Bab 74

31 8 0
                                        

Jangan lupa votenya, ygy. Gak mau? Gpp. Sante aja.

 Sante aja

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

****

"Silakan cokelatnya, Nona," ucap Septian dengan nada datar. Dia menyodorkan bungkusan plastik berisi 9 cokelat.

Aku menyambarnya. "Thank you, Aseep!" Lalu kuambil satu cokelat, menyodorkannya ke Septian. "Ambil nih."

Septian mengangkat sebelah alisnya. Tidak mengerti.

"Lu budek apa begimana? Ambil nih cokelat," ucapku, langsung meletakkan cokelat ke telapak tangan Septian. Lalu lanjut kubagikan ke yang lain.

"Untuk gua mana?" Ika dan Lyn mengangkat tangannya.

"Gak ada. Beli sendiri lu sana," jawabku santai. Aku membuka bungkusan cokelat, "Emmm.... enaknya~" ucapku dengan sengaja, menunjukkan cokelat yang terlihat menggoda ke depan mata Ika dan Lyn secara bergantian. "Cokelatnya meleeer~"

"ICHA, KASIH SATU NAPAAA!!" Lyn meminta dengan suara menggelegarnya.

Aku menyengir. Memberikan mereka masing-masing satu cokelat. Lalu bergegas berdiri dengan tegak ketika kereta melesat dengan kecepatan yang memelan di depan. Aku melangkah masuk begitu pintu kereta sudah terbuka, dan mataku sudah sibuk mencari kursi kosong. Tapi tidak ada. Mustahil menemukan kursi kosong di kereta yang sudah penuh dan menyesakkan ini. Aku menarik tangan Lyn dan Ika. "Woi, THEO! ASEP! Siapalah namanya, masuk cepat, -jing. Ketinggalan entar kelen!"

"Wadaw!! CHA! TOLONG! Gw kehimpit!!" Ika berteriak. Dia tidak peduli sudah banyak orang yang memandang ke arahnya dengan sorot mata julid.

"Norak lu, Ika! Kayak gak pernah naik kereta aja!" Lyn berseru dengan suara kerasnya. 

Ya Allah, semoga hari ini enggak ada korban yang budeg karena Lyn.

"Emang gak pernah!!" Ika membalas.

Aku mengusap dahiku. Memandang ibu-ibu yang juga menatap ke arahku.

"Bukan temen saya, Bu. Mereka nyasar, jadi saya bantuin," ucapku cepat.

"ICHA!! Kukira hubungan pertemanan kita spesial!!" Ika melotot. "Tak kusangka, hiks, hiks, sroooot."

Aku memilih pura-pura tidak mendengar.

"Kasian banget, Ma, kakak yang itu. Masih muda tapi udah gila," aku auto sakit perut karena menahan tawa begitu mendengar kalimat itu yang diucapkan bocah kecil yang berada di sebelah ibu-ibu yang menatapku julid tadi.

Ika melototi anak kecil itu. Membuat anak kecil itu melengkungkan bibirnya ke bawah. Lalu menangis kencang. Ibunya langsung menoleh. Ika bergegas memalingkan wajah, menepuk bahu pemuda yang memakai masker dan topi hitam, yang kebetulan berdiri di sebelahnya. Kalian tahu kan, amarah seorang emak-emak itu seramnya enggak bisa diampunkan lagi? Apa kalian pernah membayangkan, emak-emak ngamuk, sambil bawa sapu dan panci, lalu menghantam pala kalian pake panci.

My Annoying BrothersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang