Test. Satu. Dua. Tiga. Ehem, vote dulu gak sik?
Selamat membaca.
****
Beberapa minggu berlalu. Hari Kamis, pukul 4:00 pagi.
Akhirnya, setelah sekian lamanya aku terkurung di rumah doang, bareng abang-abangku yang semakin lama makin cerewet, ini itu enggak boleh, sampai jenuh aku dibuat mereka, sekarang aku sudah bisa kembali bersekolah. Meski masih menggunakan kruk, untuk membantu jalan, tapi kurasa beberapa minggu kedepan aku sudah bisa berjalan tanpa bantuan kruk lagi. Sebenarnya aku sudah bisa jalan sih, tapi enggak bisa terlalu jauh, mungkin hanya untuk berdiri saja masih bisa.
Tapi, yah, masa bodo lah! Orang saya mau ke sekolah, biar bisa makan bakso di kantin. Sudah bolos berapa hari aku memakan bakso itu.
"Sip, udah wangi semriwing, udah cantik juga, sampe keknya semua kaum Adam bakal kesemsem ama guah," ucapku penuh percaya diri. Tangan kiriku mengusap dagu, lalu kupasang wajah sigma, "kan, emang gua tuh terlalu sigma. Siapa coba yang enggak kesemsem ama---"
"Lho? Dek? Cepet amat bangun, mana pagi pagi udah ribut," pintu kamarku terbuka setengah, Asheer melongokkan kepalanya.
Aku yang kaget, refleks melempar sisir yang tadi kupegang.
"Jir, Dek, sante aja kali kagetnya," Asheer melangkah masuk.
"Walah, Bang!! Datangnya udah kek jelangkung aja, datang diundang, pulang enggak dijemput mamih!!" repetku sembari mengelus dada, aku mendelik.
"Datang gak dijemput, pulang gak dianter kali," Asheer mendekat. Dia mengusap rambutku, "udah cantik aja Adek-ku, mau ngapain sik?"
"Sekolah lah, kemana lagi?" Aku mendengus.
"Biasanya datang ke sekolah berantakan, sekarang kok rapi?" tanya Asheer dengan nada curiga. "Mau ketemu siapa?"
"Gebetan donk, siapa lagi coba? Uhuy, mwehehehehe," aku cekikikan, berlagak salah tingkah atau malu malu, padahal bukannya nampak salting, yang ada sudah seperti orang nge-fly.
Tapi, tak kusangka, reaksi Asheer bisa sampai membuat jantungku nyaris copot, merosot turun ke telapak kaki. Asheer dengan gerakan yang mampu membuat nenek nenek mati seketika ditempat, saking mendadaknya, mengguncang bahuku dengan kuat.
"SIAPA!?! Cowok mana?! Bawa sini, biar Abang hajar ampe babak belur!"
"Lah?" Aku melongo.
"Kamu gak boleh pacaran, pokoknya gak boleh. Nanti kalau udah 40 tahun."
"YAKALI YE AKU NIKAH PAS UMUR 40 TAHUN!! Ga warass!!" Aku menyergah sebal.
Asheer hendak memelukku, tapi aku bergegas mundur, melototi dengan galak. "Gak peduli, pokoknya kamu gak boleh pacaran. Kalau kamu lagi naksir seseorang, bilang ke Abang, biar Abang nilai dulu---"
"Cerewet beut, jir! Canda doang kok!! Orang gua cuma laig pengen rapi aja, bukan karena pengen ketemu crush!!" Aku mendengus, "Sana luh, jauh-jauh! Nanti gua ngambek, nanges lu!"
"Ehem..."
"Sori, Abangku yang ganteng, mulut Adek gak sengaja kasar gitu," aku langsung berdiri tegak.
"Abang maafin kalau kamu peluk Abang," ucap Alfarezi santai.
Aku mendengus, mengikuti apa yang dia bilang, memeluknya dengan cepat, lalu bergegas menuruni tangga secepat kilat.
"Tcih, modhus," cibir Asheer, melirik Alfarezi yang sedang cengar-cengir tidak jelas.
***
BRAK!!
KAMU SEDANG MEMBACA
My Annoying Brothers
Teen FictionEmpat kakak laki-laki tampan, menyebalkan bin gregetan ini selalu membuat adik perempuannya kerepotan karena ke-posesif-an mereka. Sifatnya yang berbeda-beda, sulit ditebak. Pertengkaran selalu menjadi rutinitas wajib mereka. Pokoknya cerita ini bi...
