Bab 63

26 10 0
                                        

Ya, sudah lama Icha mengalami gangguan bipolar.

Sejak kejadian rusaknya keluarga itu. Sifat Icha berubah drastis. Dari yang ceria, selalu penuh semangat, manja, berubah menjadi, dingin, kadang terlihat tidak bersemangat, seperti orang lain. Bahkan, Icha pernah sampai nyaris membunuh orang, untung saja berhasil dikendalikan. Dari beberapa kejadian, akhirnya keempat abangnya menyimpulkan, bahwa Icha mengalami gangguan bipolar.

Sifat Icha yang ceria dan manjanya sudah lama tidak muncul, sampai bertahun-tahun lamanya dia begitu. Hal itu membuat abang-abangnya merasa AGAK kangen dengan sifat adeknya yang dulu. Manja, selalu ceria, penuh semangat, tertawa dengan raut wajah berseri-seri. Sedangkan sekarang? Wajah dingin, tatapan tajam, tidak ada lagi tawa dengan wajah cerianya.

Juga, hal yang membuat mereka semakin sedih. Adalah, Icha yang semakin menjauh dari mereka. Icha yang dulu selalu bercerita apa saja yang dia alami di sekolahnya, sekarang? Alih-alih bercerita dengan ceria, yang ada, lontaran kalimat yang dingin dan menusuk. Apalagi Icha sering pura-pura tidak mengenal dengan mereka. Seolah abang-abangnya itu nyamuk.

(Author: Akan kurubah kalian jadi nyamuk beneran hohoho (*PLAK, ditampol empat kembar itu, yang kayak punya dendam kesumat dengan author)

*

"Turunin gak, Alfarezi Aldebaran."

Alfarezi tak menjawab, mengabaikan nadaku yang mulai berubah. Dia terus menggendongku ala karung, menuruni tangga

"ANJING! TURUNIN GUA, -SAT!! Gua bukan karung yang bisa seenaknya lu gendong-gendong!" ucapku. "Turun!!"

"'Abang'," tegur Alfarezi.

"ABAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAANG! TURUN!!!" Aku berteriak sekencang-kencangnya.

Alfarezi menggeleng-gelengkan kepalanya. Untung telinganya sudah terbiasa dengan teriakan si bungsu, jadi tidak pekak. Kuakui, suaraku saat ini kencangnya minta ampun tapi tak bisa diampuni. Dulu waktu bayi, suaraku kecil, malu-malu babi, gedenya, jangan harap telinga kalian baik-baik saja.

(Author: meski suara Lyn tetap nomor satu sih)

Aku meninju-ninju dada Alfarezi, "TURUNIN KAGAK?!!"

Dih, kalau gini mah, harus pakai cara terakhir. Dengan raut wajah 'terpaksa', aku membuka mulutku lebar-lebar, menggigit perut Alfarezi. Ya, aku bisa mengigit perutnya dikarenakan posisiku ini. Emang kurang ajar abangku yang satu ini, gendong adeknya kagak bener. Masa kepalaku sampai nyaris menyentuh lantai. Intinya, abangku cuma megangin lututku! Gimana gak kesel?!

TUK! Eh, anjir? Gua lagi gigit perut apa batu? Keras amat? Alfarezi mengomsumsi batu apa begimana?

Aku mendongak sedikit, menatap Alfarezi yang hanya balas memandangku dengan smirk tipisnya.

"Kok bisa?"

Alfarezi menyingkapkan sedikit kaosnya, memperlihatkan buku yang sudah dia ikatkan ke sekitar perutnya. Dia jelas tahu resiko menggendong adeknya sembarangan begini, jadilah dia siap-siap dulu dengan 'armor-nya'.

(Author tengah membayangkan, sixpack yang ada dibalik buku itu...)

Aku mengacungkan jari tengah ke arah Abyaaz, Amaar, dan Asheer yang sedari tadi menahan tawa melihat posisiku yang bisa dibilang sangat 'MENYENANGKAN'.

"Katanya mau keluar kamar, nah, ini sudah Abang keluarin dari kamar," ucap Alfarezi santai. Dia mendudukkanku ke atas sofa.

