~Vote dulu, boleh gak siiiih, mwehehe.~
Orang-orang di sekitarku, menatapku. Semua mata tertuju padaku. Aku tersengal-sengal, tanganku mengepal. Kutatap Shuu yang terlihat kaget karena aku meninjunya terlalu mendadak.
"Cha?"
Aku menarik tangan Shuu, membawanya ke belakang sekolah.
"Stop, Shuu. Please," aku berkata dengan suara gemetar menahan amarah. "Stop buntutin aku, stop fotoin aku sembarangan. Tolong, hilangkan kelakuanmu yang buruk itu..."
"Emangnya kamu ada bukti?" Shuu mengusap hidungnya yang mengeluarkan darah segar.
Jangan marah... jangan marah, Cha. Sabar. Setidaknya untuk saat ini. Tahan.
"Buktinya ada di hp-lu, Shuu."
Kali ini Shuu terpaku.
Aku mengepalkan tinjuku. "Shuu, rubah kebiasaanmu. Tolong sadar. Semua yang kamu lakuin tadi, itu gak bener, jahat. Bikin ngeri. Aku lagi berusaha untuk enggak mukul kamu sekarang juga." Aku menggeram, "cukup... cukup, Shuu. Jangan buat aku teringat itu lagi."
"Cha, kamu pernah suka gak sama seseorang?" Shuu bertanya.
"Saking sukanya lu sampai enggak tahu mau ngapain, enggak tahu harus bersikap seperti apa. Saking sukanya, lu sampai enggak mau orang itu dekat sama orang lain," lanjut Shuu. Dia tersenyum lebar, melanjutkan kalimatnya yang membuatku tercengang.
"Aku begini karena aku terlalu suka kamu."
Tahan, Aisha. Tahan.
Tapi, kesabaranku sudah habis. Tanpa banyak bicara, dengan gerakan mendadak, aku mendorong tubuh Shuu hingga dia terbanting ke tanah. Aku bergerak cepat, kutinju wajah Shuu sekali lagi. BUK! BUK! BUK! Berkali-kali. BRAK! Kubanting dia berkali-kali. Bagaikan hujan, hujan tabokan. Aku sudah tidak bisa menahan diri lagi.
"Ichaa! WEI, ICHAA!" Ika dan Lyn tiba-tiba muncul, "Kenapa kalian?! Weh, Amuro!! Mereka gelut!!"
Lah? Batinku. Bukannya Amuro enggak masuk sekolah? Dia bukannya lagi diare? Atau emang anak-anak dikelas Amuro yang berbohong? Aku menoleh, tapi tanganku tak berhenti menumbuki Shuu.
"Icha, jangan gitu," Amuro hendak menghentikan. "Sebenarnya, ada apa?"
"Aku tahu kamu bakal marah juga sama Shuu kalau tahu perbuatan jahat apa yang dia lakukan, Amuro. Tapi, disaat seperti itu, kamu harus tetap sabar, memberi peringatan baik-baik. Tetap jadi Amuro yang penyabar, dan jangan buat kamu harus ikut menghajar orang ini, lu cukup jadi Amuro yang gua kenal! Dan, Shuu ini orangnya harus dikasih peringatan keras, biar kapok. Jadi, jangan halangi aku, biarkan aku memberi pelajaran padanya, sampai dia sadar," ucapku dengan sedikit napas tersengal. Aku kembali memandang Shuu, "Sadar lu!! LU KIRA GUA GABAKAL MARAH SETELAH TAHU KELAKUAN LU?!"
"Lu tuh pinter, genius, tapi setelah tahu sifat lu yang asli, lu tuh aslinya bego abis, goblok, kayak kagak punya otak, enggak kek lakik, no offense, okey," ucapku dingin.
BUK!!!
Amuro mengusap wajahnya,
"SADAR, WOI, -BLOK! Stop being a simp!! LU LAKIK APA KAGAK?! Lu KELEWATAN, tau gak?! Gua kagak peduli lu suka sama gua, tapi gua rasa, lu lebih ke obsesi daripada suka, -Nyet! YANG LU LAKUIN SEMUA ITU, bukan PERHATIAN, itu cuma gangguan bagi gua, lu cuma buat gua gak nyaman tahu gak!?!"
Aku tanpa ampun menaboknya, "Lu pikir, dengan stalking orang, ngikutin dia tanpa dia ketahui, itu bakal bikin lu lebih dihargai? Bakal bikin dia senang? KAGAK, ANJ(PIIP)!! Memang, gua jadi senang. Seneng karena bisa ngehajar elu," ucapku, "Bukannya makin dekat, malah makin jauh, BODOH!!"
KAMU SEDANG MEMBACA
My Annoying Brothers
Teen FictionEmpat kakak laki-laki tampan, menyebalkan bin gregetan ini selalu membuat adik perempuannya kerepotan karena ke-posesif-an mereka. Sifatnya yang berbeda-beda, sulit ditebak. Pertengkaran selalu menjadi rutinitas wajib mereka. Pokoknya cerita ini bi...
