dia menuruni tangga, lalu menuju dapur. Mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih. Tepat saat dia ingin meminumnya, dia mendengar langkah pelan dari lantai atas.
Alfarezi meletakkan gelas dengan pelan. Entah kenapa firasatnya buruk. Dia melangkah cepat, kembali menaiki tangga untuk melihat siapa yang keluar.
"Apa yang mau Papa lakukan?" ucap Alfarezi dingin dan menusuk, menghentikan langkah pria yang hendak memasuki kamar Aisha.
Papa menoleh. Menyeringai. "Papa hanya memeriksa."
Alfarezi mengusap rambutnya, "Sebelumnya Papa tidak ada memeriksa Aisha di tengah malam seperti ini. Kurasa Papa ada niat lain," ucap Alfarezi datar. "Masuk sajalah ke kamar, Aisha baik baik saja."
"Apa apaan nadamu itu, Alfarezi Aldebaran?!" Papa berkata setengah membentak.
Alfarezi mengangkat bahu, menutup pintu kamar Aisha, lalu pergi ke kamarnya tanpa berucap apapun lagi.
****
Yap. Karena author lebarannya cuma di rumah, eh ada pergi ke rumah saudara, tp siangnya pulang ke rumah, terus rebahan, ketiduran. Bangunnya daripada gabut, mending nulis aja. Sesekali sambil baca webtoon.
Btw. Minal Aidzin Wal Faidzin, maafkan lahir dan batin~, kalau di cerita author ada yang bikin terganggu, maafkan. Kalau author ada salah, maapin ya. Lopyu, muach.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.