Empat kakak laki-laki tampan, menyebalkan bin gregetan ini selalu membuat adik perempuannya kerepotan karena ke-posesif-an mereka. Sifatnya yang berbeda-beda, sulit ditebak. Pertengkaran selalu menjadi rutinitas wajib mereka.
Pokoknya cerita ini bi...
Test. Ichi. Ni. San. Nya, arigatoou~ kyaaa, eh, gak, gak, maap. Gabud. Jan lupa vote. Gampang kok, dapat pahala juga malah.
****
Pukul 00.00, di rumah sakit.
"U-uh..." aku meringis kesakitan, kepalaku pusing. Ingin tidur, tapi tidak bisa tidur. Aku memandang Abyaaz dan Asheer yang tertidur di bangku dengan posisi duduk, tepat di sebelah kasur. Sedangkan Amaar dan Alfarezzi tertidur di sofa, juga dengan posisi duduk.
Aku menelan ludah. As*, aku mengumpat. Mau muntah, mau pergi ke toilet, tapi enggak bisa jalan... Disebabkan keretakan di tulang kaki kiri-ku. Yah untungnya tidak terlalu, hanya retak ringan, mungkin bisa sembuh sekitar 4-6 minggu-an.
Aku mengerang ketika rasa sakit tiba-tiba menyerang sekujur tubuhku, perutku mual, pandanganku sedikit kabur.
"A...bang," aku memanggil, suaraku serak. "Bang..." Sial, sekarang pandanganku sudah tidak jelas sama sekali, semuanya terasa kabur. Tanganku meraba-raba, hendak membangunkan abangku.
"Dek?" terdengar suara Asheer, lalu disusul sentuhan di bahuku. "Kenapa?"
"Sa...kit..." aku menjawab lemah, tanganku sudah gemetaran, berkeringat dingin.
"Mananya yang sakit, hm?"
"Pusin..g, mau muntaah..." aku mencengkram tangan Asheer. Dan tanpa banyak cincong, emang perut-nya gak mau diajak kompromi, isi perutku keluar semua. Saat itulah, rasanya seluruh badanku sakit. Beneran sakit. Napasku terengah-engah.
Asheer mengusap-usap punggungku, tangannya memegang benda yang menampung muntahanku.
Hingga beberapa menit, isi perutku terkuras habis. Aku terkulai lemah di atas kasur. Pakaianku yang tadinya terkena muntah, sudah diganti oleh perawat.
Alfarezi--dia terbangun tadi saat Asheer memanggil perawat-- mengusap-usap kepalaku, merapikan anak rambut di dahi. Sedangkan Asheer memijati tanganku. Jir, aku merasa jadi orang paling lemah di dunia ini.
"Adek mau minum?" tanya Alfarezi, "ada yang sakit lagi? Bilang Abang kalau ada yang sakit ya?"
Aku tak menjawab, hanya memeluk erat tangan Alfarezi. Entah sudah berapa lama aku tidak, ehm, bermanjah ria dengan abangku. Rasanya nyaman sekali. Mataku perlahan terpejam.
"Badannya panas," terdengar samar-samar suara Alfarezi.
Dan gelap.
****
Pukul 06.30 di sekolah.
"GUD MORNENG, GESS! KONNICHIWA, TEMAN-TEMANKU YANG TERCINTYA! Tapi boong," suara lantang Lyn nyaris terdengar segala penjuru sekolah. Yap, biasa, pagi-pagi sudah terdengar suaranya yang bagaikan toa masjid.
GUBRAK! Seseorang jatuh dari langit-langit kelas, tepat di hadapan Lyn.
"EH KODOK AMAZON KEJEPIT PAGAR!" Lyn berseru kaget. "Bejir, Ka! Ngapain lu di atas sana?! Mau cosplay jadi cicak lu?!"
Lyn geleng-geleng kepala, dia mengusap wajah, "Astaga, betapa tulul-nya kawanku ini, Ya Allah."
Alhasil kaki Lyn jadi korban, diinjak Ika.
