"Makan, Cha."
"Enggak mau."
"Makan, woi," Ika mulai tak sabaran. "Aku sumpal mulutmu pakai sandal nanti."
"Berani?"
"Beranilah, kamu juga lagi lemah gitu, easy peasy lemon squeezy aja untuk ngalahin kamu."
Aku mendengus.
"Masa kamu enggak lapar? Cacing di perutmu belum pada ngedugem?"Ika bertanya random. "Nih, perutku, udah penuh. Kenyang. Abis makan mie goreng. Mau gak mie goreng?"
"Mie rebus."
"Nah gitu dong, bentar, gua suruh abangmu yang buatin," Ika langsung melesat keluar.
Aku beranjak duduk dengan perlahan. Melirik handphoneku yang menyala karena ada notifikasi yang masuk. Chat dari Amuro. Seperti biasa, dia bagaikan ayah dari anak-anak absrud bin/binti random, dia selalu mengkhawatirkan 'anak-anak'nya yang memang pantas dikhawatirkan karena sifatnya yang terlalu random.
DaddyAmuro: Cha
Me: Apa, Dad?
DaddyAmuro: Kamu demam?
Me: Enggak.
DaddyAmuro: Iya.
Me: Tuh, udah tahu
DaddyAmuro: Mau aku bawakan bubur? Sekalian jenguk?
Me: Enggak perlu. Besok aja, abis pulang sekolah. Rame-rame.
Me: Tanpa Shuu tentunya.
DaddyAmuro is typing...
Me: Bilang padanya, aku tidak akan berbicara dengannya lagi kalau dia tidak merubah kelakuannya.
DaddyAmuro: Ya (emoji kucing)
Aku meletakkan handphone-ku. Lalu melirik pintu yang perlahan terbuka, aku memandang Alfarezi yang melangkah masuk dengan tatapan tajam. Aku balas menatapnya, dingin. Padahal, sudah kubilang, kalau abang-abangku tidak boleh masuk ke kamarku dan temui aku. Lalu aku memandang ke orang yang melangkah di belakang Alfarezi. Ika. Dia balas menatapku, memasang cengiran tak bersalahnya.
"Kamu belum mau makan?" tanya Alfarezi datar.
Aku menatapnya dengan tatapan menantang. "Aku sudah bilang aku mau makan."
"Tapi, bukan mie instan!"
"Suka-suka aku lah, yang punya kesehatan aku," balasku.
"Icha!"
"APA?! Lu itu perusak keluarga ini, mending jangan urus-urus aku deh! Ganggu aja!!"
Alfarezi terdiam. Dia memandangku, hendak membalas, tapi tidak ada kata-kata yang keluar.
Wah, pertengkaran saudara!! Bakal seru nih, Ika memandang kami yang sedang saling menatap tajam.
"Ika! Buatkan mie!"
"Siap, Bos!!" Ika langsung hendak berbalik.
"Berhenti, Ka," ucap Alfarezi dingin. Dia melirik Ika dengan tajam.
Yang dilirik menelan ludah. Anjir, apalah artinya aku, hanya babu yang bisa diperintah-perintah oleh majikan-majikan psikopat ini.
"Ika, pergi buatkan."
"Jangan, Ka."
"REJI!!" Aku berseru kencang, "tadi kau menyuruhku makan, dan sekarang aku sudah mau makan. Kau ini minta apa sih sebenarnya?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
My Annoying Brothers
Roman pour AdolescentsEmpat kakak laki-laki tampan, menyebalkan bin gregetan ini selalu membuat adik perempuannya kerepotan karena ke-posesif-an mereka. Sifatnya yang berbeda-beda, sulit ditebak. Pertengkaran selalu menjadi rutinitas wajib mereka. Pokoknya cerita ini bi...
