Test. Satu. Dua. Tiga. Vote, kawandku yang tercyintah. Klo udah, lopyu setinggi mimpi author untuk pergi ke isekai.
FLASHBACK!
***
Beberapa hari berlalu...
"Abang habis dari mana sih? Pulang sekolah babak belur begini," ucap Aisha heran, mengamati Aleena yang sedang mengobati saudara saudara kembarnya.
"Tau ni abangmu, Dek. Berantem mulu kerjanya," ucap Aleena.
"Emang situ kagak?" sergah Amaar, "Lu juga sering berkelahi tuh. Tiap hari, ada aja yang diancam pake cutter. Ada aja yang ditampol, dibanting. Kita sebagai korban-- AW!!" Amaar mengaduh ketika Aleena sengaja menekan luka di lutut Amaar.
Asheer menyengir, "Tuhlah, sudah tahu Aleena galak, masih aja disindir begitu. Meski emang bene--AW!" Lututnya bernasib sama, disentil Aleena tanpa ampun.
Abyaaz dan Alfarezi geleng geleng kepala.
"Abang ngapain sih?" Aisha masih bertanya.
"Adek enggak perlu tahu," ucap Alfarezi datar. "Anak kecil tidak perlu tahu urusan orang dewasa."
"Adek udah dewasa! Enak aja masih anak kecil," sergah Aisha kesal, "buktinya, tadi di sekolah, Adek udah banting 2 orang--"
"Yee, bisa ngebanting orang bukan berarti buka anak kecil tahu," kata Abyaaz. "Nah, sono, Dek, minum cucu."
"Abang bangs--" mulut Aisha dibekap oleh Alfarezi. "Iye iye, Bang. Gomen. Watashi gak bakal ngulangin lagi."
Abang abangnya dan kakaknya hanya bisa geleng geleng kepala mendengar kalimat yang diucapkan Aisha. Adek mereka ini emang wibu. Cuma dia yang wibu di keluarga ini (mungkin?).
"Eh, Bang, Papa sebenarnya ke mana sih? Bukannya Papa udah gak kerja lagi? Kok keluar mulu," tanya Aisha heran. "Papa lagi cari kerja baru ya?"
"Entahlah, Dek," jawab Aleena, tersenyum tipis. Dia memasang perban di lengan Alfarezi. Lalu menepuk lengannya dengan sengaja. Alfarezi melotot. "Hehe, sengaja, Ngab."
"Gimana kalau sore ini kita jalan jalan dulu?" tiba-tiba Amaar berceletuk. "Sudah lama kan kita tidak berjalan berenam saja."
Aisha langsung melompat turun dari kasur, lalu mengangguk cepat dengan penuh semangat. "Ayo, Bang!"
Tapi tidak dengan Alfarezi, dia mendengus, menyandarkan tubuhnya ke dinding. "Kita bersenang-senang, dan meninggalkan Mama?"
"Kan hari ini ada Tante Amira datang, jadi aman, Bang," ucap Aleena. "Lagipula, malah lebih bagus kita jalan sore ini, Papa kan selalu ngamuk kalau ada kita, dan berimbas ke Mama," dia berkata pelan, agar tidak terdengar oleh si bungsu.
"Kakak bilang apa tadi? Kok dipelanin suaranya?" Aisha bertanya.
Abyaaz menyengir, "Kepo."
BRAK! Ditendang ampe kebentur dinding. Gak lah canda. Aisha hanya mendengus kesal, dia memilih meraih-tepatnya merampas-- stik PS yang dipegang Amaar. Sejenak, kamar itu dipenuhi suara teriakan, suara gedebak gedebuk, dan tawa villain anime.
****
"Hati hati di jalan ya, Nak," ucap Mama, tersenyum. "Papa pulangnya malam kayaknya. Untung ada tante kalian ini."
"Woiyadong, aku kan emang selalu datang tepat waktu, hohohoho~" Tante Amira tertawa kencang, alhasil ditoyor sama kakaknya.
Aisha geleng geleng kepala, "Tante ketawa-nya kek kuntilanak."
Amira tersedak air ludahnya sendiri. Melototi Aisha dengan galak. Tapi detik berikutnya malah tertawa santai. "Yaudah, sana. Pergi jalan jalan. Refreshing~, Tante mau main PS sama mama kalean."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Annoying Brothers
Teen FictionEmpat kakak laki-laki tampan, menyebalkan bin gregetan ini selalu membuat adik perempuannya kerepotan karena ke-posesif-an mereka. Sifatnya yang berbeda-beda, sulit ditebak. Pertengkaran selalu menjadi rutinitas wajib mereka. Pokoknya cerita ini bi...
