✧Bab 45

47 9 1
                                        

Aku melangkah cepat, baru saja selesai shalat dzuhur. Saatnya pulang! Tapi, sebelum aku sempat keluar dari masjid, seseorang memanggilku.

"Icha!"

Aku menoleh. Oh, ternyata Shuu. "Yo, Bro. Mau belajar shalat, ya?" Aku memperlambat langkah agar bisa berjalan bersebelahan dengan Shuu.

Tiba-tiba ada suara lain.

"OI, BOCAH!! Ayo, naik! Cepetan, abang-abangmu sudah datang!!"

Eric.

Aku langsung berlari mendekat. "Bentar, Nyet. Ini si tua bangka, lagi bawa kabar penting."

Eric tampak panik. "Beruntung aku sempat kabur sebelum mereka datang. Kalau tidak, pasti mereka bakal nggebukin aku ramai-ramai."

"Wah, sayang sekali," jawabku santai.

CTAK! Eric menyentil jidatku.

Aku mendelik, tidak membalas. Lalu aku melirik ke arah Shuu. "Heh, Shuu, ikut aja. Aku bisa duduk depan."

"He?"

"Aduh, Bocah, ngapain lagi?"

"Bacot lu, Om. Shuu, cepat naik, Nyet! Malah bengong."

"O-oh, iya, iya."

"Pegangan! Aku bakal ngebut nih!"

"Silakan," jawab Shuu santai. "Kalau bisa, terbang juga boleh. Tapi siap-siapin nyawa lu."

**

Sesampainya di rumah, Eric langsung pergi. Katanya ada urusan mendadak. Tapi aku tahu, dia takut digebukin sama abang-abangku.

BRAK! Aku membuka pintu rumah dan melangkah masuk. "Assalamualaikum!" Aku melepas jaketku. "WOI, ADA ORAN--BEJIR!!"

"ICHAAAAAAAAAAAA!!!!" Ketiga kunyuk itu berlari menghampiriku dan langsung memelukku erat. Alfarezi hanya menonton, menggeleng-gelengkan kepala.

"NASI GORENG!! Apa-apaan lu pada?! REMUK BADAN GUA, ANJI!"

"I MISSS YUUUU!!" Asheer, Abyaaz, dan Amaar berseru.

"Lepasin gak, Nyet! AUWH! AUH! Sakit, woi!!"

Alfarezi menjitak ketiga saudara kembarnya, memberi isyarat untuk melepaskan pelukan mereka. Aku mendelik dan mengacungkan jari manis ke arah mereka, lalu menoleh ke pintu. "SHUU, MASUK!"

"Aseek, gaskeun," Shuu melangkah masuk dengan santai. Lalu melirik ke arah keempat abang-abangku, "Yo, Bang. Ketemu lagi kita."

"KAU! Ngapain ke rumah kami, hah?" Abyaaz melotot.

Sedangkan aku sudah melenggang menaiki tangga dan memasuki kamarku. Aku memeriksa kamarku yang kata Eric dirampok, dan rupanya keadaan kamarku berantakan banget. Seperti kapal pecah. Tapi, tidak ada satupun barang yang hilang. Tidak ada yang rusak juga. Semua aman. Jendela juga. Perampoknya yang bego, atau aku yang terlalu naif? Boleh jadi, ada barang yang penting yang aku lupakan, dia curi. 

"Enggak mungkin sih," ucapku lirih. Aku hafal semua barang-barang di kamarku.

Sepertinya, abang-abangku belum tahu kalau kamarku dibobol. Nanti saja aku beritahu. Aku mau rapikan kamar dulu nih. Hingga lima belas menit berlalu, kamarku sudah rapi. Aku mengganti pakaian dan keluar kamar.

 Aku menuruni tangga dengan terburu-buru. Tapi langkahku terhenti di anak tangga terakhir ketika melihat apa yang terjadi di ruang tengah.

"Kau bayar berapa si Icha itu sampai dia mengizinkanmu datang kemari? Dan, untuk apa?" Asheer dan Amaar menatap Shuu yang berlutut di lantai, sedangkan mereka berempat duduk di atas sofa.

My Annoying BrothersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang