✧Bab 40

50 13 0
                                        

"Kenapa kalian ada di sini!? HAH?!" Aku mendelik. Bersamaan dengan suara yang keluar dari handphoneku, rupanya aku belum mematikan handphone tadi, juga belum pause anime yang kutonton. Apalagi volume suaranya gede lagi.

"Datte kimi, yowai mo~"

"Gila, wibu lu? Husbu lu Gojo?" Shuu nyengir, dengan napasnya yang terengah-engah.

"Jadi, kalian semalaman di sini." Aku menatap mereka, "Ya udah, bye." Aku hendak menutup pintu.

"Hoi, bocaaah, jangan dong! Kami lapar," seru Eric sambil menahan pintu.

Aku menatapnya galak, "Lu pikir gua mikir?"

"Pleaaze!!!! Kami lapaar~" Eric berseru.

"Heh, bapak tua bangka, kalau lapar, emangnya urusan gua? Beli makan sendiri sana!"

"Dompetku dicopet."

"Yaudah, kau kan sudah om-om, tinggal ngutang, apa susah? Pergi sana!"

"Terus aku bagaimana?" Shuu menunjuk dirinya sendiri.

"Yeee, tinggal pulang ke rumah, minta makan, atau buat makan, selesai."

"PLEAAAZEE!!"

Sialan, kenapa mereka berdua mendadak jadi kompak sih? Aku jadi khawatir kalau suara mereka kedengaran sama tetangga. Aku menghembuskan napas, membuka pintu lebih lebar. "Yaudah, masuklah." Aku bergegas ke meja makan, lalu mematikan handphoneku yang terus berisik dari tadi.

"Dan, obati luka kalian dulu, lalu pergi mandi sana. Akan kupinjamkan baju abangku. Pakai saja kamar mandi yang ada di kamar abangku. Awas kalau kzalian berisik, nanti kudepak kalian." 

Mereka berdua melangkah tersaruk-saruk menaiki tangga. "Oh iya, kamar abangmu di mana?" Shuu bertanya.

"Di sebelah kamarku, ada papannya yang tulisannya, 'AAAA'."

"Oke."

Aku mendengus, kembali duduk, dan menyalakan handphone. Aku kembali menonton anime, dan menikmati mie rebus. Sesaat aku melupakan kalau ada dua orang sialan itu. Tapi itu lebih baik daripada mikirin mereka terus kan? 

Hingga lima belas menit, aku meletakkan mangkok dan gelas kotor ke wastafel dan langsung mencucinya. Aku melirik jam dinding. Berangkat sekolah masih sedikit lagi. Aku meletakkan mangkok dan gelas dengan pelan. Lantas merapikan meja makan.

Yap! Akhirnya selesai. Aku menjentikkan jari. Gosok gigi juga sudah. Sedikit lagi waktunya berangkat sekolah.

GEDEBAK-GEDEBUK! GEDA GEDI! Shuu meluncur lewat pegangan tangga. Di susul Eric. Aku hanya bisa memandang datar, tidak berkata apa-apa. Eric itu sudah om-om, tapi kelakuannya masih kayak anak kecil ya? Memang, masa kecil kurang bahagia. Kapan-kapan akan kuajak dia main perosotan di taman depan.

"Shuu, kau bawa seragam?"

"Enggak," jawab Shuu santai. 

Aku mendelik, "Jadi, kau tidak sekolah? Ck, itu tidak boleh terjadi. Pulang sana."

"Untuk?"

"Pakai seragam."

"Bolos sehari enggak papa kali." Shuu menjawab dengan nada sengak, matanya tertuju pada handphonenya.

"Oooh, jadi kalau kau sekarat misalnya, butuh bantuan. Telat sehari enggak papa?"

Skakmat. Akhirnya aku bisa menbungkamkan mulut orang satu itu. Aku mengusap rambutku dengan penuh gaya. Berseru penuh kemenangan di dalam hati.

"Mana sarapan kami?"

Seruan di dalam hatiku seketika terputus karena pertanyaan itu. Aku mendelik ke arah Eric, "Heh, masa sarapan aku yang masakin? Masak sendiri sana."

"Ceplokin telur dong, Cha."

"Ogah. Sana, masak sendiri kalian berdua." Aku mendengus, lalu meninggalkan dapur. Duduk di sofa yang ada di ruang tengah. Mendesah. Aku memainkan handphone, memeriksa Whatsapp.

Ada chat dari Alfarezi, di group chat yang hanya ada kami berlima, Alfarezi, Abyaaz, Asheer, Amaar, dan aku.

Alfarezzi: Sudah makan?

Aku mengetik jawaban.

You: Sdh

Alfarezzi: Oh

Sialan, masa cuma oh? Tapi, memangnya apa lagi yang kuharapkan? Aku hendak mematikan handphone, tapi urung ketika terdengar suara PING. Ada chat yang masuk.

Abyaaz: Lagi ngapain?

You: Beraq, nih, lagi kentut *emoji moai

Asheer: Buset *emoji muntah

You: Lagi ngapain lu pada?

Amaar: Mandi berjamaah.

You: ...

You: yg bener aj

Asheer: Lagi mikirin kamu.

You: *emoji muntah x4

You: Gak sekolah kalian?

Amaar: Gak, izin dulu. Lagipula, meski izin beberapa hari, kita tetap pinter kok.

You: Bct kalean. 

Alfarezi: Icha berangkat sekolah sendirian?

You: Y

Alfarezi: Hati-hati.

You: Y

Asheer: klo ada orang jahat, jepit aja 'bola'nya.

You: Ok

Aku mematikan handphone. Melirik jam dinding, sudah waktunya berangkat. Tapi, Shuu dan Eric belum selesai sarapan. Tidak mungkin kan aku meninggalkan mereka berdua di sini? Bisa-bisa pulang nanti, keadaan rumah sudah macam kapal pecah. Aku berdiri, menghampiri meja makan. 

"Cepat habiskan sarapan kalia--"

"Sudah." Shuu dan Eric berdiri sambil membawa piring kotor, dan meletakkanya di wastafel. 

"Yaudah, keluar kalian. Aku mau kunci pintu."

"Aku tetap di sini saja," sahut Eric cepat. "Percayalah, rumahmu tidak akan kurampok."

Bagaimana mungkin aku bisa percaya pada orang yang pernah menabrakku dan baru kenal semalam? Aku menatapnya penuh kesangsian. Eric yang mengerti maksud tatapanku, menepuk dadanya.

"Dibilangin, percayalah padaku, nanti kau pulang, rumah pasti sudah kinclong. Bersih, no debu."

"Oke, awas aja kalau ada barang yang hilang." Aku sudah tidak mau berdebat lagi, nanti terlambat sekolah. Bisa kena amuk Mr. Bald. Aku  melangkah cepat, "Shuu! Cepat."

"Eh, kau nebeng motorku?"

"Enggak. Aku naik sepeda. Kamu naik motor. Kamu kan mau ambil seragam dulu>'

"Oh iya."

****

Yep 700+ kata, nich. Sumpah, enggak ada ide lho untuk nulis. Tapi, aku harus nyelesain ceritanya. Lagipula, aku sudah kepikiran endingnya. Jangan lupa di vote dan comment ya! 

Salam hangat dari Ellaria (author) ('。• ᵕ •。')

Bonus gambar ( ≧ᗜ≦)

Bonus gambar (  ≧ᗜ≦)

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

****


My Annoying BrothersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang