Jumat, 11:00 siang, di rumah sakit.
"GAK MAU!! AKU MAU PULANG!!"
"Dek, tapi..." Amaar mengusap wajah, membujuk.
"Ih, saye cakap, saya nak PULANG! Korang punya telinga tak?" Aku membalas, mendadak jadi orang Melayu.
"Dek... suaranya kecilin, nanti sakit tenggorokan."
"Iya, iya, Abangku," ucapku, memelankan suara, tapi ekspresi-ku tidak berubah. "Tapi, ADEK. Mau. Pulang. Sekarang."
Asheer menyahut, "Gak bisa dong, Dek," lalu dia melanjutkan, "kemarin malem, badan kamu panas banget, mana muntah-muntah, gila kali kami biarin kamu pulang."
"Tapi itu kemarin! Adek mau pulang sekarang, nih liat, sudah segar, udah bisa teriak, bahkan keknya Adek udah bisa salto keliling rumah sakit!" aku membalas cepat, hendak melompat turun dari kasur. Tentu saja untuk menunjukkan apa yang baru saja kukatakan, Kawan-ku.
Alfarezi, Abyaaz, Amaar, dan Asheer, auto berteriak panik. "ADEK!"
Sesaat kemudian, aku merasakan tubuhku terangkat. "WEEEHH!! ABANG!!" Aku berseru kaget, meronta-ronta di gendongan Alfarezi. "LEPASIIIN!! WOI! Lepasin!! Kaki ADEK!! Abang gak inget?! Kaki Adek bejir!! Kalau jatuh gimana?! ABANG MAU KAKI ADEK COPOT?!!"
Dokter yang kebetulan sedang datang memeriksa pasien (maksudku aku), panggil saja Dokter Kiki, dia geleng-geleng kepala melihat kelakuan pasien-nya yang satu ini. Ruang VVIP yang seharusnya tenang, malah berisik, kacau. Aku, si pasien, yang terus berteriak-teriak, merengek, dan abang-abangku yang sibuk membujuk. Btw, aku bisa di ruang VVIP, yah, apalagi kalau bukan karena Afreen, oom-ku yang emang kaya raya itu.
Alfarezi geleng-geleng kepala, "Enggak bakal Abang lepasin. Lasak banget sih."
"Reji, Reji, ringan gak si Adek?" Amaar bertanya, dia tertawa ngakak melihat saudara kembarnya yang tertua terlihat kewalahan karena aku yang terus meronta-ronta, mencakar-cakar. "Bejir, udah kek kucing aja tuh bocil."
"Ringan," jawab Alfarezi singkat. Dia terkekeh.
"Dog! DOG! Aku dah boleh pulang kan, DOG?!"
Dokter Kiki melongo. Menunjuk dirinya sendiri, "Dog?"
"E-eeh, maksudnya Dokter," Abyaaz buru-buru menjelaskan. Dia menyeringai, "Maaf, Dok, Adek saya emang suka ngomong sembarangan, Dok."
"Oooh--"
Aku memotong dengan cepat, "jadi saya udah boleh pulang kan, Dok?" tanyaku, masih dengan gerakan gerakan memberontak di gendongan Alfarezi.
(Emang agak laen ni cewek, kaki lagi gak baek-baek aja, tapi lasaknya minta ampun)
"Belum. Besok lusa," jawab Dokter Kiki. Dia mengusap wajah, berusaha untuk sabar, menghadapi pasien-nya yang kelakuannya di luar ucup. "Kamu ka--"
Kalimat-nya tidak terselesaikan, diakibatkan pintu ruang yang mendadak dibuka. BRAK!! Suara keras membuat aku yang sedari tadi meronta-ronta, langsung berhenti, menoleh ke arah pintu. Begitu juga abang-abangku dan sang dokter.
"MANA CUCU GUA YANG KATANYA SAKIT?! MANA?!!" Terdengar suara kakek-kakek yang membahana.
Anjir, Kakek Ardan, dan... Nenek Thalia! Ngapain mereka ke sini?!! Ah iya, lupa jelasin, Kakek Ardan dan Nenek Thalia ortu-nya Afreen, dan iya, tentu saja ortu-nya mama-ku juga. Pasti mereka datang kemari tidak sendirian, tapi bareng...
"ADEEK!! Anakku sayaaang~" Afreen dan Alaura, istrinya, berlari ke arahku. Namun gerakan mereka dihentikan oleh Kakek Ardan.
"Minggir kelen! Gua dulu!" Kakek Ardan mendelik, meski usianya sudah 60 lebih, dia selalu gak ketinggalan zaman. Kakek-kakek yang selalu memakai bahasa gaul anak zaman sekarang, update terus.
