Bab 71

26 7 0
                                        

Test. P. Satu. Dua. Tiga. Vote sister, brother.

***

Aku membuka mataku perlahan, cahaya lampu yang begitu menyilaukan menyambutku. Membuatku langsung memicingkan mata.

"Ini di mana?" Mataku mengerjap-ngerjap. Aku perlahan beranjak duduk, dan menyandarkan tubuhku. Sudut mataku melihat jam di tanganku yang sudah menunjukkan pukul 3 sore. Sepertinya aku pingsan terlalu lama. Soalnya setelah disabet oleh Nina, aku langsung pingsan, bukan karena Nina-nya, tapi karena kepalaku yang pusing sekali.

Sesaat, akhirnya aku sadar. Aku berada di UKS.

Aku mengerutkan dahi melihat orang-orang yang berdiri mengelilingiku.

"Ngapain kalian? Minta sembako? Maaf, gak ada," ucapku.

Lyn menabok bahuku.

Aku meringis, "Sakit, Bego!" Aku melotot. 

"Icha gak papa?" Amuro memandangku cemas. "Ada yang sakit? Mau dibawa ke rumah sakit gak?"

Memang ya, Amuro itu emang genius, tapi sekalinya cemas level tinggi, otaknya langsung nge-bug, kecemasan yang sering dialami bapak-bapak posesif ke anaknya. Dah jelas bahuku habis kena sabet pisau, yah pasti sakit atuh.

"I'm ok, I'm fine, gwenchana," ucapku. "Shuu, munduran lu. Stay halal brother."

Shuu menggaruk-garuk lengan tangannya. Cengengesan.

"Jangan coba-coba peluk adek gua," Noah melotot, seolah bisa membaca pikiran Shuu saat ini.

"Au nih, Icha gak bakal mau sama makhluk astral ke elu," lanjut Lorenzo, mengacungkan jari manis ke arah Shuu.

"Apaan coba?" Ika mendengus, mencibiri Noah."Mana ada Icha Marpuah adek elu."

"Lu panggil gua Icha Marpuah lagi, gua banting lu ke tanah," ucapku kasar. "Mana si anak caper itu? Udh mati belum?"

Raut wajah mereka mendadak berubah.

Ika terkekeh sinis, "Dia mengadu ke papanya. Jadi, saat ini Papanya lagi mengomel-ngomel, ngamuk di ruang Kepsek."

Lyn mendengus, "Murid baru, mana tahu kalau Icha backingannya Kepsek."

Ya. Mungkin kalian belum tahu, aku ini akrab dengan Kepsek. Dulu sejak kematian Aleena, dan aku nge-drop, Kepsek orang kedua yang membantuku bangkit lagi. Jika depresiku kumat, Kepsek yang mengurusku, bukan dengan obat, melainkan dengan mengajak main catur. Sering juga aku nobar bareng Kepsek waktu lagi bolos, bolosnya ke ruang Kepsek. Tapi Kepsek membatasi waktuku, sampai tiga puluh menit, aku disuruh kembali ke kelas. Belajar. Kalau enggak, nanti enggak ditraktir bakso. Emang gajelas kepsek yang satu itu. Tapi, tak bisa kupungkiri, dia adalah orang terfavoritku di sekolah. 

"Tapi, tetep aja," Noah terlihat panik, "Kepsek tetap kalah sama Papa."

"Apaan sih," ucapku, dengan santai mengibaskan tangan. "Papanya Amuro jauh lebih kaya tauk. Terus, masih ada Oom-nya aku. Kalau aja aku ngadu ke Oom, pasti udah bangkrut perusahaan Papa-mu, Noah. Cuma aku orangnya baik."

Tiba-tiba aku merasakan getar dari saku rokku. Aku menyibak selimut, sembari mengangkat telepon. Aku sengaja membesarkan volume agar yang lain bisa mendengar.

"Sup, Pak Tua. Ada apa?" Aku menyengir.

"Yo. Ini ada masalah..."

"Masalah apa tuh, Pak Tua?"

"Bokapnya anak yang kamu bilang caper, datang. Nih, ruangan saya udah babak belur."

"Ok, terus?"

My Annoying BrothersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang