dua minggu berlalu. semua berjalan sesuai dengan ucapan Zulfikar pada Bunga. Paul, Nabila, dan juga Edo yang super sibuk di buat oleh Zulfikar. mau tak mau, mereka hanya menanyakan kabar Salma lewat whatsapp tanpa pernah menjumpai nya lagi.
di sisi lain, Salma sedang berada di rumah Santi. selama dua minggu ini, Salma tidak pernah meninggalkan ibu mertua nya sekali pun. sebernarnya Salma ingin sekali mengunjungi Rony, tapi dalam pesan nya Rony melarang Salma untuk menemui nya di bandung.
"Sal" panggil Santi yang sudah mulai kepanasan.
"iya ma" Salma mematikan selang air yang di gunakan untuk menyiram tanaman, kemudian menuju pada ibu mertua nya.
"mama mau masuk aja"
"iya, sini ma" Salma membantu Santi masuk ke dalam rumah, lalu mendudukkan Santi di depan televisi.
"aku ambilin lotion mama ya, biar makin lembab kulit nya"
"iya"
setelah beberapa menit akhir nya Salma kembali dengan memebawa sebotol lotion di tangan nya. dia duduk di karpet bawah dan menselonjorkan kaki nya.
"permisi ma" ucap Salma saat mengambil kaki Santi yang sebelah kiri. dengan snagat telaten, Salma mengusap ucap kaki itu dengan lembut.
"aku nggak pernah tau rasa nya berbakti sama orang tua. karena saat mereka meninggal, aku masih berada di umur yang terbilang kecil ma. yang ada dalam pikiran ku saat itu hanyalah bermain, dan bagaimana cara nya agar aku senang bersama teman teman" setelah mengatakan ini, Salma mendongak menatap mata ibu mertua nya.
"izinkan Salma berbakti sama mama ya, karena cuma mama orang tua Salma yang paling dekat saat ini"
mendengengar ucapan Salma membuat hati Santi sedikit bergetar. mata nya terus beradu tatap dengan mata tulus milik Salma.
Santi tau, banyak sekali kesakitan yang ada dalam hati dan pikiran Salma. tapi perempuan itu selalu bisa menyembunyikan nya dalam senyuman.
"ma, Salma tau jika Salma nggak sempurna. tapi tolong beri kesempatan buat Salma sedikit lebih lama lagi ya ma. Salma janji, Salma akan terus berusaha"
setelah sepersekian detik akhir nya Santi mengangguk sebagai jawaban dari permintaan Salma.
"mama kangen sama mas Rony nggak?"
"aku kangeeeen banget sama anak mama itu, yang manja, narsis, pede, dewasa, bijaksana dan nyaris sempurna. harus nya dia pulang hari ini ma, tapi masih belum juga ada kabar. mama sudah sbagat berhasil mendidik dia ma" jeda Salma sejenak lalu kembali menatap Santi "anak laki laki mama itu, berhasil menjadi nahkoda dalam bahtera rumah tangga nya dengan Salma. anak mama berhasil menjadi ayah, sahabat, teman, dan juga pelindung buat Salma. laki laki yang sholeh, telah keluar dari rahim mama, dan menjadi suami Salma saat dia sudah dewasa. ma, terimakasih ya, sudah melahirkan serta menjadikan mas Rony sesempurna itu"
"ma, Salma tidak akan pernah merebut mas Rony dari mama. sampai kapan pun, suami Salma akan tetap menjadi milik mama. dan surga nya, selalu ada di telapak kaki mama. tapi ma, izinkan Salma ikut serta dalam mendoakan nya ya, izinkan Salma memiliki surga seperti yang mama punya"
"mas Rony, milik mama....dan juga Salma" tanpa terasa tangan Santi terangkat, dia mengusap puncak kepala Salma dengan sangat lembut. meski tanpa berekspresi, Santi tetap memiliki rasa empati. memanusiakan manusia, sesekali terbesit dalam hati nya.
^*^*^*^^^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^**
"mmghhh" dengkuran lirih dari laki laki yang baru saja membuka mata nya. menyadari dia sedang berada di rumah sakit, akhir nya dia pun berusaha membangkitkan tubuh nya.
