Edo mulai memakai jaket nya, kemudian menutup wajahnya dengan masker dan hanya memperlihatkan wajahnya. setelah memakai kacamata hitam nya, Edo pun memakai helm sebagai urutan terkahir.
sebelum keluar dari kosan Diman, Edo berkaca terlebih dahulu, untuk memastikan jika dia tidak di kenali oleh siapapun.
"kali ini gua harus berhasil, bantu Edo yaAllah" ucap Edo dalam hati nya.
langkah tegap nya berjalan keluar dari kosan, dengan harapan dia akan membawa banyak bukti malam ini. dia akan membuat rumah tangga sahabat nya kembali utuh.
dan yang paling penting adalah, mengembalikan kebahagiaan Salma.
*^*^*^*^***^*^*^*^*^*^**^*^*^*^*^*^*^*^*
"Paul kamu hati hati ya" Nabila dan berhadap hadapan, mereka saat ini tengah berada di rumah sakit.
"kamu tenang aja ya, kita pasti berhasil malam ini" ucap Paul penuh dengan keyakinan.
"Paul, apapun resiko nya, kita hadapi ini sama sama ya" iya Nabila.
"aku jagain di sini"
Paul mengangguk, dia mengusap tangan Nabila sekilas sebelum meninggalkan nya. Paul masuk ke dalam ruangan yang banyak sekali menyimpan kabel kabel ruamh sakit.
setelah menelusuri siang tadi, Paul yakin kan jika kali ini dia tidak Salma memutus kabel ruangan Zulfikar.
sembari menunggu Paul, Nabila sedikit mondar mandir kesana kemari, takut jika ada perawat ataupun orang lain yang lewat.
"ayo Pauull cepet" lirih Nabila pada diri nya sendiri.
~brak~ Nabila berjingkat, dia terkejut saat mendengar gebrakan di belakang nya.
"Paul" Nabila menghampiri Paul yang sedang tergeletak di lantai "ya ampun Paul, kamu kenapa?"
"aku nggak apa apa Nab, nggak sengaja ke tendak bangku"
Nabila mengangguk "ayo Paul" Nabila membantu Paul untuk berdiri, lalu mereka bergandengan tangan menuju ruangan Zulfikar yang sudah mati.
"pakai masker nya yang rapat Nab" Paul mwmbantu Nabila membenahi kostumnya.
"kamu masih ingatkan? temapat kamera nya dimana aja?"
"iya aku ingat"
"jangan lupa bergerak seolah kamu laki laki ya Nab saat mengambil kameranya, masukin ke dalam tas. lalu ambil semua bukti yang ada di dalam"
"iya Ul, tapi kalau Zulfikar sudah memindahkan semuanya bagaimana?"
"aku masuk bantu kamu. udah buruan Nab"
Nabila memutar knop pintu ruangan Zulfikar, lalu berjalan seolah olah dia adalah laki laki yang kekar. menuju pada titik titik dimana Edo menjelaskan tempat tempat kamera tersembunyi. mengambil dan menaruhnya ke dalam tas.
setelah semua kamera tersimpan, Nabila menyalakan flash hp nya. lalu dia mencari cari dimana hp dan bukti bukti yang dia lihat beberapa hari yang lalu.
"kok nggak ada"
"apa udah di pindah sama tua bangka itu ya?"
"haduhh dimana dia nyimpen nya"
Nabila terus mengorek ngorek laci meja Zulfikar, mwmbuka map map yang berada di dalam sana. dan membuka hampir semua barang yang ada di dalam.
"brankas" tebak Nabila.
dia berjalan ke araj brankas, lalu menghembuskan nafas nya pelan.
"apa ya pin nya"
