☆Gambar diatas jangan diaku-aku milik kalian. Gambar diatas buatan author sendiri☆
****
Aku mengetuk-etuk meja dengan sumpit.
"Berisik, Cha."
"Tutup mulutmu, Abyaaz." Aku melotot.
PTAK! Abyaaz menjitak jidatku. "Aku abangmu ya, Cha, jangan panggil nama doang."
"Tutup mulut kalian berdua."
Kalimat Alfarezi membuat kami bergegas duduk tegak. Dan, mulut kami terkatup rapat. Wadaw! Aku baru tahu, Alfarezi rupanya memiliki kemampuan hipnotis orang? Jadi orang dingin banget sih. Aku memonyongkan bibir, mendorong mangkokku. Memberi tatapan memelas ke Alfarezi, plisss, mangkokku duluan yang diisi mie.
Asheer menyikutku, "Aku duluan-lah!"
"BGSD! AKU DULU---"
Alfarezi menutup mulutku. "Jangan bahasa kotor. Sekali lagi bahasa kotor, ku-bejek-bejek kalian."
Wah, ancaman yang mengerikan, Pak. Aku memandang mangkokku dengan antusias yang sudah terisi dengan mie rebus. Kuahnya... wuaaah, aromanya lezat banget. Aku mengangkat sumpit. Mwehehehe... kita tandaskan mie rebus ini.
***
Aku melompat turun dari mobil. Sudah sampai di sekolah.
Kalian bertanya-tanya gak sih, aku turun dari mobil siapa? Mobil abang kita dong. Meski aku sudah berkeras tidak mau ikut dengan mereka, mereka malah mengangkatku, lalu memaksaku masuk ke dalam mobil. Sudah aku gigit-gigit mereka, tetap saja mereka enggak kapok, dan besok berniat untuk memakai persiapan lengkap, agar selamat dari gigitan drakula-ku.
"Kalian enggak boleh menemui selama di sekolah. Atau, kubuat kalian kena rabies dariku."
"Enggak takut." Abyaaz dan Amaar menjulurkan lidah. "BYE-BYE, ADEKKU TERCAYA--"
Aku refleks menendang kaki mereka. Asheer dan Alfarezi juga terlihat kaget meski bukan kaki mereka berdua yang kutendang.
"Jangan bilang begitu di sekolah." Aku mendelik, "Bilang begitu sekali lagi, pulang-pulang kalian tinggal nama."
Abyaaz dan Amaar meringis. "Iya, iya... kenapa sih, sensitif banget sama kata 'adek'."
Aku meninggalkan mereka.
Begitu aku memasuki kelas....
"ICHAAAAAA!!! I MISS YOU!!!!" Suara Lyn yang besar banget membuatku berteriak kaget. Juga saat dia berhambur ke arahku.
Bahkan Ika juga.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!" Aku refleks mengayunkan tanganku.
PLAK!! Tak sengaja menabok pipi Lyn dan Ika.
"Auw! Tega-nya kau menabok teman sendiri!" Lyn berseru dengan suara besarnya.
Aku menelan ludah. "Aduuuh, maaf. Salah kalian sendiri, langsung menerjangku saja. Aku kan jadi kaget!"
"Makanya, suaramu tuh dikecilin, Lyn." Shuu memandang Lyn dengan tatapan datar.
Wow! Ada Amuro dan Noah juga. Aku melangkah hati-hati menuju bangkuku, lalu saat duduk, aku memandangi kakiku yang masih bengkak akibat terkilir. Aku mengangkat wajahku, dan melihat mereka semua tengah memandangku. Bahkan teman sekelas yang lain.
Aku yakin, yang ada di pikiran mereka, kemana kau kemarin, Icha? Meski dua tahun lalu reputasiku sangat buruk, sekarang aku tuh dipeduliin banget sama teman sekelas tahu. Aku memang tetap dingin dan masih sering bawa cutter ke-mana-mana (bahkan kadang pisau lipat lho), tapi aku tidak sejahat dulu. Nanti-lah kuceritakan, sejahat apa aku dulu setelah 'insiden itu' terjadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Annoying Brothers
Teen FictionEmpat kakak laki-laki tampan, menyebalkan bin gregetan ini selalu membuat adik perempuannya kerepotan karena ke-posesif-an mereka. Sifatnya yang berbeda-beda, sulit ditebak. Pertengkaran selalu menjadi rutinitas wajib mereka. Pokoknya cerita ini bi...
