Empat kakak laki-laki tampan, menyebalkan bin gregetan ini selalu membuat adik perempuannya kerepotan karena ke-posesif-an mereka. Sifatnya yang berbeda-beda, sulit ditebak. Pertengkaran selalu menjadi rutinitas wajib mereka.
Pokoknya cerita ini bi...
"ABAANG REJII~" Aisha berlari-lari kecil. Tas besar bergoyang di punggungnya. Dia mengejar abang pertamanya yang sedang berjalan bersama Abyaaz, Asheer, dan Amaar ke arah gerbang sekolah. "Tungguin Adek~!"
"Enggak, Adek mah strong, stress tak tertolong, hehehe," Aisha tertawa cekikikan. Lalu melompat hendak memeluk Alfarezi.
Namun Alfarezi lebih dulu mencekal tangan Aisha. Cengkraman itu semakin keras, membuat Aisha meringis kesakitan. Dia mendongak, memandang wajah abangnya dengan raut wajah ingin menangis sekaligus bingung.
"Rezi!" Amaar mendelik, menarik tangan Aisha dari cekalan saudara kembarnya. "Kau ini kenapa sih? Adek enggak ada salah."
Alfarezi memandang Aisha dengan tatapan sinis dan dingin. Tidak mengucapkan sepatah kata pun, dia berbalik, dan melangkah cepat meninggalkan saudara-saudaranya.
"Si kulkas emang ya. Ngomong kek satu kata gitu. Ini sehari enggak ada ngomong-ngomong," gerutu Abyaaz.
"Tahu nih," Asheer mengiyakan.
"Mana?" Abyaaz menoleh.
"Apanya yang mana?" alis Asheer terangkat.
"Tahu-nya."
"GARING BANGS*D!" Asheer menabok pipi Asheer dengan penuh 'kasih sayang'.
****
"Yaaz, Yazz, wkwkwk," Amaar menahan tawanya, menunjukkan video kucing di handphonenya.
Abyaaz mengamati kucing di video itu, lalu ikut cekikikan. "Kucing opooo iki!?"
"Eh, si Adek, kenapa tepar di tengah jalan gitu? Misi, Abang mau lewat," Asheer menegur si bungsu yang sedang berbaring telentang di tengah-tengah ruang keluarga.
"Gabut, Bang."
Asheer menggendong adeknya lalu mendudukkannya ke sofa. "Duduk di sini. Kalau ngegabut bukannya baring di tengah jalan. Diinjek nanges. Apalagi Adek kan kecil, orang kalau jalan enggak lihat adek baring," ucapnya jahil.
"Mana ada Adek kecil, Adek udah gede," balas Aisha kesal, "kalau beneran nginjek Adek, buta tuh orang. Orang badan Adek segede gaban."
"Mana ada segede gaban, yang ada sekecil biji sawi," Aleena ikut jahil.
Aisha melotot galak, "Kalian jahil lagi, nanti Adek enggak mau ngobrol lagi sama kalian!"
"Cup cup cup, jangan nangis, Adekku tercayang," Amaar menyengir.
"Ngomonglah lagi kelen, nanti Adek gigit sampe masuk rumah sakit," ucap Aisha jengkel.
Kali ini mereka langsung bungkam. Aisha kalau ancamannya udah gigit, dia serius itu. Sekali gigit, satu menit baru dilepasin, sampe berdarah, tapi enggak sampe putus. Yakali ampe putus.
DING DONG! Terdengar suara bel berbunyi. Seketika Aisha lompat turun dari sofa, lantas berlari kecil ke arah pintu. Membuka pintu dengan semangat. "PAPA!!"
"Eh, Adek," Papa tersenyum.
Alfarezi yang melihat itu, mendengus. Tangannya memang memegang buku, dan kepalanya mengarah ke buku, tapi matanya terus melirik Aisha yang sedang bergelantungan di bahu ayahnya.
"Tch," dia mendengus. Meletakkan buku sembarangan. Lalu pergi menaiki tangga.
"Eh, Rezi mau ke mana?" Mama bertanya, membuat langkah Alfarezi terhenti.
"Ke kamar. Pusing," jawab Alfarezi singkat.
"Abang sakit?" Aisha berseru, melompat turun dari gendongan ayahnya. Berlari hendak menghampiri Alfarezi yang sudah di depan kamarnya.
"Berisik."
BLAM! Aisha meringis, mengusap pintu kamar Alfarezi dengan lembut. "Aduh, pintu kecayangannya Icha, jangan nangis ya? Yang kuat ya? Dunia ini memang keras."
Pintunya bilek: Salah gw apa, ampe dibanting sekeras ini.
****
Pukul 10 malam. Semua orang di rumah itu sudah pada tidur. Kecuali si bungsu. Dia berjalan mengendap endap ke arah dapur. Lalu membuka kulkas, mencari cemilan.
"Yah, gak ada jajan," Aisha menggerutu kecewa. "Kirain bakal ada susu vanila." Dia menutup pintu kulkas lagi. Lalu pergi meninggalkan dapur.
Sambil mengendap endap, Aisha memandang sekitarnya. Saat hendak memasuki kamarnya lagi, langkahnya terhenti begitu melihat pintu kamar Alfarezi. Dia jadi teringat perlakuan Alfarezi kepadanya. Memang apa salahnya sih? Dia cantik cool begini, malah dijahatin begitu. Aisha memutuskan memasuki kamar Alfarezi.
"Bagus, Abang udah tidur," ucapnya dalam hati. Dia melangkah mendekat ke kasur, lalu mengamati wajah abangnya.
"Diliat liat, Abang ganteng juga yak?" Aisha menyengir sendiri. "Tapi masih gantengan Dokja Kim yang pernah digambarin Kak Aleena."
"Abang tahu gak? Tadi, temen temen di kelas ada yang mukul mukul Adek, terus leher Adek dicekik pake dasi. Jadi, Adek balas pakai gigitan maut. Tapi merekanya jadi tambah ngamuk, terus tendang perut Adek," cerita Aisha pelan, dia tidak peduli abangnya sedang tidur, dia akan tetap bercerita. "Tapi, kenapa sih, Abang kayak marah sama Adek? Padahal kan Adek enggak ngapa-ngapain."
Hening. Menyisakan suara dengkuran halus Alfarezi.
"Tapi, Adek tetap sayang Abang!" Aisha tersenyum lebar, "Udah ah, mau balik kamar," dia berbalik. Sejenak dia berhenti, melirik abangnya lagi. Dia cepat-cepat mengecup pipi abangnya, lalu bergegas pergi dengan cepat.
Kelopak mata Alfarezi terbuka. Dia menggigit bibirnya. Mengepalkan telapak tangannya.
"Adek emang salah apa?" kalimat itu terngiang lagi.
"Tadi, temen temen di kelas ada yang mukul mukul Adek, terus leher Adek dicekik pake dasi."
"Tapi Adek tetap sayang Abang~!"
****
Yap, sorry, karena jarang upload, soalnya males ngetik hehe. Terus juga lagi lemes. Agak sibuk juga. Sibuk tidur maksudnya.
Btw, puasa kalian ada yang bolong enggak? Ada yang mokel gak tuh?
Jan lupa vote, klo enggak author datangin kalean, terus kupelototin sampai keluar laser.
Yaudah, smpe itu aja. Bye bye.
Muach.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.