Jimin lari tunggang langgang saat jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul delapan lebih tiga puluh menit , waktu yang bisa di katakan terlambat untuk seorang pekerja kantoran. Sialnya dia harus berhadapan dengan bos yang dingin dan ketus dan seumur hidup itu hal yang paling di hindari oleh Jimin.
Brakkk ....
Nafas Jimin tersengal sengal , lima menit waktu yang di butuhkan Jimin dari lantai satu sampai sembilan tepat dimana ruangan bos nya berada.
" Tiga puluh lima menit."
" M-maaf sajangnim , aku bangun terlambat."
" Kamu pikir saya peduli? Gaji kamu saya potong."
" Sajangnim , jangan di potong. Aku belum bayar rumah sewa." Mohon Jimin.
" Saya tidak pernah peduli."
Jimin menggerutu kesal dalam hati , ingin sekali dia mencakar bos nya yang menyebalkan itu.
" Kembali ke meja kerja mu , jam makan siang nanti kita ada meeting."
" B-baik sajangnim." Jimin keluar ruangan dengan lesu , namun tampak sang atasan menyunggingkan senyumnya.
" Jimin , kenapa ?" Tanya seokjin saat berpapasan dengan Jimin.
" Gaji ku di potong sama si gunung es itu."
" Jinjja ?"
" Aku kesiangan bangun jin , mana tadi bus nya lama banget."
" Beneran kelewatan ya si gunung es itu."
🍂
Jimin dan sang atasan telah sampai di tempat yang sudah di janjikan untuk meeting , sebuah restoran mewah terkenal di korea.
" Lain kali jangan terlambat lagi , saya sudah mengundur waktu meeting hari ini. Beruntung pimpinan mereka setuju."
" M-maaf sajangnim."
" Dari dulu kamu tidak pernah berubah." Ucap sang atasan.
Jimin menggerutu dalam hati , kenapa haru mengingat jaman dulu sih.
Lama nya waktu berjalan akhirnya meeting pun selesai , sang atasan berniat mengajak Jimin untuk makan siang terlebih dahulu namun sayang nya Jimin justru sudah duduk makan siang bersama seorang pria.
" Gimana kabar kamu Jimin ? Setelah hari itu kita tidak pernah bertemu lagi."
" Seperti yang kamu lihat , aku sehat baik dan bahagia."
" Syukurlah. Aku berniat menemui mu setelah dari sini tapi ternyata kita di malah di pertemukan di sini. Ini sungguh takdir."
" Hanya kebetulan. Aku sedang menemani atasan ku meeting disini."
" Jimin , aku benar benar minta maaf. Aku tidak bilang jika aku akan pergi ke jepang waktu itu aku tidak sanggup jika harus melihat mu menangis."
" Huhh , tidak perlu minta maaf. Lagi pula aku tidak sepenting itu bagi mu."
" Park Jimin..." Sang atasan mendatangi meja Jimin , menatap sebentar pada pria yang duduk di dekatnya.
" Sudah selesai ? Kita harus kembali ke kantor."
" Sudah sajangnim." Jimin dengan riang berdiri dari tempat duduk nya membungkuk sebentar pada pria yang sedari tadi menemani nya makan , Kim Taehyung.
" Semoga hari mu menyenangkan Taehyung." Ucap Jimin lalu mengikuti sang atasan yang sudah berjalan lebih dulu.
