Bab 87

15 7 0
                                        

Test. Satu. Dua. Tiga. Ehem, vote dulu gak sik? Ini vote makin nurun ༼⁠;⁠'⁠༎ຶ⁠ ⁠۝ ⁠༎ຶ⁠༽, masa cuma 7?!

****

"M-maafin Adek," aku menangis sesengukkan, peduli setan aku nangis di depan Shuu, peduli amat sama si monyed itu.

Alfarezi terpaku di tempat, tapi perlahan tangannya balas memelukku. Mengusap-usap punggungku. "Adek gak salah."

"Gak, gak," aku tersendat-sendat, kesulitan bernapas. "Adek salah, Adek sering buat Abang marah, Adek sering bilang 'benci Abang', Adek..." kalimatku terputus, karena batuk. Aku menolak air yang disodorkan Shuu. "A-Adek udah denger semua dari Tante Amira, P-Papa..." tangisku mengencang.

Abyaaz duduk di sebelahku, menepuk bahuku, menguatkan. Begitu juga Amaar dan Asheer.

"M-Mama, Mama gak kenal Adek," aku sesengukan. "Dan itu karena Adek... Adek gak hati-hati pas di jalan itu, Adek jatuh, Kakak mau nolong.... terus.... terus, ada motor..." sungguh, aku tidak kuat membayangkan kejadian itu lagi, "kalau Kakak enggak pergi, Mama pasti gak hilang ingatan."

"Maaf... maafin Adek. Semuanya salah Adek," aku perlahan melepas pelukan.

Alfarezi menarikku, dan merengkuhku dengan erat. Melabuhkan pipinya ke ubun-ubunku. "Adek gak salah, ingat itu."

"Iya, Adek gak salah, yang salah tuh, bapak tua bangka itu, Dek," ucap Amaar, menurunkan kepalanya untuk menatapku yang masih berada di dalam rengkuhan Alfarezi.

"Maaf, Abang gak pernah cerita ke kamu, semua yang diceritain Tante Amira," kata Abyaaz, tersenyum getir. "Abang gak mau merusak ekspetasi kamu tentang Papa. Abang juga gak mau kamu jadi kepikiran terus, makanya Abang gak pernah cerita tentang Mama."

Asheer mengangguk, "Iya, setelah Aleena meninggal aja, kamu udah se-drop itu, apalagi kalau tahu kabar Mama."

Alfarezi sedikit menjauhkan kepalaku dari dadanya, menatapku lamat-lamat. Tersenyum. "Setidaknya Adek selamat," aku bisa melihat matanya berkaca-kaca, "jangan buat Abang merasakan kehilangan lagi, Dek."

*****

Pukul 20.00 di rumah sakit, ruang rawat Icha.

"Ih, jelek bet lu," Shuu terkekeh, menatapku yang masih rebahan tanpa melakukan apa-apa dan mataku yang bengkak.

"Diem," ucapku kasar. Aku melirik pintu kamar mandi yang tertutup, kapan Amaar selesai mandi? Aku sudah tak sabaran lagi menghadapi Shuu yang entah kenapa jail banget saat ini. Pengennya sih, tak tendang ampe ke kerak neraka paling bawah, tapi karena hati mungil-ku dan sifatku yang bisa disamakan dengan malaikat, aku urung melakukannya.

Btw, abang-abangku yang lain, Abyaaz, Asheer, dan Alfarezi, lagi pergi beli makan, untuk makan malam ini. Tadinya aku disuruh makan makanan yang sudah disiapkan sama perawat tadi, tapi entah kenapa, aku tak selera makan masakan rumah sakit, jadilah aku merengek minta ke abang-abangku untuk membelikan makanan. 

"Ciee~, udah damai sama abang-abangnya tuch~" Shuu tertawa. "Akhirnya, kasihan juga aku liat abang-abangmu itu, dicuekin mulu, padahal mereka mau manja-manjain kamu."

"Diem."

"Jadi penasaran, si bungsu manja sama abang-abangnya."

"Diem."

"Jirlah, garongnye," ucap Shuu, dia merebahkan tubuhnya ke sofa. "Aku ora iso tidur."

"Gak nanya, dan gak peduli," tukasku. Beranjak duduk, sedikit meringis karena kepalaku yang sedikit pusing.

