79.

3.3K 287 15
                                        

"hiks hiks hiks" suara isakan Salma semakin lama semakin terdengar. membuat semua orang panik dan takut.

"sayang kenapa?" tanya Rony sembari menatap mata Salma yang sudah mengeluarkan air matanya.

mereka baru saja tiba di rumah Anggis yang ada di bali, dan saat baru saja keluar dari mobil, Salma menangis menatap sekeliling.

"lo kenapa Sal?" Paul pun turut bertanya.

"Sal" Nabila mengambil tangan Salma dan mengusapnya.

"ayo masuk dulu, biar gua periksa" ucap Edo sembari membuka mobilnya lagi untuk mengambil peralatan prakteknya.

"hiks hiks enggak mauuhh hekh hekh hikss sshhk"

Rony semakin panik "sayang, bilang sama aku ya, apanya yang sakit"

"perutnya? iya? apa kepalanya pusing?" Salma hanya menggeleng dan terus menangis, lalu menarik tangan nya dari genggaman Nabila. juga menatap Rony dengan tatapan musuh.

"Sal, hei. kamu kenapa?"

"hiks hika, akuh ngghak mau lihat warna hitam maaasss" jawab nya sembari mengeraskan suara tangisnya.

"hah?" seketika empat orang di sebelahnya melongo.

"hesskk akuh, akuh ngghak mau lihat rambutv" kamu, itu celana, jam tangan, akuh ngghak mau"

"baju kak Paul, jilbab Nabila, akuh ngghak mau lihat maasshh henghs heskk"

"sayang..."

"jangan pegang pegang" Salma mengubaskan tangan Rony.

dengan susah payah Rony menelan salivanya "t-terus gimana?"

"ya nggak tau, aku nggak mau lihat warna hitam. nggak suka"

"masa semuanya ganti?"

"yaiyalah" kesal Salma.

Rony mendongak, menatap teman temannya, seolah meminta pertolongan.

"Sal, gimana kalau lo tunggu di mobil aja sebentar? siapa tau nanti lo udah mau-"

"oh jadi aku nggak boleh jadi saksi lamaran kak Edo gitu?" Salma menyangkal ucapan Edo dengan cepat "aku nggak boleh ikut ke dalem? aku biang masalah iya?" Edo pun mengunci mulutnya rapat rapat.

"bukan gitu sayang?" Rony mencoba menenangkan.

"kenapa? kamu juga mau nyuruh aku di mobil? tega kamu? biarin aku sendirian di kuar?" cerocos Salma tanpa henti dengan terus menangis.

"yaudahlah, kita ganti aja" ucap Nabila.

"sayang, aku nggak bawa baju lain loh, iya kalau sarung" ucap Paul.

"ada sayang, aku bawain baju kokoh putih buat nanti sholat jumat" jawab Nabila.

"jadi? kita ganti pakai sarung nih?" tanya Edo.

"yaiya, mau gimana lagi? lo mau nyiksa Salma?" ketus Nabila.

"udah ya, kita semua ganti dulu ya" Rony mengusap bahu istrinya.

"hiks ih yah" jawab Salma.

setelah beberapa menit, mereka pun kini menggunakan sarung sebagai bawahan, karena memang sarung akan selalu ada di dalam mobil. dan Nabila, dia rela membungkus bagian kepalanya dengan mukenah.

"rahmbutnyaaah henghss henghh hiks hiks"

"astaga Ron? gimana?" Paul pun semakin ikut bingung"

"s-sayang? apa rambutnya tidak bisa di toleransi?"

"nggak bisa!!"

"yaudah, gua ada nurse cap yang bisa kita pakai" ucap Nabila. perempuan itu berlalu kembali masuk ke dalam mobil dan mengambil barang yang dia maksud.

Muhasabah CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang