(Test. Satu dua tiga. Vote, Sis, Bro.)
****
Hari ini berlalu seperti biasa. Tidak ada keributan. Ya, tidak ada perubahan. Anak-anak di sekolah masih terus membicarakanku. Sebagian besar dari mereka, bilang aku jauh sekali dengan abang-abangku, mereka bilang aku jelek. Ck, ingin rasanya aku berteriak kencang bilang, "Emang lu cantik/ganteng?".
Tcih. Aku kepingin ngehajar muka Cecil, Nina, dan Mira itu, enak sekali mereka nyebar-nyebarin tentangku. Aku yakin mereka yang nyebarin. Enggak mungkin teman-temanku. Apalagi Lyn, meski Lyn itu tukang gosip number one di sekolah ini, dia enggak bakal nyebarin rahasiaku.
Saat ini, aku sedang dalam perjalanan pulang. Naik mobil Noah. Nebeng seperti biasa.
"Wey, Cha," Noah memanggilku.
"Apa?" ucapku dengan sedikit ngegas.
"Gak ada."
Aku hanya bisa tersenyum lebar dengan hati dongkol, "Bangs*d."
"Eh, Cha," Lyn sekarang yang memanggilku, "lu napa kagak nginep di rumah om lu yang kaya raya itu?"
Aku mengscroll layar handphone, melihat-lihat IG orang. "Mereka sibuk."
"Oh ya, blackcard yang dikasih abangmu itu, beneran ya?"
"Beneran lah, Njir. Lu kira apa? Kartu UNO?" ucapku sedikit jengkel.
"Santai, Sis, cuma nanya, kok ngegas."
Aku mengangkat bahu.
"Lagi sensitif dia keknya, habis diusir sama abang-abangnya," sahut Noah. "Kangen dia tuh."
"Mana ada. Ogah banget gua kangen sama empat abang sialan," sergahku.
"Eh, Cha, jadi adek gua yuk?" Noah menyengir.
"Dih. Males," jawabku cepat.
"Yaaaaah."
"Adek lu kan Lyn."
"Ah gak asik dia mah, main handphone melulu. Galak bat lagi," ucap Noah. "Cebol lagi."
"Lah, di wetped aja, adeknya cebol-cebol."
"Tapi imut, lu kan kagak."
Lyn berdecak, "lu tau gak? Icha gak mau jadi adek lu?" tanpa menunggu jawaban Noah, Lyn langsung melanjutkan, "Karena lu jelek."
"Lah, Alfarezi yang orang bilang ganteng aja, Icha juga gak mau tuh," Noah menyahut tak mau kalah.
"Diem ya, Bocah-bocah. Kalian jadi adek aku aja."
"Idih idih," Lyn memasang wajah jijik. "Ogah ah, lu mah, kalau mau angkat orang lain jadi adek, bukannya disayang, dijadiin babu."
"Lah, emang itu kan gunanya adek?"
"Dahlah, capek bicara ama Icha."
Aku mendengus. Yaudah, kenapa ajak bicara tadi?
****
"Aku akan menuruti permintaanmu, asal yang masuk akal."
Si bos yang rupanya bernama Theo, menatapku.
"Jadi, mau gak nih?" Aku memutar-mutar pisau di tanganku. "Lumayan loh kerjasama aku."
Dia tidak menjawab.
"Kau bantu aku nangkap bosmu itu, aku akan menuruti permintaanmu," ucapku lagi, "intinya, kamu jadi babuku, hehe." Aku mengulurkan tangan, "mau gak?"
Theo menjabat tanganku. "Oke."
"Baiklah. Kita buat surat kontrak dulu. Juga buat persumpahan. Kau harus bersumpah, kalau kau berkhianat, kugorok lehermu."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Annoying Brothers
Novela JuvenilEmpat kakak laki-laki tampan, menyebalkan bin gregetan ini selalu membuat adik perempuannya kerepotan karena ke-posesif-an mereka. Sifatnya yang berbeda-beda, sulit ditebak. Pertengkaran selalu menjadi rutinitas wajib mereka. Pokoknya cerita ini bi...
