YO! Konnichi-whatsup, guys!! EHem, test. 1.2.3. JAN LUPA VOTEE!! Arigatooouu~
***
"IKA!!"
Suara pukulan itu terdengar amat renyah, kepalan tinju Ika masih mengambang di udara, sedangkan Sera sudah terduduk dengan hidung yang mengeluarkan darah. Kantin yang tadinya hening, makin hening dibuatnya. Tapi tak bertahan lama, beberapa detik berikutnya, terdengar bisik-bisikan, yang semakin lama terdengar bagaikan dengungan lebah.
Ika mengusap rambutnya, melirik Sera dengan tatapan tajam. Dia mengangkat bahu.
"S-SERA!! Kamu gak papa?" Xian terlihat panik, dia berjongkok di sebelah Sera. "Astaga! Hidungmu berdarah!"
Sarah menoleh, memandang Ika dengan tatapan penuh amarah.
"Wow," Lyn melongo. Noah menyikut bahunya, melototi adek sepupu-nya yang sedikit mengganggu suasana yang sedang tegang ini.
"Maap, tangan gua lagi gatal banget tadi, mau ninju muka si titisan iblis ini," ucap Ika datar, tidak ada lagi wajah yang terlihat tolol, sekarang wajahnya bagaikan MC-MC di anime anime yang sedang membela kebenaran.
"APA LU?! MAU NINJU JUGA?! TINJU AJA!!" Ika berseru, mengedikkan dagunya. Berkacak pinggang. Raut wajahnya menantang, membuat Sarah tidak bisa menahan emosi-nya lagi.
BUK!!
Tinju Sarah telak mengenai wajah Ika.
"Ssssh..." Ika meringis.
"IKA!!" Amuro berseru.
"Sante, Amuro, B aja ini," Ika terkekeh sinis. Dia mengusap wajahnya yang terasa sakit. "Tenang aja, gua enggak bakal hajar nih setan. Lagian, buang-buang waktu aja kelahi sama bocah manja. Cari masalah mulu, giliran terancam, langsung sembunyi di ketiak emak." Dia bergerak, hendak kembali duduk, tapi tiba-tiba cewek tomboi itu bergerak dengan sangat cepat.
BRUGH!! Tendangannya telak mengenai dagu Sarah.
Aku melongo, "Omagah, seru beut ini kelahinya."
"Ika! Udah, Ika, itu mukanya udah bonyok, kasian," Amuro berusaha menghentikan Ika yang masih saja meninju wajah Sarah tanpa ampun. "Aku tau kamu marah, tapi jangan dibuat sekarat dong," ucap Amuro pelan, "kalau dia udah mati duluan, terlalu enak dong?"
Bejir, aku kira Amuro yang selalu berwibawa, yang selalu tampak dewasa, dan juga bijak ini, bakal melontarkan kalimat lain, rupanya sama aja 'kewarasan'-nya dengan teman-temannya, alias kami semua.
Aku melangkah mendekat, menepuk punggung Ika dengan ujung tongkat krukku. "Udah, Ika, gua tau gua terlalu mempesona, sampai lu enggak mau ada yang doain yang enggak enggak untuk gua. Tapi, jangan dibuat mati dulu anak orang, nanti gua enggak kebagian. Ok?"
Ika menghembuskan napasnya kasar, "Harusnya lu langsung aja hajar ni orang, tiga cewek caper, harusnya nih tiga iblis, dilempar aja ke sungai Amazon, digigit piranha ampe sisa tulang aja," ucapnya sadis.
Noah dan Lorenzo saling tatap, lalu geleng-geleng kepala. Sudah terbiasa dengan kalimat kalimat sadis dari teman-temannya yang memang kelewat 'normal'.
"Waduh, mukanya peyot, jelek banget lu pada," aku berbalik, tersenyum lebar melihat keadaan Sera dan Sarah yang merintih kesakitan. "Cuma Xianjing aja yang belum ya?" Aku terkekeh.
"Udah, Cha, jangan mulai-mulai," Amuro mengingatkan.
Aku mendengus, "Iya, Dad."
Xian menoleh, menatapku dengan tatapan seolah ingin menelanku bulat-bulat. "Lihat saja, akan kubu---"
KAMU SEDANG MEMBACA
My Annoying Brothers
Teen FictionEmpat kakak laki-laki tampan, menyebalkan bin gregetan ini selalu membuat adik perempuannya kerepotan karena ke-posesif-an mereka. Sifatnya yang berbeda-beda, sulit ditebak. Pertengkaran selalu menjadi rutinitas wajib mereka. Pokoknya cerita ini bi...