"Wah, wah, tumben sekali kalian tidak datang telat," terdengar suara perempuan dari belakang Lyn, nadanya terdengar congkak, menyebalkan sekali. "Biasanya kalian bolos bukan? Atau setidaknya datang telat satu jam-an. Hahaha, kebo. Contoh perusak dunia, bangun telat, masuk sekolah telat."
"Aduh," Ika menatap Xian dengan santai, "niatnya mau menikmati udara pagi, eh malah datang cewek 2ER, caper, baper, membuat suasana terkontaminasi."
Lyn tertawa ngakak.
Xian menggeram marah.
"Apa? Protes? Mau caper ke orang lain lagi? Playing victim?" Lyn menyeringai, "Heh, pagi-pagi gini, belum ada orang yang bisa lu caperin okeh? Jadi mending pergi deh."
"Apa-apaa--"
"Aduh, jangan marah-marah terus dong, nanti cepet tua. Lu kan udah jelek, makin tua makin jelek, nanti gak ada yang suka loh," cetus Ika, tidak memberi kesempatan pada Xian untuk membalas. "Iih, takutnya, serem banget mukanya, Xianjing. Jauh-jauh ih, takut, hiks," Ika pura-pura menangis.
"AWOKWKW, ngakak anjer!" Lyn mengusap-usap perutnya, "Udahlah, sana lu, Xian. Pagi-pagi udah ngeribut, minta disantet lu?" Lantas cewek cebol itu menarik tangan Ika. Melangkah memasuki kelas, sambil melempar tatapan yang mengartikan, 'kacangin aja'.
Ika menoleh ke belakang, menatap Xian yang juga sedang menatap mereka dengan mata mendelik, raut wajah-nya terlihat ingin menelan bulat-bulat mereka berdua. Ika menjulurkan lidah, melempar tatapan mengejek.
"Lu salah pilih lawan, Dek~" seru Ika, memanas-manasi.
Yap, kesabaran Xian yang memang setipis kebaikan-nya, habis. Dia menerjang Ika, tapi sebelum berhasil menyentuh tubuh Ika, cewek tomboi itu lebih dulu menghindar. Jangan salah, Kawand, Ika tuh karateka, dia punya refleks yang lumayan cepat. Gerakan Ika membuat Xian jatuh terjerambap.
Lyn menoleh, menghentikan langkahnya, memandang Xian yang terjatuh di lantai, dengan posisi yang sangat tidak estetik. Dia mencerna sejenak, hingga detik berikutnya, cewek cebol itu tertawa kencang. "MAMAM!! JATUH!! YAHAHAHAHA!! GAK ELIT BEUT LU ANJIR!!!"
"Eits, cewek ini memasuki wilayah kita! Bayar 100 ribu!" Ika menyeringai, dia berjongkok, mengulurkan tangan. "Bayar, cepet."
"GAK!" Xian menghempaskan tangan Ika, lalu beranjak berdiri dengan wajah memerah karena amarah. "Lihat aja! Kubuat kalian menyesal!"
"Silakan, kalau mampu," jawab Lyn tenang. "Anjay, kebanyakan gaul sama Icha, gua jadi jago debat. Keknya bisa lah jadi wali capres nanti."
Xian berbalik, hendak segera pergi. Tadinya dia berencana untuk berpura-pura menangis, seperti yang biasa dia lakukan, tapi saat ini tidak ada orang yang ada di dekat kelas itu.
"Eits," Ika menghalangi jalan Xian. Dia tersenyum lebar, mengedipkan sebelah matanya, menaik turunkan alisnya. "100 rebu."
"Gak bakal. Miskin."
"Oh? Gitu?" Ika tersenyum, "yaudah deh, segitu aja gak bisa, miskin beut." Dia menyingkir, membiarkan Xian lewat. "Dadah, Njing! Semoga harimu tidak meyenangkan!"
Sialan, umpat Xian dalam hati. Menahan malu dan amarah yang meledak-ledak. Tangannya mengepal erat. Liat aja, kupastikan kalian enggak bisa melawan seperti itu lagi.