Aku langsung meraih remote, menyalakan TV.

"LAH, CHA! Gua mau main PS!!" Asheer langsung protes.

"Bacot lu," jawabku datar. "Main di atas aja sono."

"Abang maunya ama kamu, Dek."

"Dih, nasib punya abang jomblo, cuma bisa nempel ama adeknya," ucapku ketus.

"Lah, macam situ enggak jomblo. Lagian, kan sudah Alfarezi udah bilang, enggak boleh pacaran. Kalau mau pacaran, nikah dulu."

"Nyenyenye. Yang penting gua kayaknya udah laku."

Asheer duduk di sebelahku, "Jangan salaah! Abangmu ini banyak fans-nya. Tinggal pilih-pilih aj- HAH?!! LU DAH LAKU!?!"

Amaar dan Abyaaz juga sampai terlompat mendengar kalimatku barusan. Aku hanya sibuk menekan-nekan tombol remote TV. Aku menyeringai begitu sudah menemukan anime yang kucari.

"EH, CHA!! LU BILANG APA TADI?! Lu, lu pacaran?!" Abyaaz melompat ke sofa yang sama.

"Kagak," jawabku santai. Senang membuat mereka kebingungan.

"CHACHA! Bilang gak?"

"Gak."

"Atau lu udah tunangan!?"

"Kagak, jir," ucapku, mulai jengkel.

"TERUS KENAPA?! LU BILANG LU UDAH LAKU!?" Amaar mengguncang-guncangkan bahuku.

"Iye, maksudnya tuh, ada yang suka gua tahu," akhirnya aku menjawab. "PUAS LU?! Sana pergi. Gua mau nonton."

"Siapa?"

Anjir. Kenapa pula Alfarezi harus mendengar kalimatku barusan?! Aku memandang Alfarezi sekilas, lalu kembali fokus pada tayangan cowok gepeng di layar TV.

"Siapa?"

Dahlah. Pasrah saja. Lagipula, yang dihukum bukan aku, palingan Shuu aja. Apa aku harus cerita kelakuan Shuu kemarin-kemarin ya? Enggak usah deh, nanti Alfarezi tambah ngamuk. Lagi enggak ada duit untuk beli nasi kotak.

"Shuuici Zayn Rylan."

"Shuu?" Abyaaz memastikan.

"Hmm," ucapku datar, mengganti acara TV, lagi agak males nonton JJK. Mending liat berita-berita aja, lumayan, untuk menandingi kemampuan gosip Lyn. Aku meletakkan remote, memandang tayangan di hadapanku. Berita hari ini adalah, kabar bunuh dirinya di salah satu rumah sakit terkenal.

Tunggu.

Mataku terpaku pada seorang wanita yang tertangkap kamera. Aku menelan ludah, wajah itu... serasa familiar.

"Heh, Yaaz," aku menepuk bahu Abyaaz yang sedang sibuk dengan handphonenya.

"Hm?"

Jariku menunjuk ke depan, dengan sengajanya, kutunjuk dengan jari tengah.

"Kau kenal ibu itu gak?"

Abyaaz mengikuti arah jariku.

"Lu kenal kagak? Kok kayaknya, familiar banget," cetusku.

Abyaaz mengangkat sebelah alisnya, "Mana? Kagak kelihatan."

Aku kembali memandang ke arah TV. Bjir, udah hilang orangnya. Aku mendengus. Dahlah, biarin aja.

****

YEP!! VOTE GAK LU?!! Enggak deng becanda, mwehehe. Maaf, author lagi gampang kesel nih. Gak tahu kenapa. Mungkin karena yang vote dikit? Bolehlah divote.

Dahlah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dahlah. Gpp. Gwenchana.

Btw, konfliknya udah deket nih gess. Mwehehe. Paling 20+ chapter udah abis. Atau mungkin 30+. Aku ketar-ketir pas liat total bab yang udah kubuat, 60+. Memang diluar nayla.

Kalau ada saran bilang aja.

Kalau ada hinaan? Boleh. Tapi, lengkapi dengan alamat dan nama, biar author santet :).

Okeh.

Baybay.

My Annoying BrothersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang