Empat kakak laki-laki tampan, menyebalkan bin gregetan ini selalu membuat adik perempuannya kerepotan karena ke-posesif-an mereka. Sifatnya yang berbeda-beda, sulit ditebak. Pertengkaran selalu menjadi rutinitas wajib mereka.
Pokoknya cerita ini bi...
Bintang kecil~ di langit yang BIRU. Langit itu biru sekali ya, Kids? (sarkas dikit gpp kan?) Vote dulu, sis, bro.
"Maafkan aku..." Shuu menurunkan topinya sedikit.
Aku tertegun. Kemudian, perlahan menghembuskan napas. Aku mengusap wajah, "Tatap aku. Jangan menunduk."
Shuu patah-patah memandangku. "Maaf karena aku sudah egois. Maaf karena aku selalu mengabaikan perasaanmu. Maaf... awal-awal aku cuma iseng aja, tapi aku baru sadar, rupanya aku jadi serius, dan akhirnya kelewatan..." ucap Shuu pelan, "Maaf ya."
Aku memandangnya, aku mengusap rambutku. Beberapa detik berlalu. Yang terdengar hanya rintikan hujan yang baru turun. Klakson mobil. Udara dingin berhembus dengan lumayan kencang.
Akhirnya aku membuka mulutku. Mengucapkan beberapa kalimat, memberinya ceramah, peringatan.
"Oke, paham."
Hening.
"Kita tetap berteman kan?" Shuu bertanya, dia menurunkan topinya sedikit, lalu berbicara pelan, "meski aku masih suka kamu, tapi kita tetap teman saja."
"Of course, my bro," aku menepuk bahunya. Mengangkat tanganku, mengajaknya untuk high-five. "Kita tetap teman."
Aku mengusap wajah, menarik tanganku lagi, lalu tersenyum sinis. "Untung waktu itu aku masih bisa menahan diri. Kalau enggak, kamu pasti sudah dibawa ke ruang ICU," ucapku. "Kalau kamu ulang lagi, liat aja, bukan tinju lagi yang melayang, pisau lipatku yang ambil alih."
"Aku akan menerimanya kalau aku begitu lagi," Shuu mengangguk, dengan raut wajah serius. "Kalaupun aku begitu lagi, itu hanya sebatas candaan. Enggak serius. Kalau kamu enggak nyaman, tendang saja."
"Ohoho, setuju," aku mengulurkan tanganku ke depan. Mengajak bersalaman.
Shuu menjabat tanganku. Aku mengguncangkannya dengan lumayan kuat.
"Oke, dengar ini..." ucapku. "Begitu kita berjabatan tangan. Maka, semua permintaanku harus kau turuti," aku tersenyum licik. "Belikan aku bakso besok, saat aku datang ke kantin, sudah harus ada dua mangkok bakso, juga segelas jus. Dan, setiap aku masuk kelas, sudah harus ada dua botol susu di mejaku. Juga roti. Dan dua batang permen dan cokelat. Lalu... lalu..."
"Licik banget sih."
"Bukan licik. Cerdas," ucapku santai. Masih mengguncang-guncangkan tangannya. "Oke, semua itu harus kamu lakukan sampai seminggu."
Aku tahu, Shuu dirawat oleh oom-nya yang kaya raya, jadi aku enggak perlu khawatir uang jajan Shuu berkurang. Meski dia sudah berusaha menyembunyikan fakta soal uang jajannya yang lima lebar uang merah itu, aku tetap tahu. Kalau soal uang jajan murid-murid di sekolah, aku yang paling tahu. Bahkan Lyn yang jago gosip, tahu semua tentang murid-murid di sekolah, dia tidak tahu uang jajan Shu berapa.
"Oke," Shuu balas mengguncangkan tanganku. "Senang berbisnis dengan Anda."
Tanganku melayang indah ke pipinya. Tabokan dashyat itu membuat Shuu melongo, sambil menyentuh pipinya.
"Hah? Hoh? Kenapa?"
"Mukamu ngeselin," ucapku santai. Aku beranjak berdiri, mengambil cemilan-cemilan yang masih tersisa, lalu memasukkannya ke saku jaketku. Sampah-sampah kubuang, lalu aku berbalik. "Adios! Besok jangan lupa bakso, roti, dan susunya."
****
Saat ini aku sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Agar lebih cepat sampai, aku lewat gang sepi. Aku tahu di sana banyak kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan, tapi, aku lagi mau pulang cepat. Kalau ada yang ngehalangin, beri pelajaran aja.
Aku berjingkrak-jingkrak, sambil memakan roti yang kuambil dari saku jaketku.
"Hai, nona kecil..."
Tcih, orang lagi santai, malah dihalang preman-preman sialan. Terus, enggak bisa kah yang datang satu aja? Aku lagi enggak ada duit untuk beli nasi kotak, juga batu nisan.
Jumlah preman di hadapanku ini, mungkin ada 6?
"Diam di sana, dan ikut kami. Sebelum kami gunakan kekerasan," ucap orang yang paling depan. Kurasa dia bosnya.
"Nyenyenye," ucapku dengan nada meledek, aku mengunyah roti dengan santainya.
"HEH! Apa kau tuli? Apa kau mau kami menyerangmu sekarang juga?"
"Wiiih, rotinya enak banget, coklatnya meleeer," ucapku dengan sikap seolah-olah tidak ada orang di dekatku.
"Heh, Bocah. Ikut kami sekarang. Jangan buang-buang waktu. Atau kami akan membawamu secara paksa. Kau tahu, kau kalah jumlah," ucap orang yang paling belakang. Mukanya terlihat seperti orang dongo, aku jadi benci liatnya.
Aku melempar bungkusan roti ke tong sampah. Lalu memandang mereka, tersenyum sinis. "Aku jadi merasa terhormat kalian datang dengan jumlah lebih banyak."
"APA MAKSUDMU, HAH?! Jelas-jelas kau akan sekarat kalau kami hajar sekarang," ucap seseorang yang berdiri di sebelah bosnya.
"Yaudah, sih, hajar aja," aku mengangkat bahu. "Tapi, sepuluh menit atau lima menit saja ya? Aku mau pulang cepat. Nanti diomeli Bang Rezi."
"Cepat! Atau kami akan dipukuli oleh Tuan Besar," ucap si bos yang rupanya masih punya bos.
Aku mengangkat bahu, "Tingali aing. Aing peduli teu (Lihat saya. Saya peduli tidak)?"
Si bos menggeram marah. Dia mengangkat tangannya, memberi kode ke anak-anak buahnya untuk menyerangku.
"Jangan sampai anak itu mati. Dia harus di bawa hidup-hidup."
Aku mengeluarkan pisau lipatku. Dua sekaligus.
Aku tertawa senang. "AKHIRNYA! Sudah lama aku tidak mengalami ini lagi!"
****
VOTE GAK?! Kalau gak mau, gpp sih, hehehehe.
Mon maap kalau ceritanya makin gaje. Dan, soal Icha yang tertawa senang pas lagi mau bertarung itu, tolong diwajari, Sodara-sodara. Soalnya Icha itu kan ada jiwa psikopatnya :), kayak author.
Baru-baru ini, aku lagi males nulis gess. Gak ada ide. Dan juga baru-baru ini, author sering linglung. Enggak tahu kenapa.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Oke dah. See u :) Muaach.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.