Shuu geleng-geleng kepala, "dibilangin, kamu baring aja dulu, gak usah banyak gerak."

"Bangke, cuma duduk, masa dibilang banyak gerak?" ketusku, "jangan bikin kesel lu, gua lagi mode senggol bacok."

"Yeeeee, badan mungil gitu, enggak cocok ngebacok cowok ganteng kek aku. Cocoknya tuh, jadi masa depan aku."

HOEEK!! Aku menutup mulutku dengan telapak tangan, dan menatap Shuu dengan tatapan kasihan sekaligus kesal. "Tolong, jangan ngegombal di-sini. Bukannya makin membaik, yang ada aku makin memburuk."

Shuu justru menyengir lebar, "cie, salting."

Salting?! Anjim, emang agak laen cowok satu tu. Apakah raut wajahku saat ini tampak seperti orang yang salting?!! Omaga, tidak kusangka, temanku yang genius, rupanya terlalu genius hingga jadi bodoh begini.

"Gimana sekolah?" tanyaku, mengganti topik.

"Biasa."

"Xianjieng gimana?"

"Biasa, ngerusuh. Caper."

"Oooh," aku kembali melamun.

Shuu menghembuskan napas, "cepet sembuh dong, Cha. Ga seru kalau sekolah gak ada kamu. Gak ada yang teriak-teriak, gak ada yang memimpin kerusuhan di kelas."

Aku diam saja.

"Jangan melamun terus napa, nanti setan-setan pada demen ngerasukin."

"Apaan, enggak ada ngelamun tuh," dengusku.

"Hilih, emang anak pinter, enggak pandai bohong kamu ye. Jelas-jelas tadi kamu lagi ngelamun tauk."

Aku mendelik, "Banyak bacot, sana lu."

"Lamunin apa sik?" Shuu tidak juga diam, "ayahmu? Ibumu? Abang-abangmu? Kakakmu?"

"Semuanya."

Hening sesaat.

"Yah, aku enggak begitu pandai ngehibur atau nasehatin sik, soalnya aku sendiri butuh nasehat," ucap Shuu santai. "Tapi, saranku, kamu jangan terlalu memikirkan terlalu keras apa yang sedang kamu pikirkan saat ini. Jangan terus menyalahkan diri, kakakmu meninggal bukan karena kamu, ibumu hilang ingatan bukan karena kamu. Jadi berhenti."

Shuu terdiam cukup lama. Dia mengusap tengkuk, "Yah, sudah kubilangkan aku enggak pandai menasehati orang. Aku cuma bisa ngeroasting orang. Tapi aku ingin bilang sesuatu," ujarnya, "kamu tidak sendirian, kamu bisa cerita masalahmu ke aku, ehm... yeah, kalau enggak mau, bisa cerita ke abang-abangmu, Ika, Lyn, Amuro, dan lain-lain. Kami... uuuuhh.... hm, selalu ada di sisimu, sampai kapan pun. Apapun yang terjadi."

Aku menoleh.

Shuu mengacak-acak rambutnya sendiri, memalingkan wajah. "Terus yaa, kamu tuh, selalu ada di hati ak--- AUUWWW!!"

Bantal telak mengenai wajah Shuu, bonus dengan sandal yang dihadiahkan dari Amaar yang baru keluar kamar mandi.

****

YEP, GESS! SOWWY KARENA JARANG UPLOAD! Tapi keknya enggak ada yang baca juga ;-;, but--yeah, it's ok, masih proses. Aku lagi galau nich, mikirin... ehem... bukan crush ye, enggak punya soalnya, aku lagi mikirin kenapa IDE NULIS TUH ENGGAK MUNCUL-MUNCUL WEH!

Apa karena aku yang kerjanya di rumah aja, enggak ada keluar-keluar? Jadi enggak dapat -dapat ide?! 

Nevermind. Btw, aku nambahin sedikit bubuk keromantisan (uhuy) di ceritaku, tapi tipis-tipis aja, soalnya aku orangnya gak romantis, yang ada kalau aku ada ayang nanti, bukannya romantis, yang ada aku ajak gelud >:D (jangan dianggap serius okey). Kalau ada saran boleh kok dibilang ke aku ^^!

Ya sudah, just that. Semoga kalian sehat selalu! DAN BAHAGIA SELALU!!

Cya.

*****

My Annoying BrothersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang