Esok harinya. Hari Selasa. Shuu sudah berada di sekolah bahkan sebelum pagar dibuka, dia ingin segera meminta maaf pada Icha, tapi orang yang dia cari tidak terlihat batang hidungnya. Dia sampai mengelilingi satu sekolah untuk mencari Icha.
"Anu," Shuu menepuk bahu Ika. "Icha mana?"
Ika menoleh, "Ngapain cariin? Mau cari ribut lagi?"
"Eh, enggak tuh. Lu main nuduh aja," ucap Shuu jengkel, lalu dia memandang Ika, "oh ya, terima kasih."
"Terima kasih karena apa?"
"Terima kasih tanganmu itu membuatku tersadar."
"Owh, baguslah. Kapan lagi bisa ninju orang brengsek kayak lu?" Ika menjawab santai. "Nah, biar terima kasihnya makin sempurna, beliin gua bakso."
"Ogah dih. Beli aja sendiri," ucap Shuu, dia menyeringai, "kasiaan, dompetnya kosong ya? Rasain, lagian punya duit, langsung dikokop semuanya."
"Gua tendang alat vitalmu itu."
BRAK!! Pintu kelas dibuka dengan cara dibanting. Seorang cewek cebol melangkah masuk, berteriak dengan suaranya yang amat besar, "WEEH!!! WEH!! JAMKOS!! Guru-guru pada rapat!!!"
"YEEEEEEEEEEEEEEEEEEY!!" seisi kelas langsung berseru girang bukan main. "BEBAAAS!!"
"Oi, Ka, lu belum jawab, Icha mana?"
"Sakit, Blok."
"Berani lu ya, setelah tangan lu ninju muka gua."
"Beranilah, yuk gelut."
"Kuylah!" Shuu memasang senyum pepsodent, yang lebih mirip senyum psikopat.
Ika mendengus, "Kamu beruntung. Saat ini perutku sedang sakit, jadi aku mau ke kamar mandi dulu."
"Bilang aja takut."
"Kagak."
"Eh, eh, Ka. Icha sakit apa?"
"Demam."
"O-oh," Shuu mengangguk. Sial, padahal dia sudah bela-belain bangun pagi-pagi, masuk sekolah lebih cepat daripada biasanya. Dia kembali ke bangkunya yang paling pojok. Daripada ngegabut, mending tidur aja. Mumpung jamkos.
****
SIAAAAL!!! Pingin rasanya jambak rambut abangku yang paling dingin ini. Masa aku tidak dibolehkan sekolah hari ini? Padahal aku sudah sembuh. Sehat. Tidak ada lagi rengekan mengeluhku, pagi-pagi sudah damai sentosa. Dan, tebak, sekarang aku dikurung di kamarku. Mau sekeras apapun aku mengamuk, merengek, mereka tetap tidak membiarkanku sekolah. Tenggorokanku sampai sakit karena terus berteriak seperti anak tantrum.
(author: emang tantrum)
Berjam-jam berlalu, aku mulai menyerah. Tenagaku juga mulai habis. Aku melompat ke kasur, menyelimuti seluruh tubuh dengan selimut tebal.
Terdengar suara kunci pintu diputar, lalu perlahan pintu terbuka.
"Icha," Amaar melangkah masuk. Abang-abangku juga enggak ikut sekolah, alasannya? Karena tidak mau adiknya kabur seperti kemarin. Soalnya kemarin aku sempat kabur, aku mengotak-atik kunci pintu seperti pencuri profesional, alhasil aku bisa keluar, tapi 'diseret' masuk lagi oleh abangku, karena sialnya aku bertemu dengan mereka saat aku sedang nongkrong santai di warteg.
Aku menutup kepalaku dengan bantal. Aku tahu, sikapku saat ini sama persis dengan anak kecil yang ngambek. Tapi, siapa peduli.
"Ulululu, adeknya abang ngambek ya?"
"Bacot lu, Njing."
"Heh, mulut. Abang cubit baru tahu."
Aku tidak menjawab.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Annoying Brothers
Ficção AdolescenteEmpat kakak laki-laki tampan, menyebalkan bin gregetan ini selalu membuat adik perempuannya kerepotan karena ke-posesif-an mereka. Sifatnya yang berbeda-beda, sulit ditebak. Pertengkaran selalu menjadi rutinitas wajib mereka. Pokoknya cerita ini bi...