Nenek Thalia, geleng-geleng kepala melihat kelakuan suaminya. Guys, nenek-nenek satu ini, gak ada bedanya dengan Kakek Ardan, bedanya tuh, dia enggak terlalu gaul kek anak sekarang, yah, seperti nenek pada umumnya. Cuma... nenek satu ini, bakal bisa berubah jadi kek anak muda-muda zaman sekarang, dan nenek ini memiliki tenaga yang tidak seperti nenek pada umumnya. Seperti saat ini...
BUK!! Kakek Ardan mengaduh, sambil mengusap bokongnya yang ditendang istrinya. Dia menoleh, meringis begitu melihat delikan galak dari sang istri. Benar sekali, dia termasuk suami takut istri.
"Jangan berisik napa lu," Nenek Thalia melotot, lalu raut wajahnya berubah seratus persen ketika mengalihkan tatapannya kepadaku. Dia tersenyum lembut, merentangkan tangannya.
"Abang! Turunin!" Aku berseru.
Alfarezi menurunkanku dengan hati-hati. "Jangan lari-lari, Cha." Dia membantuku mengambil kruk.
Yah, aku lupa bilang, infusku sudah lepas. Just for information, guys.
Aku melangkah cepat, dan memeluk erat Nenek Thalia. "Neneek!! Adek kangen tauk!! Kenapa udah jarang ke rumah?! Adek gak tahan tinggal bareng abang-abang jelek. Ngomel mulu. Jahil mulu."
"Idih," Asheer mendelik, "gimana enggak ngomel, situ kabur-kabur mulu."
"Gimana gak kabur, masa jalan keluar aja gak boleh!"
"Setidaknya izin dulu napa!" sergah Amaar, tidak terima.
"Kalau gua izin dulu, yang ada lu pada ikut gua! Ngikutin udah kek anak ayam ngestalk ibunya!" aku mendengus.
"Aisha, kalimatnya," tegur Alfarezi datar. "Duduk aja deh, Dek. Kruk-nya jatuh kan."
Aku tidak mengindahkan, lebih memilih 'bermanja-manja' dengan Nenek Thalia.
Beberapa menit berlalu, aku sudah asyik bercengkrama dengan keluarga yang sedang datang menjenguk. Aku duduk di ranjang pasien, menikmati buah-buahan yang dibawakan Alaura, tanteku. Abang-abangku duduk di sofa, sedangkan Afreen, Alaura, Kakek Ardan, dan Nenek Thalia duduk di bangku yang ada di sebelah ranjangku.
"Adek udah gede ya?" Kakek Ardan tersenyum, mengacak-acak rambutku dengan gemas. "Udah berubah juga."
"Yaiyalah, udah berubah, orang udah gede. Gimana sik, Yah," cetus Afreen. Detik berikutnya dia mengaduh karena sandal-- yang entah dapat darimana-- yang dilempar oleh ayahnya. "Idih, ngamuk, udah tua, jangan keseringan ngamuk mulu."
BUK!! Satu sandal lagi, Kakek Ardan melototi anak keduanya dengan galak.
"Baperan," gerutu Afreen.
"Lagian, Om, udah tahu Kakek itu siluman godzilla, masih aja diajak gelud," celetuk Amaar. Sebagai hadiahnya, Kakek Ardan menjewer telinga Amaar. "AWW!! Ampun, KEK! Ampuun!!"
Aku mengangkat tangan, tersenyum lebar. Sengaja diimut-imutkan. "Adek hari ini boleh pulang gak?" Yeah, jujur, aku enggak suka sok imut gini, bejir. Tapi enggak apa-apa, cuma sesekali, nanti kan bisa bar-bar lagi.
"Iya, boleh," Nenek Thalia mengusap rambutku.
"GAK!" Keempat abangku langsung menyergah. "Adek masih demam, belum boleh pul--"
"APA SIK!" Keluarlah jiwa bar-barku, bodo amat sama pencitraanku. Kupelototi keempat abangku, "Pokoknya Adek mau pulang!! Asal kalian tau ya, di rumah sakit tuh gak enak, makannya bubur melulu, dicek melulu. Mending di rumah!"
"Gapapa kali Adek pulang," kata Alaura, "kan bisa dirawat di rumah, enggak harus di rumah sakit."
Aku mengangguk cepat, tersenyum lebar penuh kemenangan ke arah abang-abangku yang terlihat ingin protes.
"Oke," akhirnya Alfarezi menjawab.
"YEYYY!!" Aku hendak melompat.
"WOE, ADEK!!!"
****
KAMU SEDANG MEMBACA
My Annoying Brothers
Teen FictionEmpat kakak laki-laki tampan, menyebalkan bin gregetan ini selalu membuat adik perempuannya kerepotan karena ke-posesif-an mereka. Sifatnya yang berbeda-beda, sulit ditebak. Pertengkaran selalu menjadi rutinitas wajib mereka. Pokoknya cerita ini bi...
