Bab 48

38 8 0
                                        

Kusentuh gagang pintu kamar Aleena. Alih alih dingin karena jarang dikunjungi, gagang pintu itu terasa hangat. Kurasa abang-abangku sering ke kamar saudara kembar cewek mereka. Mungkin aku yang paling jarang ke kamar ini, sejak kepergian Aleena, aku cuma dua kali masuk, dan setiap kali aku masuk ke kamar itu, aku menangis. Dan aku benci kalau aku menangis.

Kulangkahkan kakiku ke dalam kamar itu. Tanganku bergerak menyalakan lampu.

Kamarnya tetap sama dengan kamar saat Aleena masih hidup.

Tidak ada yang berubah. Letak meja belajar, kasur yang rapi, lukisan-lukisan Aleena yang dipajang di dekat meja belajarnya, buku-buku yang tersusun rapi, tercium aroma parfum yang sering digunakan Aleena. 

Mataku tertuju pada meja belajar Aleena, ada bekas cakaran di sana. Seingatku, keluargaku tak pernah pelihara kucing. Aku melangkah mendekat, menyentuh bekas cakaran itu, setelah diperhatikan lebih dekat, itu bukan cakaran kucing, itu bekas cakaran dari kuku manusia. Tapi... siapa?

Aku memandang lukisan-lukisan Aleena. Aleena memang pandai menggambar dan melukis, setiap hari saat dia masih hidup, dia selalu melukis atau menggambar. Mataku terhenti pada salah satu lukisan yang terkesan dark, lukisan itu menunjukkan anak perempuan dengan tatapan mata kosong, dengan background ruangan yang berantakan, anak perempuan itu bersandar di dinding, di dinding tersebut ada bercak darah, dan tulisan depression, juga coretan-coretan lain, pokoknya lukisan yang satu itu terkesan dark. Seram.

Aku baru pertama kali melihat lukisan ini. Aku kira Aleena hanya membuat lukisan yang cerah, ceria, tenang seperti dirinya, tak kusangka dia akan membuat lukisan se-dark itu. Aku menyentuh lukisan itu, anak perempuan yang ada di lukisan itu, sedikit familiar, tapi aku tidak yakin siapa itu.

Aku duduk di pinggir kasur, "Numpang bentar, Kak, kasurnya."

Dulu, setiap malam, aku selalu ke kamar Aleena sebelum tidur, menonton Aleena melukis. Aku suka melihat setiap gerakannya saat melukis, tangannya tampak lentik. Setiap aku datang ke kamarnya untuk melihatnya melukis, Aleena selalu tersenyum ramah, menyuruhku duduk di sebelahnya. Aku suka mendengar suara lembutnya. Dia selalu terlihat cantik. Tapi, tentu saja sebagai saudara, pasti ada saja pertengkarannya atau kejahilannya. Misalnya, saat aku gabut dan malas mengejarkan PR, aku menyembunyikan alat lukis Aleena. Saat Aleena mengetahuinya, dia akan mencubit pipiku sambil mengomel. Atau kadang Aleena yang menggangguku, saat aku sedang mandi, dia matikan lampunya, membuatku berteriak keras-keras.

Besok, aku akan mengunjungi makam Aleena. Sudah sebulan lamanya aku tidak mengunjunginya.

TUK! Ada suara seperti sesuatu yang dilemparkan ke jendela kamar Aleena. Disusul suara seperti suara burung hantu. Aku langsung melangkah menuju jendela, membuka  jendela, dan melongokkan kepala.

"Oi, Shuu! Kau belum pulang?" Aku sedikit mundur ketika Shuu muncul di hadapanku. "Aish, dekat banget sih."

"Emangnya kenapa?" Shuu menyeringai, malah makin mendekat. Sekarang dia sudah duduk di atas ambang jendela.

Aku melototinya. "HEH! Elu udah cukup nakal di sekolah, jangan malah jadi playboy juga!"

"Mana ada. Gua tuh setia."

"Tcih, gua gak peduli soal muka lu yang ganteng, tetap bakal gua tampol kalau berani kek gitu lagi!"

"Baby, calm down, calm down," Shuu malah pargoy di sana.

"Aih, rupanya, malem-malem begini, lu enggak cool sama sekali ya?"

"Widih, berarti lu tahu kalau gua tuh cool di sekolah?"

"He eh, sok cool tepatnya," sahutku, "yaudah! Pergi sono! Pulang! Pelakunya udah ketemu, jadi lu harus pulang! Gua laporin ke Amuro besok kalau lu gak pulang-pulang! Biar kena ceramah!" Aku mengibaskan tangan. 

My Annoying BrothersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang