Empat kakak laki-laki tampan, menyebalkan bin gregetan ini selalu membuat adik perempuannya kerepotan karena ke-posesif-an mereka. Sifatnya yang berbeda-beda, sulit ditebak. Pertengkaran selalu menjadi rutinitas wajib mereka.
Pokoknya cerita ini bi...
"Heh, sedang apa om om jelek itu?" Asheer berbisik, "mau dia apakan Icha?"
Alfarezi, Abyaaz, dan Amaar mengangkat bahu, menatap ke arah yang sama.
Seorang pria berpakaian mencolok berdiri bersama Icha--masker hitam menutupi separuh wajahnya, topi hitam dengan corak merah menutupi sebagian matanya. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana hitam. Kepalanya menoleh ke sana ke mari, seolah memastikan tidak ada orang lain di sekitar mereka. Gerak-geriknya mencurigakan.
Ya, saat ini mereka berempat, tengah mengikuti adik perempuan mereka. Diam-diam, tentu saja. Mereka mengawasi dari seberang restoran.
"Mukanya gak keliatan, anjir, kukira assasin udah gak ada di Konoha," cetus Amaar.
"Iya, curiga gua, keknya dia mau nyulik Icha, deh," sahut Abyaaz.
"Nyulik? Kasihan banget yang nyulik, hidupnya jadi sengsara." Asheer menyengir.
Alfarezi menggetok kepala mereka satu persatu, "Diem."
"Siap, Ketua!"
Mata Alfarezi kembali tertuju pada sang adik kesayangan, tapi pria misterius yang berbincang dengan sang adik, sudah menghilang.
****
"Apa aja yang dia bilang, Cha?" tanya Lyn, penasaran.
Aku meliriknya, mengangkat bahu. "Dia bilang, mau berak. Tapi gak bisa cebok."
"Aduh, ucul amat sih temen gua, jadi pengen banting," Lyn tersenyum 'manis'.
"Kemana lagi kita?" aku memilih mengalihkan pembicaraan. "Langsung pulang aja? Kalian harus pulang sebelum ashar kan?"
"Iya lagi," Ika merengut. "Ya sudahlah. Kita pulang, aku lagi gak mood debat sama emak."
Aku memandang mereka sejenak, lalu mengedarkan pandangan. Mataku tertuju pada pria yang duduk di pojokan. Aku mengembalikan atensiku pada dua sigung Amazon, "ayo, pulang. Minta Noah ke sini, Lyn, aku malas jalan kaki."
"Awokawokawok, Noah jadi sopir taxi dadakan," cetus Ika, tertawa ngakak.
*****
"Samlekum, Para Mamang Mamang Ireng!" Aku berseru.
"Keluar, Cha," suara dingin itu sukses membuatku terlonjak kaget disusul raut wajah bingung.
Alfarezi berdiri tegak di hadapanku, dengan tangan yang terlipat di dada. Menatapku datar.
Hah? Gua diusir nih ceritanya? Salah gua apa??
"E-eh? Aku diusir, Bang?" tanyaku sambil mengusap tengkuk, menelan ludah dengan kasar.
"Bukan. Keluar, masuk lagi."
"Kenapa?"
Asheer melangkah keluar dari dapur, dengan roti selai cokelat di tangannya, "Apaan masuk bilang 'samlekum', yang bener 'Assalamualaikum', maksudnya begitu, Adekku Sayang."
Oh.
Aku menyengir, melakukan apa yang dibilang Asheer. Kemudian, kurebahkan tubuhku ke sofa, dengan lengan di dahi.
"Cuci tangan dulu, Cha," ujar Abyaaz dari lantai atas.
"Ini bukan masa covid, Bang, sans aja," aku menyahut malas-malasan.
Alfarezi mengacak rambutku, "Meski bukan masa covid, tetap cuci tangan."
"Nanti aja, sekalian mandi," aku mengibaskan tangan.
"Jangan tidur. Shalat Ashar dulu, terus mandi. Mandi yang bersih, jangan cuma asal siram siram aja. Jangan main air, air mahal. Setelah itu, bantu Bang Amaar masak," seru Abyaaz lagi.
Dengan gerakan pelan, aku berjalan menuju tempat wudhu. "Bawel bet sih jadi Abang."
****
Menu makan malam hari ini sudah terhidang rapi di meja. Masakan Amaar memang tak pernah gagal.
Sekarang kami berempat sudah duduk 'manis' menghadap meja, sementara itu Asheer masih berada di toilet. Tanganku sudah menggenggam sendok, menatap hidangan yang tampak lezat. Menu malam ini adalah, sop iga. Yap, sop iga adalah makanan favoritku nomor 3.
"Lama banget Bang Asheer! Eek-nya emang sepanjang apa sik?!" Aku berseru tak sabaran.
Abyaaz melototiku. "Heh, bisa tidak jangan bilang eek di depan makanan?"
"Dih, gitu aja marah, gak jelas," balasku tak mau kalah. "Gak usah ditanggepin kali, anggap aja 'eek' itu cokelat."
Abyaaz hendak membalas, namun Asheer yang baru saja keluar dari toilet, melerai.
"Sudah sudah, jangan bersaudara."
"Ini juga satu odong odong Afrika, lama beut lo ngeden."
"Yeu, macam enggak pernah eek keras aja," sahut Asheer, duduk di sebelahku. "Ayo, makan."
Setelah membaca doa, kami berlima memulai makan malam. Abyaaz dan Amaar mengoceh, membahas kucing peliharaan tetangga, katanya suami-nya ada tiga. Asheer ikut menimbrung, dan akhirnya pembahasan melantur ke mana mana. Aku fokus pada makanan, sambil sesekali mengawasi mangkuk besar berisi sop iga, takut kehabisan. Alfarezi hanya sesekali menimpali.
"Oh iya," aku menuangkan kuah sop ke mangkuk. "Boleh?"
"Boleh dong, apa sih yang enggak," Abyaaz, Amaar, dan Asheer menjawab serentak. Sedangkan Alfarezi hanya menatapku tanpa mengucapkan apa-apa.
"Tapi, janji dulu, jangan marah atau langsung nanya balik, ok?"
Keempat abangku mengangguk, memandangku dengan sorot mata penasaran.
"Sebenarnya, Eric itu siapa?"
Hening seketika. Menyisakan denting sendok yang diletakkan ke atas piring. Aku menelan ludah. Ada apa ini?
"K-kenapa emangnya? Eric itu siapa sih? Kalian kenapa?"
Kupandang keempat abangku yang hanya diam membisu, tangan mereka menggerak-gerakkan sendok, tapi bisa kurasakan lirikan tajam yang mengarah padaku.
"Jauhi orang itu, Aisha."
****
YO! YO! Sudah lama gak up ye? Ehehehe, maaf, gak ada ide sik. Lagi ada tugas gambar juga.
Jangan lupa di-vote, soalnya aneh aja, apa susahnya ditekan tuh bintang :)
Gak maksa.
Yaudah bye!!! Mwach!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.